Konten dari Pengguna

Pengaruh Kenaikan BBM terhadap Inflasi Kota Sorong Bulan September 2022

Roy Wondo Driyono

Roy Wondo Driyono

ASN pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sorong

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Roy Wondo Driyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sember foto:Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sember foto:Pexels

Tepat sebulan yang lalu lebih tepatnya tanggal 03 September 2022 Pemerintah secara resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Pemerintah dengan sangat terpaksa memilih opsi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak, namun tidak juga merupakan imbas dari kenaikan BBM tersebut dengan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Subsidi BBM.

Permasalahannya adalah tidak hanya berhenti pada penyaluran BBM saja melainkan bagaimana pemerintah bersikap terhadap kenaikan harga barang dalam semua komoditas barang dan jasa, yang mana hal ini sangat menyentuh langsung kepada masyarakat, dari sayur mayur hingga urusan komoditas rumah tangga.

Sebagai kota yang dikenal dengan Kota Minyak dimana jumlah penduduk pada tahun 2021 sebanyak 118.6779 jiwa pun turut sangat merasakan dampak dari kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak, hal ini dapat dilihat dari beberapa kenaikan yang merupakan efek dari ekor jas kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak.

Dari data Badan Pusat Statistik Kota Sorong sebagaimana yang dirilis pada tanggal 03 Oktober 2022 tepat sebulan saat kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) diberlakukan, dimana Kota Sorong mengalami Inflasi sebesar 1.49% pada bulan september. Dimana Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada beberapa kelompok pengeluaran yaitu kelompok makanan minuman dan tembakau sebesar 0,33 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,43 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,37 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,99 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,52 persen; kelompok transportasi sebesar 8,86 persen; kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,23 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,43 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,04 persen.

Dimana jika dibandingkan dengan Years of Years (YoY) pada tahun sebelumnya pada bulan September yaitu Inflasi dengan 4.93%, jika dilihat dari data diatas kelompok yang paling banyak menyumbang inflasi adalah kelompok transportasi yaitu sebesar 8,86% mengalami kenaikan yang mana pada bulan Agustus 2022 kelompok transportasi ini menyumbang inflasi sebesar 5.52%. lalu kelompok yang mendominasi terhadap Inflasi adalah kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1.43% hal ini mengalami kenaikan pada bulan Agustus 2022, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0.72%, kemudian untuk kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,99 persen dibanding dengan bulan September 2022 kelompok ini menyumbang 0.10, kelompok kesehatan sebesar 0,52 persen dibandingkan dengan bulan Agustus 2022 yang tidak mengalami perubahan indeks, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,37 persen dimana mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2022 sebesar 0.18, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,23 persen; bila dibandingkan bulan Agustus 2022 sebesar 0.95 persen mengalami penurunan.

Jika diteliti perbandingannya dalam perbandingan bulan Agustus dan September 2022 dimana pada sebagian besar kelompok Perkembangan Indeks Harga Konsumen di Kota Sorong, pada bulan September 2022 kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak berdampak pada perubahan Indeks Harga Konsumen yang memang sudah dapat diprediksi sebelumnya akan terjadi kenaikan harga akibat dari kebijakan Pemerintah ini.

Dalam Negara Berkembang seperti Negara kita Indonesia terlebih pada Kota Sorong yang mana kita kenal dengan Kota Jasa Inflasi seperti sekarang ini tidak bisa kita hindari sebagai konsekuensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin bagus, memasuki kuartal kedua saja Ekonomi Indonesia berada pada angka 5.4 persen, sungguh hal yang menggembirakan bagi pelaku ekonomi.

Inflasi Kota Sorong sebesar 1.49% memang jika dibandingkan dengan asumsi APBN 2022 yaitu sebesar 3% dari skala nasional masih jauh dibawah aman untuk negara berkembang seperti Indonesia ini namun sejatinya kita tidak boleh lengah terhadap semakin tingginya Inflasi ini, perlu beberapa tindakan yang nyata untuk mencegah terjadinya Inflasi, seperti Kegiatan nyata yang dilakukan oleh Penjabat Gubernur Papua Barat dalam kegiatan yang dilakukan pada Rapat Kerja Walikota/Bupati Se Papua Barat dengan menanam bibit Rica sebanyak 1000 pohon, dan Pemerintah Kabupaten Sorong menyediakan lahan sebesar 2.500 hektar khusus untuk menanam komoditas ini, hal ini sesuai dengan Instruksi Presiden.

Langkah ini amatlah penting untuk mencegah Inflasi dari segi komoditas pangan yang mana pada beberapa tahun terakhir komoditas ini memegang pengaruh penting terhadap pertumbuhan Inflasi daerah maupun nasional.