Konten dari Pengguna

Who Rules the World? Iran-Israel & Hegemoni AS dalam Analisis Noam Chomsky

Nurus Syamsi

Nurus Syamsi

Aktivis Politik dan Demokrasi, Pengurus Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Jawa Timur Periode 2021-2023 & Periode 2024-2026. Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Provinsi Jawa Timur Periode 2021-2025.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurus Syamsi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilsutrasi: Who Rules the World? Iran-Israel & Hegemoni AS dalam Analisis Noam Chomsky. Sumber: ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
ilsutrasi: Who Rules the World? Iran-Israel & Hegemoni AS dalam Analisis Noam Chomsky. Sumber: ChatGPT

Dalam buku "Who Rules the World?", Noam Chomsky secara konsisten membongkar narasi kekuatan global, menyoroti bagaimana kepentingan hegemoni AS membentuk konflik regional. Jika kita menerapkan lensanya pada perang Iran-Irak (1980-1988) dan eskalasi Iran-Israel hari ini, pola-pola yang terabaikan dalam diskursus arus utama akan muncul dengan jelas.

1. Warisan Iran-Irak: Permainan Kekuatan Global

Chomsky berargumen bahwa Perang Iran-Irak bukan sekadar konflik bilateral, melainkan arena yang dimanipulasi kekuatan eksternal. Sambil secara retoris mengutuk Saddam Hussein, AS dan sekutunya secara praktis mendukungnya untuk menyeimbangkan dan melemahkan Iran pasca-revolusi.

Tujuannya? Mencegah dominasi Iran dan mengamankan kontrol atas sumber daya strategis. "Strateginya adalah untuk memastikan tidak ada kekuatan regional yang terlalu kuat yang dapat mengancam dominasi kita," adalah inti argumen Chomsky mengenai intervensi AS. Konflik ini, pada esensinya adalah "perang proksi" besar untuk menguras sumber daya kedua belah pihak.

2. Ancaman Nuklir Iran: Narasi yang Dibentuk

Narasi dominan saat ini berfokus pada program nuklir Iran sebagai ancaman utama bagi perdamaian regional. Namun, Chomsky sering mempertanyakan standar ganda yang diterapkan. Ia mungkin akan mengutip kritik bahwa negara-negara Barat secara aktif menghalangi upaya pembentukan Zona Bebas Senjata Nuklir di Timur Tengah—sebuah proposal yang didukung Iran namun ditentang oleh AS dan Israel.

"Amerika Serikat secara konsisten memblokir upaya untuk menciptakan zona bebas senjata nuklir di Timur Tengah," adalah argumen kuat Chomsky yang menunjukkan hipokrisi dalam menghadapi proliferasi.

Faktanya, laporan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) seperti yang terlihat dari pernyataan Direktur Jenderal Grossi pada Juni 2025, secara konsisten menyatakan bahwa meskipun ada kekhawatiran, Iran memiliki uranium yang "tetap di bawah pengamanan" sesuai perjanjian, dan bahwa "solusi diplomatik dapat dicapai jika ada kemauan politik yang diperlukan."

Kontras dengan narasi media yang seringkali hanya menyoroti pelanggaran Iran tanpa konteks lengkap pengawasan IAEA dan seruan untuk diplomasi.

3. Iran-Israel Hari Ini: Perpanjangan Pola Lama

Chomsky akan melihat konflik Iran-Israel saat ini sebagai perpanjangan dari upaya menjaga hegemoni. Serangan Israel terhadap situs-situs nuklir Iran, seperti yang dilaporkan oleh IISS pada Juni 2025, menciptakan risiko eskalasi yang serius.

Sementara narasi mainstream fokus pada hak Israel untuk membela diri, Chomsky akan menyelaraskan ini dengan pola kekuatan yang lebih luas. Dari sudut pandang Chomsky, dukungan AS yang "tak tergoyahkan" terhadap Israel adalah bagian dari strategi regional yang lebih besar. Israel berfungsi sebagai "aset strategis" untuk menjaga dominasi AS di Timur Tengah.

Polling Brookings Institution menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika lebih memilih negosiasi daripada serangan militer terhadap Iran, bahkan jika Israel melakukan serangan. Ini menyoroti kesenjangan antara kebijakan elit dan opini publik, sebuah tema sentral dalam analisis Chomsky tentang "manufacturing consent."

Dalam pandangan Chomsky, baik perang Iran-Irak maupun konflik Iran-Israel saat ini adalah manifestasi dari pengejaran kekuasaan, kontrol atas sumber daya, dan strategi "pecah belah dan kuasai" oleh kekuatan global. Ancaman nuklir Iran, meskipun nyata, seringkali diperkuat untuk membenarkan intervensi dan mempertahankan hegemoni.

Di balik retorika ancaman dan keamanan, terletak realitas geopolitik yang didorong oleh kepentingan, di mana hukum internasional seringkali diterapkan secara selektif, dan biaya kemanusiaan selalu ditanggung oleh mereka yang paling rentan.