Ketika BBM Pertamax Naik dalam Semalam

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rr Aurora Zabrina Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam semalam, harga Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan lebih dari 30 persen tersebut langsung mengubah perhitungan pengeluaran banyak masyarakat yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk bekerja, belajar, maupun menjalankan usaha. Yang terasa berat bukan hanya besarnya kenaikan, melainkan kenyataan bahwa perubahan itu datang begitu cepat sehingga masyarakat hampir tidak memiliki waktu untuk menyesuaikan diri.
Menurut saya, persoalan utama dari kenaikan Pertamax kali ini bukan semata-mata terletak pada besarnya angka kenaikan harga. Masyarakat pada dasarnya memahami bahwa harga energi dapat berubah mengikuti berbagai kondisi ekonomi. Namun, kenaikan yang mencapai lebih dari 30 persen dalam satu penyesuaian membuat banyak orang tidak memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan pengeluaran mereka. Dalam kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, perubahan yang datang secara mendadak seperti ini berpotensi menambah beban masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah yang tidak menerima subsidi tetapi juga tidak sepenuhnya kebal terhadap kenaikan biaya hidup.
Bagi sebagian orang, perubahan harga mungkin dianggap sebagai konsekuensi dari dinamika pasar energi global. Akan tetapi, bagi masyarakat yang setiap hari bergantung pada kendaraan pribadi, lonjakan harga tersebut berarti bertambahnya pengeluaran yang harus segera ditanggung. Tidak semua orang memiliki ruang yang cukup dalam anggaran bulanannya untuk menghadapi kenaikan biaya transportasi secara mendadak.
Yang menjadi perhatian bukan semata-mata kenaikan harga itu sendiri, melainkan kecepatan perubahan yang harus dihadapi masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak keluarga menyusun pengeluaran berdasarkan pendapatan yang relatif tetap. Ketika salah satu komponen kebutuhan mengalami kenaikan signifikan dalam waktu singkat, penyesuaian tidak selalu mudah dilakukan. Akibatnya, masyarakat harus mengurangi pos pengeluaran lain atau menekan kebutuhan yang sebelumnya dianggap penting.
Kelompok yang paling merasakan kondisi ini adalah masyarakat kelas menengah. Mereka tidak menikmati subsidi seperti pengguna BBM tertentu, tetapi juga bukan kelompok yang mampu mengabaikan kenaikan biaya hidup. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini menghadapi berbagai tekanan ekonomi, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga biaya pendidikan dan transportasi. Kenaikan harga Pertamax menambah daftar pengeluaran yang harus mereka sesuaikan kembali.
Di sisi lain, pemerintah dan perusahaan energi tentu memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan harga BBM. Fluktuasi harga minyak dunia, nilai tukar, hingga biaya distribusi menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Namun, komunikasi yang terbuka dan mudah dipahami tetap menjadi kebutuhan penting. Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi mengenai perubahan harga, tetapi juga penjelasan yang memadai mengenai alasan di balik kebijakan tersebut.
Kenaikan harga Pertamax juga dapat memengaruhi pola konsumsi energi masyarakat. Selisih harga yang semakin lebar dengan BBM yang lebih murah berpotensi mendorong sebagian pengguna untuk mengubah pilihan bahan bakar mereka. Jika hal ini terjadi secara luas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai aspek dalam ekosistem energi nasional.
Peristiwa ini seharusnya menjadi pengingat bahwa kebijakan energi tidak pernah berdampak pada sektor energi semata. Setiap perubahan harga bahan bakar akan bersentuhan langsung dengan aktivitas masyarakat, mulai dari perjalanan menuju tempat kerja hingga biaya distribusi barang dan jasa. Karena itu, aspek keterjangkauan dan kesiapan masyarakat perlu menjadi bagian penting dalam setiap kebijakan yang menyangkut kebutuhan publik.
Kenaikan harga energi mungkin merupakan konsekuensi dari berbagai faktor ekonomi yang tidak selalu dapat dihindari. Namun di balik setiap angka yang diumumkan, terdapat masyarakat yang harus kembali menghitung ulang pengeluarannya dalam waktu singkat. Ketika kenaikan terjadi lebih dari 30 persen dalam satu penyesuaian, yang dipertaruhkan bukan hanya daya beli, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk beradaptasi. Pada akhirnya, yang sering kali terasa paling berat bukan sekadar harga yang lebih mahal, melainkan perubahan yang datang begitu cepat tanpa banyak ruang untuk bersiap.
Raden Roro Aurora Zabrina Septiani Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
