Konten dari Pengguna

Bukan (lagi) Calon Menantu Idaman

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahman Tanjung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto penulis saat selesai Seminar Aktualisasi Latsar CPNS Karawang Tahun 2021 (Sumber: Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto penulis saat selesai Seminar Aktualisasi Latsar CPNS Karawang Tahun 2021 (Sumber: Dok. Pribadi)

Sudah punya pacar belum?”, “Mau nggak dikenalin sama anak Ibu?” Pertanyaan seperti itu mungkin pernah didengar para CPNS pria saat pertama kali masuk kantor.

Sebagai CPNS baru di awal tahun 2025, saya masih sibuk mengingat nama pegawai dan memahami pekerjaan yang baru ditugaskan. Maklum, waktu itu saya masih bujangan dan baru setahun menyandang gelar sarjana.

Namun, sebelum apel pagi dimulai, beberapa ibu-ibu senior di kantor justru sibuk menanyakan urusan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan. Saya yang baru seminggu menjadi CPNS ternyata sudah masuk radar pencarian calon menantu.

Cerita itu ternyata tidak berhenti di kantor. Ketika pertama kali ditugaskan melakukan sosialisasi program di salah satu kecamatan di Karawang, pertanyaan yang sama kembali muncul. Bukan hanya dari pegawai kecamatan, tetapi juga dari masyarakat yang hadir.

Saat itu saya mulai berpikir, jangan-jangan seragam CPNS punya daya tarik tersendiri. Atau jangan-jangan, menjadi PNS di masa itu memang punya nilai lebih di mata calon mertua.

Pada masa itu, PNS identik dengan pekerjaan yang aman. Ada gaji tetap, jenjang karier, jaminan hari tua, dan status sosial yang cukup baik. Bagi sebagian orang tua, terutama untuk seorang laki-laki yang akan menjadi kepala keluarga, menjadi PNS seperti mendapatkan paket komplet.

Berdasarkan PP Nomor 15 Tahun 1993, gaji pokok PNS Golongan III/a dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp150.200 per bulan. Pada awal 1990-an, harga emas di pasar Jakarta berada pada kisaran Rp22–25 ribu per gram. Artinya, secara kasar, gaji tersebut setara sekitar enam gram emas.

Jadi, ketika orang tua pada masa itu mengatakan, “Kalau dapat jodoh PNS bagus,” mungkin mereka tidak berlebihan. Dalam ukuran zamannya, PNS memang menawarkan sesuatu yang sangat dicari: kepastian. Tidak heran jika status PNS kemudian ikut terbawa ke urusan jodoh.

Sekarang mari kita ke tiga puluh tahun kemudian.

Berdasarkan PP Nomor 5 Tahun 2024, gaji pokok PNS Golongan III/a dengan masa kerja 0 tahun menjadi Rp2.785.700 per bulan. Kalau menggunakan emas sebagai pembanding sederhana, enam gram emas dengan harga sekitar Rp2,67 juta per gram pada Agustus 2026 nilainya sekitar Rp16 juta. Sementara gaji awal Golongan III/a saat ini Rp2,78 juta.

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa Rp150.200 tahun 1993 benar-benar sama nilainya dengan Rp16 juta hari ini. Harga emas bukan ukuran resmi inflasi ataupun kesejahteraan. Saya hanya mencoba melihat perubahan daya beli dari sesuatu yang lebih mudah dibayangkan.

Dulu, ketika orang mendengar kata “PNS”, yang terbayang adalah pekerjaan tetap, penghasilan stabil, dan masa depan yang relatif aman. Sekarang pilihan pekerjaan jauh lebih beragam.

Jadi, mungkin yang berubah bukan hanya angka gaji PNS. Cara kita memandang kemapanan juga ikut berubah.

Lalu saya berpikir, kalau ukuran kemapanan sudah berubah, apakah PNS sekarang masih menjadi pekerjaan yang diincar banyak orang?

Ternyata masih.

Berdasarkan data BKN, pada seleksi CPNS 2024, pelamar mencapai sekitar 3,9 juta orang untuk memperebutkan sekitar 250 ribu formasi.

Sekretaris Daerah Kab. Karawang saat melakukan monitoring CAT CPNS Desember 2024 (Sumber: Dok. Pribadi)

Kalau PNS sudah tidak lagi otomatis dianggap sebagai jalan menuju kemapanan seperti dulu, mengapa profesi ini tetap diburu?

Mungkin karena kepastian kerja masih menjadi salah satu pertimbangannya. Tetapi bagi generasi yang tumbuh di tengah perubahan zaman, kepastian saja rasanya tidak cukup. Mereka juga ingin berkembang, belajar, bekerja dengan teknologi, mendapatkan tantangan, dan memiliki pekerjaan yang bermakna.

Dulu mungkin cukup bertanya, “PNS?” Sekarang, menurut saya, kita perlu bertanya:

PNS-nya seperti apa?

Sebab menjadi PNS hanyalah awal. Setelah mendapatkan status tersebut, ada tanggung jawab yang harus dibuktikan.

Foto Penulis Saat Menjadi Moderator Forum Peningkatan Kapasitas UMKM 2023 (Sumber: Dok. Pribadi)

Lebih dari dua puluh tahun berlalu sejak pertama kali saya menjadi CPNS. Pertanyaan waktu itu tentang calon istri tentu sudah menjadi kenangan yang membuat saya tersenyum kalau mengingatnya kembali.

Dulu saya mungkin ikut bangga ketika status PNS membuat orang memandang saya lebih mapan. Sekarang saya melihatnya dengan cara yang berbeda.

Menjadi PNS ternyata bukan garis akhir untuk mendapatkan kehidupan yang aman. Justru sejak menerima status itu, ada tanggung jawab yang ikut melekat: sebagai pelaksana kebijakan, pelayan publik, sekaligus perekat dan pemersatu bangsa.

Negara memberi saya pekerjaan, tetapi masyarakat memberi saya alasan untuk bekerja.

Karena itu, semakin lama menjalani profesi ini, semakin saya merasa bahwa status PNS bukan sesuatu yang harus dibanggakan sendiri, tetapi kepercayaan yang harus dibuktikan setiap hari.

Kalau hari ini saya melihat atau mendengar ada ibu-ibu menawarkan anaknya kepada seorang CPNS baru, mungkin saya akan tersenyum. Saya jadi teringat masa-masa awal menjadi CPNS dulu.

Dulu, menjadi PNS mungkin cukup untuk membuat seseorang disebut calon menantu idaman. Ada pekerjaan tetap, gaji, status, dan masa depan yang dianggap lebih pasti.

Zaman berubah, ukuran kemapanan pun berubah. Tentunya, ukuran tentang PNS yang layak dibanggakan juga seharusnya berubah.

Bukan lagi sekadar calon menantu idaman karena statusnya, tetapi PNS yang diidamkan karena sikap, integritas, kompetensi, dan manfaat yang diberikan melalui pekerjaannya.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan PNS hanya untuk terlihat mapan. Masyarakat membutuhkan PNS yang hadir ketika mereka membutuhkan pelayanan, bekerja ketika ada persoalan, dan dapat dipercaya ketika menjalankan amanah.

Bukan (lagi) calon menantu idaman. Namun, semoga kita menjadi PNS yang diidamkan masyarakat.