The Definition of a Second Brain

Full Time Father, Part Time Product Manager, Free Time Casual Book Reader. Mostly my stories focusing on enhancing productivity, with a specific focus on personal development, team management and product operations.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Rosidi Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di artikel ini akan sedikit menceritakan the definition of a second brain dari sebuah buku productivity yang beberapa bulan lalu gue baca. Building a Second Brain, The Proven Method to Organize Your Digital Life and Unlock Your Creative Potential merupakan sebuah judul buku terbitan Atria Books yang ditulis oleh seorang Productivity Guru bernama Tiago Forte dan di publikasikan pada 14 Juni 2022.
Sebagai catatan, silakan persiapkan cemilan dan minuman atau bisa sambil dengerin musik favorite karena penjelasannya akan sedikit panjang.
Berpikir Sejenak
Your Mind is For Having Ideas, Not Holding Them. David Allen, author of Getting Things Done
Kutipan di atas gue ambil dari bukunya David Allen yang berjudul Getting Things Done di mana kutipan tersebut mengacu pada konsep bahwa pikiran manusia seharusnya lebih fokus pada proses berpikir kreatif dan menghasilkan ide-ide baru daripada sekadar menyimpan informasi secara langsung.
Pernyataan tersebut mendorong ide bahwa pikiran manusia memiliki potensi besar untuk berkreasi dan berinovasi, dan seharusnya tidak terbebani oleh tugas menyimpan atau mengingat informasi yang sifatnya rutinitas.
David Allen mencoba menanamkan ide kalau kita seharusnya tidak hanya menggunakan pikiran kita sebagai "penyimpan data" pasif, tetapi lebih sebagai alat untuk menghasilkan ide-ide baru, berpikir kreatif dan memecahkan masalah.
Hal ini mungkin merujuk pada pentingnya mengeksplorasi pemikiran kreatif dan berinovasi, serta tidak terlalu terikat pada tugas-tugas administratif atau mengingat detail-detail tertentu.
Saat ini kita berada di era revolusi industri 4.0 menuju era society 5.0 yang ditandai dengan perkembangan luar biasa di bidang teknologi internet. Kita dihadapkan pada jumlah informasi yang sangat besar dan luar biasa melimpah dari berbagai sumber dan dalam berbagai bentuk.
Tentunya banyak dampak positif dari hal tersebut namun salah satu dampak negatif nya, kelebihan informasi ini dapat menjadi suatu beban atau tantangan, yang mungkin membuat kita merasa kewalahan atau sulit untuk mengelola semua informasi yang masuk dan ketidakmampuan kita untuk memproses, menyaring, atau mengatasi jumlah informasi yang begitu besar dapat berdampak pada mental health and productivity.
Mengelola informasi di masa kini menjadi sebuah tantangan tersendiri di mana kita perlu fokus pada informasi yang benar-benar penting dan relevan. Kita perlu mengasah kemampuan untuk mencari cara mengelola informasi dengan lebih efisien, mengembangkan keahlian penyaringan informasi, memprioritaskan, menyederhanakan informasi yang masuk dan tentunya kemampuan untuk memanfaatkan alat bantu teknologi, perlu kita kuasai lebih lanjut.
... indecision and the problem of distraction and the stress and the anxiety and this feeling of procrastination, I think they have a common cause, I think there is this underlying pervasive phenomenon that the information we have to deal with has become inhuman It's far exceeded our capacity as human beings to manage. Tiago Forte - Google Talks
Extended Cognition
Di era modern saat ini, kita menghadapi tuntutan untuk beradaptasi dan mempelajari berbagai objek serta kejadian di sekitar kita, yang melibatkan proses kognitif kompleks. Otak manusia menjadi alat yang sangat diandalkan untuk menjalankan tugas-tugas ini.
Namun, meskipun otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan belajar, kita juga dihadapkan pada kenyataan bahwa otak memiliki keterbatasan dalam menyimpan semua informasi yang diperlukan.
Kognitif adalah istilah yang digunakan para psikolog untuk menjelaskan segala aktivitas mental yang saling berhubungan antara persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi. - Artikel Kumparan
Ketidaksejajaran ini terlihat dalam perbandingan antara evolusi otak manusia dan tuntutan kognitif modern. Struktur dan kapasitas otak manusia masih mirip dengan kondisi 200 ribu tahun yang lalu. Meskipun evolusi membentuk otak untuk bertahan hidup di lingkungan tersebut, tuntutan informasi dan kompleksitas kehidupan modern terus berkembang, melebihi kapasitas dan kecepatan adaptasi otak manusia.
Dalam ilmu kognitif dan filsafat pikiran terdapat sebuah konsep yang menantang ide tradisional bahwa proses kognitif terbatas pada otak. Sebagai gantinya, konsep ini mengusulkan bahwa proses kognitif dapat melampaui batas otak dan melibatkan elemen-elemen dari lingkungan eksternal, konsep tersebut diberi nama Extended Cognition.
Konsep Extended Cognition (Pemikiran yang Diperluas) menyarankan bahwa pikiran atau kognisi tidak hanya terjadi dalam otak tetapi dapat melibatkan interaksi kompleks antara otak dan lingkungan eksternal.
Ide ini pertama kali dikemukakan oleh para filsuf Andy Clark dan David J. Chalmers dalam paper mereka pada tahun 1998 berjudul The Extended Mind. Bisa dibaca di sini atau bisa dilihat rangkuman nya di wikipedia. Annie Murphy Paul juga membahas hal tersebut dalam bukunya The Extended Mind: The Power of Thinking Outside the Brain.
We extend beyond our limits, not by revving our brains like a machine or bulking them up like a muscle. Annie Murphy Paul, author of The Extended Mind
Ok, gue cukupkan dulu penjelasan tentang dasar pemahaman dari istilah second brain. Kalau tertarik, bisa gue bahas lebih lanjut. Sambil rehat sejenak setelah membaca pemaparan, cobalah bertanya pada diri sendiri apakah kalian punya masalah mudah lupa dan susah ingat?
Apakah itu karena kebanyakan mecin atau menyadari kalau otak kita mempunyai batasan memori. Lalu apa yang bisa membantu kalian dalam mengingat banyak hal selain kesalahan orang-orang terdekat di masa lalu (nyindir).
Pernah dengar tentang Prosthetic Devices? prosthetic device atau perangkat prostetik merupakan perangkat buatan yang dirancang untuk menggantikan atau memperluas fungsi tubuh manusia yang hilang atau rusak.
Sebagai contoh, kacamata yang merupakan Prosthetic Devices untuk meningkatkan kemampuan penglihatan kalian yang punya masalah dengan mata, sepatu yang merupakan Prosthetic Devices untuk melindungi kaki dan meningkatkan kemampuan kaki berlari, dan contoh lain adalah jam tangan yang merupakan Prosthetic Devices untuk mengetahui waktu serta meningkatkan persepsi kalian terhadap waktu.
Lalu bagaimana dengan otak kita, apa yang menjadi prosthetic device untuk otak kita dalam membantu meningkatkan kemampuan otak kita? Tiago Forte memperkenalkan istilah Second Brain dalam bukunya Second Brain, The Proven Method to Organize Your Digital Life and Unlock Your Creative Potential.
Definisi
Kalian tidak perlu membayangkan kalau second brain itu sesuatu yang very technological, very advanced, sophisticated, and futuristic yang biasanya ada di film science fiction seperti brain implant. Di dalam bukunya, Tiago Forte menggambarkan sesuatu yang sederhana, sesuatu yang biasa saja yang tidak membutuhkan kemampuan spesial hanya membutuhkan kemampuan membaca dan menulis.
Membuat catatan atau notes menjadi solusi yang di bahas secara mendalam di dalam bukunya. Solusi yang cocok di implementasi di era informasi yang beredar dalam jumlah besar dan luar biasa melimpah dari berbagai sumber dan dalam berbagai bentuk.
But in the meantime, for the problems that we're facing now, today, what I mean is something so simple and so mundane. I'm talking about notes, notes, notetaking, this thing that's existed for hundreds, even thousands of years, this habit that you probably already do all the time that requires no special skill besides reading and writing and no special technology except paper or software, the software that we already have today. Tiago Forte - Podcast
Second brain didefinisikan seperti tempat penyimpanan dari apa yang kamu lihat, kamu dengar dan kamu tulis, yang bisa diandalkan di luar otakmu, semacam alat tepercaya di mana kamu bisa menyimpan informasi penting dalam jangka panjang.
Informasi yang benar-benar berarti buat kamu, yang mau kamu lihat lagi ke depannya, yang kamu mau pikirkan ketika kamu ingin memikirkan nya, yang bersifat pribadi dan unik untuk kamu, entah itu di kertas atau di dalam perangkat lunak. Ini adalah catatan seumur hidup, sebuah arsip dari pembelajaran, penemuan, dan penelitianmu, yang bisa bertahan sepanjang hidupmu untuk kamu belajar dan tumbuh menjadi lebih baik.
Secara sederhana, second brain atau otak kedua merupakan tools untuk menyimpan sebagian memori yang masuk ke otak kita yang bisa kita akses kembali kapan saja kita butuhkan.
Di dalam buku ini membahas lebih lanjut bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi sebagai alat berpikir serta bagaimana distribusikan dan mengorganisasikan informasi ke otak kedua kita.
Ada empat essential capabilities yang dapat kita andalkan atau dijalankan oleh second brain untuk membantu proses kognitif otak kita
Membuat ide-ide kita menjadi lebih concrete
Menemukan keterkaitan atau hubungan baru antara konsep atau gagasan dari informasi atau ide yang sudah didistribusikan dan diorganisasikan ke second brain kita.
Meng-inkubasi ide-ide yang kita buat untuk kelak bisa kita kembangkan lagi ke depannya
Mempertajam perspektif kita terhadap suatu ide atau sebuah informasi yang dapatkan.
CODE Method
Untuk membantu membuat your own second brain, Tiago Forte men-develop sebuah metodologi yang sederhana, metode ini dinamakan CODE yang merupakan singkatan dari Capture, Organize, Distill, Express.
CODE merupakan suatu cara atau sistem yang membantu kita menyusun dan mengelola informasi yang sangat banyak yang kita hadapi setiap hari. Sistem tersebut layaknya sebuah peta atau panduan untuk menghadapi aliran informasi yang tak terbatas dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan dengan metode CODE ini merupakan pendekatan versi modern dari pembuatan catatan pribadi di mana seseorang mencatat berbagai ide, kutipan, atau pemikiran yang dianggap penting atau menarik yang memungkinkan untuk menggunakan teknologi atau alat modern untuk menyimpan, mengelompokkan, dan mengakses informasi dengan lebih efisien.
Capture adalah langkah untuk mengumpulkan atau merekam ide, informasi, atau pemikiran yang muncul. Bisa berupa catatan singkat, gambar, atau referensi dari sumber lain. Ide utamanya adalah menangkap semua yang bernilai tanpa harus segera menyusunnya.
Organize adalah menyusun atau mengatur informasi tersebut, mengelompokkan ide-ide serupa, membuat kategori, atau memberikan penanda (tag) sehingga mudah dicari atau diakses nantinya. Hal ini membantu mempermudah navigasi ketika meng eksplorasi data-data yang kita miliki
Distill merupakan tahap untuk menyederhanakan informasi menjadi bentuk yang lebih ringkas dan mudah dimengerti. Ini bisa berarti mengekstrak inti dari sebuah ide atau merangkum. Distilasi membantu membuat informasi lebih mudah dicerna.
Express merupakan tahap di mana kalian mulai menyatakan atau mengekspresikan ide atau informasi tersebut. Ini bisa dilakukan melalui penulisan, presentasi, atau bentuk ekspresi lainnya. Langkah ini membantu menguatkan pemahaman kalian terhadap materi dan memungkinkan untuk berbagi informasi dengan orang lain.
Ada beberapa bahasan lain yang masih terkait dengan buku Building a Second Brain, The Proven Method to Organize Your Digital Life and Unlock Your Creative Potential. Pembahasannya akan gue publish di artikel lain, tunggu aja ya. Ini beberapa poin yang akan gue bahas di artikel terpisah:
Tiga tipe note takers by Anne-Laure Le Cunff, The architect, The Gardener, The Librarian.
Penjelasan detail tentang CODE beserta tools tools yang cocok untuk digunakan.
PARA Method, metode untuk mengorganisasikan file-file di dalam second brain.
Progressive summarization dan,
Summary dan Key Takeaways dari buku Building a Second Brain.
Terima kasih sudah membaca, silakan comment kalau ada yang perlu ditanggapi dan ditanyakan, like aja kalau kalian suka dengan artikel ini dan support penulis dengan share artikel ini ke teman-teman kalian.
