Mengapa Cancel Culture Sulit Diterapkan di Indonesia?

Fakultas ilmu Komputer Universitas Santo Thomas Medan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rovindo Chanel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akhir-akhir ini, istilah cancel culture semakin sering muncul, terutama di ruang media sosial. Konsep ini merujuk pada tindakan publik untuk menghentikan dukungan terhadap figur tertentu karena dianggap melakukan kesalahan. Namun di Indonesia, penerapannya terasa kurang berjalan secara berkelanjutan.
Salah satu alasannya adalah kuatnya budaya saling memaafkan. Banyak masyarakat lebih memilih memberi ruang untuk perubahan dibanding benar-benar menyingkirkan seseorang. Saat kontroversi terjadi, biasanya publik tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali menerima, terutama jika yang bersangkutan telah menyampaikan permintaan maaf.
Selain itu, perhatian masyarakat mudah bergeser. Isu yang ramai hari ini bisa cepat tenggelam karena muncul topik baru. Hal ini membuat tekanan sosial tidak berlangsung lama, sehingga cancel culture jarang menimbulkan efek jangka panjang.
Faktor lainnya adalah loyalitas penggemar yang kuat. Meski terseret masalah, banyak figur publik tetap mendapat dukungan dari pengikut setianya. Kondisi ini membuat upaya cancel culture menjadi kurang berdampak karena selalu ada pihak yang membela.
Di sisi lain, tidak semua kesalahan pantas berujung pada pemboikotan total. Pendekatan berupa edukasi, kritik yang membangun, serta perubahan sikap sering kali lebih bermakna daripada sekadar menjatuhkan. Jika tidak dilakukan dengan bijak, cancel culture juga berpotensi berubah menjadi persekusi sosial.
Pada akhirnya, sulitnya cancel culture berkembang di Indonesia mencerminkan sikap masyarakat yang lebih mengedepankan toleransi dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Daripada hanya fokus pada hukuman, yang lebih penting adalah membangun kesadaran bersama agar kesalahan dapat menjadi pelajaran dan mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.
