Konten dari Pengguna

Sjahrir, Sang "Otak Proklamasi" yang Dikhianati oleh Sejarah

Nurus Syamsi
Aktivis Politik dan Demokrasi, Pengurus Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Jawa Timur Periode 2021-2023 & Periode 2024-2026. Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Provinsi Jawa Timur Periode 2021-2025.
3 Juni 2025 16:54 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sjahrir, Sang "Otak Proklamasi" yang Dikhianati oleh Sejarah
Pada 1962, Sjahrir ditangkap oleh rezim Soekarno dengan tuduhan terlibat "PRRI/Permesta", meski tidak ada bukti kuat dan akhirnya meninggal pada 1966 di Zurich dalam pengasingan.
Nurus Syamsi
Tulisan dari Nurus Syamsi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi: Sjahrir, Sang "Otak Proklamasi" yang Dikhianati oleh Sejarah. Sumber: ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Sjahrir, Sang "Otak Proklamasi" yang Dikhianati oleh Sejarah. Sumber: ChatGPT
ADVERTISEMENT
Sutan Sjahrir adalah salah satu tokoh paling cerdas dan visioner dalam sejarah Indonesia, namun namanya sering tenggelam oleh narasi besar Soekarno-Hatta. Ia disebut sebagai "Otak Proklamasi" karena perannya yang krusial dalam mempersiapkan kemerdekaan, termasuk mendorong Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
ADVERTISEMENT
Namun, ironisnya, Sjahrir justru menjadi korban dari konflik internal revolusi, diasingkan, dan akhirnya meninggal dalam keadaan yang tragis—seolah dikhianati oleh kawan-kawan seperjuangannya sendiri. Menurut sejarawan Benedict Anderson dalam Java in a Time of Revolution (1972), Sjahrir adalah arsitek di balik gerakan bawah tanah melawan Jepang.
Ia bersama kelompok pemuda seperti Wikana mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan, lepas dari pengaruh Jepang. Sjahrir juga yang merancang taktik diplomasi dengan Belanda melalui Perundingan Linggarjati (1946), meski akhirnya dianggap terlalu kompromis oleh kelompok radikal.
Namun, posisi Sjahrir sebagai Perdana Menteri (1945-1947) justru membuatnya berseberangan dengan kelompok nasionalis radikal dan komunis. Menurut Rudolf Mrázek dalam Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia (1994), Sjahrir percaya pada demokrasi parlementer dan sosialisme moderat, bukan perjuangan bersenjata murni. Ini bertentangan dengan kelompok seperti Tan Malaka dan sayap militer yang menginginkan revolusi total.
ADVERTISEMENT
Pada 1962, Sjahrir ditangkap oleh rezim Soekarno dengan tuduhan terlibat "PRRI/Permesta", meski tidak ada bukti kuat. Ia dipenjara tanpa pengadilan yang fair, kesehatannya memburuk, dan akhirnya meninggal pada 1966 di Zurich dalam pengasingan.
Menurut sejarawan Taufik Abdullah, Sjahrir menjadi korban dari pertarungan politik pasca-revolusi, di mana mantan kawan seperjuangannya (termasuk Soekarno) tidak lagi memberinya ruang.
Ahli politik Herbert Feith dalam The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia (1962) menyebut bahwa kejatuhan Sjahrir adalah awal dari matinya demokrasi liberal di Indonesia. Konsep rasional dan moderat Sjahrir kalah oleh narasi populis dan militeristik yang kemudian mendominasi Orde Lama.
Sjahrir adalah simbol intelektual politik Indonesia yang paling tragis. Ia berjasa besar dalam proklamasi dan diplomasi awal Republik, tetapi dikorbankan dalam pertarungan kekuasaan. Kematiannya mencerminkan bagaimana idealisme sering dikalahkan oleh pragmatisme politik.
ADVERTISEMENT