Konten dari Pengguna

Garam Madura: Dari Konsumsi Hingga Potensi Ekonomi Berkelanjutan

Nurus Syamsi

Nurus Syamsi

Aktivis Politik dan Demokrasi, Pengurus Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Jawa Timur Periode 2021-2023 & Periode 2024-2026. Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Provinsi Jawa Timur Periode 2021-2025.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurus Syamsi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Garam Madura: Dari Konsumsi Hingga Potensi Ekonomi Berkelanjutan. Sumber: ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Garam Madura: Dari Konsumsi Hingga Potensi Ekonomi Berkelanjutan. Sumber: ChatGPT

Pulau Madura menyumbang sekitar 30% lahan tambak garam nasional (BPS 2023), menjadikannya salah satu sentra produksi garam utama di Indonesia . Namun, hanya sekitar 25% dari produksi garam rakyat yang memenuhi standar industri (NaCl ≥ 97%).

Selama ini, pembahasan garam Madura sering hanya terbatas pada kualitas industri, padahal potensinya jauh lebih luas. Mulai dari garam konsumsi berkualitas premium, garam kesehatan, hingga produk turunan bernilai tambah tinggi.

Dengan pengelolaan yang tepat, produksi garam Madura tidak hanya bisa mengurangi impor, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi berbasis kelautan yang berkelanjutan. Karena potensi garam Madura melampaui sekadar garam industri.

Garam krosok Madura memiliki kadar NaCl sekitar 85–94%, namun dengan penerapan teknologi seperti geomembrane dan brine washing, kemurniannya dapat ditingkatkan hingga 97,5%, setara dengan garam meja premium.

Selain itu, mengingat tren konsumsi produk pangan premium yang terus meningkat. Garam Madura, memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi Garam gourmet (seperti flaky salt atau smoked salt).

Tak hanya itu, kandungan mineral alami seperti magnesium dan kalium dalam garam Madura dapat dimanfaatkan untuk produk kesehatan, seperti garam rendah sodium yang sangat bermanfaat bagi penderita hipertensi.

Di sisi lain, pemanfaatan garam untuk industri kosmetik alami masih terbuka lebar, mengingat kebutuhan akan produk perawatan tubuh berbahan alami semakin meningkat tentu hal ini juga dapat menjadi salah satu pilihan pengembangan produk garam Madura.

Potensinya juga tak hanya sampai di situ saja, haram dengan kemurnian tinggi seperti Natrium klorida murni (NaCl ≥ 99,5%) dapat digunakan dalam industri farmasi dan pembuatan infus serta bahan baku industri kimia sebagai bahan baku dalam produksi soda kaustik dan klorin.

Akan tetapi, bersamaan dengan semua potensi itu pengelolaan dan pengolahan garam Madura juga memiliki berbagai tantangan dalam pengembangannya. Mulai dari teknologi pemurnian yang masih terbatas berdasar fakta bahwa mayoritas petani masih menggunakan metode tradisional dengan kadar NaCl di bawah 94%.

Untuk mengatasi hal ini, penerapan geomembrane dan teknologi brine washing dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kemurnian garam. Pembangunan pabrik refinery skala kecil juga dapat dilakukan untuk mendukung proses pemurnian garam rakyat.

Bukan hanya minimnya teknologi pemurnian, minimnya diversifikasi produk juga menjadi salah satu tantangan garam Madura. Untuk itu, para petani garam harus dilatih untuk mengolah garam berionisasi dan beryodium. Hal ini dapat sekaligus dilakukan dengan membangun kemitraan bersama industri makanan dan kosmetik untuk pengembangan produk turunan.

Selain itu, sebagaimana produk-produk lain pada umumnya rantai pasok yang tidak efisien juga terkadang menjadi tantangan mendasar. Pembentukan koperasi garam serta integrasi dengan platform e-commerce dapat menjadi solusi untuk memperkuat posisi tawar petani dan memotong rantai distribusi yang panjang serta memperluas jangkauan pasar.

Dengan inovasi teknologi, diversifikasi produk, dan dukungan kebijakan, garam Madura berpotensi menjadi pemasok garam industri nasional, produsen garam premium bernilai tambah tinggi serta penggerak ekonomi lokal berbasis kelautan.