Konten dari Pengguna

Telaga Merdada : Jejak Sejarah di Balik Danau Sunyi Dieng

Intan Rosyana

Intan Rosyana

Mahasiswi Ilmu Komunikasi UMY

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Intan Rosyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banjarnegara – Kabut tipis perlahan bergeser saat pagi menyapa dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Di antara hamparan perbukitan dan ladang milik warga, terbentang sebuah telaga luas yang airnya tampak tenang, memantulkan langit pucat khas pegunungan.

Tempat itu dikenal sebagai Telaga Merdada, salah satu telaga terbesar di kawasan Dieng yang menyimpan pesona alami sekaligus ketenangan yang jarang ditemukan di destinasi wisata ramai.

Sumber : Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Berbeda dengan telaga lain yang memiliki mata air abadi, Merdada adalah "telaga tadah hujan" yaitu sebuah wadah raksasa yang setia menanti tetesan dari langit untuk menghidupi ribuan jiwa di sekitarnya.

Berada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Telaga Merdada menawarkan suasana berbeda dibandingkan objek wisata populer lainnya di Dieng. Tidak ada hiruk-pikuk wahana atau deretan bangunan komersial. Yang tersaji hanyalah alam apa adanya: udara sejuk, bentang air luas, dan lanskap hijau yang memanjakan mata.

Jejak Pewayangan di Tepian Telaga

Menyisir tepian Merdada bukan hanya soal menikmati pemandangan, tapi juga menyelami memori kolektif masyarakat Dieng. Bapak Irhamto mengisahkan bagaimana telaga ini dipercaya sebagai saksi bisu kehancuran keluarga Resi Gautama. Alkisah, perebutan pusaka Cupumanik Astagina berakhir tragis di danau ini; Sugriwa, Subali, dan Dewi Anjani yang kalap menceburkan diri hingga wujud mereka berubah menjadi kera.

Dari sanalah asal-usul nama "Merdada" muncul sebuah istilah Sanskerta yang berarti jatuh menegaskan kedudukan telaga ini sebagai tempat istimewa yang menghubungkan mitos masa lalu dengan realitas kehidupan warga saat ini.

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Nadi Kehidupan di Atas Ketinggian

Bagi masyarakat Dieng, Telaga Merdada bukan sekadar tempat dengan pemandangan indah. Bapak Irhamto menjelaskan bahwa telaga seluas 20 hektar ini adalah tumpuan berbagai kepentingan hidup. "Masyarakat di sini memanfaatkan telaga untuk berbagai aktivitas, mulai dari pengairan sawah, perikanan, hingga pariwisata," ungkapnya.

Di tengah ladang-ladang yang mengepung lereng bukit, air Merdada menjadi satu-satunya harapan saat musim kemarau tiba. Meski debit airnya menyusut drastis karena hanya mengandalkan tadah hujan, warga tetap menggantungkan nasib pertanian dan kebutuhan air minum mereka pada sisa-sisa air di cekungan purba ini. Tanpa genangan air di Merdada, aktivitas para petani kentang, pemancing ikan, hingga geliat wisata perahu akan terhenti, membiarkan sendi-sendi ekonomi warga menjadi sunyi dan kering kerontang.

Wisata Tersembunyi yang Tidak Ramai

Berbeda dengan Telaga Warna atau Kawah Sikidang yang selalu padat wisatawan, Telaga Merdada justru berada sedikit di luar jalur utama pariwisata Dieng. Letaknya yang tersembunyi membuat telaga ini jarang dikunjungi, namun justru di situlah letak pesonanya.

Kedekatan telaga dengan kehidupan warga menciptakan hubungan yang harmonis antara alam dan manusia. Wisatawan yang datang tidak hanya disuguhi pemandangan alam, tetapi juga menyaksikan langsung aktivitas pertanian yang berlangsung setiap hari.

Di tengah wisata yang semakin ramai dan serba cepat, Telaga Merdada mengajarkan bahwa keindahan tak selalu tentang keramaian, melainkan tentang bagaimana alam dan manusia saling menjaga.

Intan Rosyana N.A, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta