Konten dari Pengguna

Menafsirkan Makna Qurban dalam Semangat Bela Negara

Rahman Tanjung

Rahman Tanjung

Widyaiswara Ahli Madya BKPSDM Kabupaten Karawang, Dosen STIT Rakeyan Santang Karawang

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahman Tanjung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu, tepat di tanggal 29 Mei 2026 atau dua hari pasca libur Idul Adha saya bertugas mengampu materi “Bela Negara dan Kepemimpinan Pancasila” bagi para pejabat administrator di Pemerintah Kabupaten Karawang secara virtual.

Pembelajaran ZOOM Peserta PKA Karawang 29 Mei 2026 (Sumber: Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Pembelajaran ZOOM Peserta PKA Karawang 29 Mei 2026 (Sumber: Dok. Pribadi)

Di layar zoom, diskusi berjalan cukup hangat. Kami membahas tentang loyalitas terhadap bangsa, tanggung jawab seorang pemimpin, serta bentuk perilaku bela negara yang tidak lagi dalam bentuk angkat senjata melawan penjajah, melainkan bagaimana menjalankan tugas sebagai ASN sesuai dengan tugas pokoknya. Namun di sela-sela penyampaian materi tersebut, pikiran saya justru melayang pada salah satu isi ceramah sang Khatib selepas mengikuti Shalat Berjamaah Idul Adha pada hari Rabu yang lalu.

Tentu seperti yang umumnya diketahui oleh umat Islam di seluruh dunia, Idul Adha membawa kita untuk memaknai kisah keluarga Nabi Ibrahim AS. Sebuah kisah yang selama ini mungkin lebih sering dimaknai sebagai simbol ketakwaan dan kepatuhan kepada Tuhan. Padahal jika direnungkan lebih jauh, terdapat nilai pengorbanan, keikhlasan, dan keberanian menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas ego pribadi. Nilai-nilai itulah yang terasa begitu dekat dengan semangat bela negara yang sedang kami diskusikan dalam pelatihan.

Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara, bela negara dimaknai sebagai tekad, sikap, perilaku, serta tindakan warga negara dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa yang dijiwai oleh kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Definisi tersebut membuat saya berpikir bahwa bela negara sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar urusan militer atau pertahanan fisik. Di dalamnya terdapat unsur cinta tanah air, kepedulian sosial, tanggung jawab moral, hingga kesediaan untuk berkorban demi kepentingan yang lebih besar. Bukankah nilai-nilai seperti itu juga tercermin kuat dalam peristiwa qurban?

Tentang Mengalahkan Ego

Refleksi itu membawa saya pada pemahaman bahwa inti qurban sesungguhnya bukan terletak pada hewan yang disembelih, melainkan pada proses menaklukkan ego dan kepentingan pribadi. Dalam kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, kita melihat bagaimana keimanan melahirkan keikhlasan untuk mendahulukan nilai yang lebih besar daripada sekadar keinginan diri sendiri. Bahkan Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging maupun darah hewan qurban, melainkan ketakwaan dari manusia itu sendiri.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu...” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat tersebut seolah mengingatkan bahwa qurban memiliki dimensi moral dan sosial yang sangat dalam. Ada latihan batin untuk belajar ikhlas, belajar peduli, dan belajar merelakan sesuatu demi nilai yang lebih mulia.

Domba sebagai salah satu jenis hewan Qurban (sumber: unsplash.com/Mouaadh Tobok)

Melalui kisah Nabi Ibrahim AS, kita menyaksikan bagaimana beliau dengan penuh keikhlasan dan kelapangan hati bersedia mengorbankan Nabi Ismail AS, putra yang sangat dicintainya, sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah SWT. Tentu, pesan yang dapat dipetik dari kisah tersebut bukanlah tentang pengorbanan fisik semata, melainkan tentang kesediaan menempatkan nilai yang lebih tinggi di atas kepentingan pribadi.

Dalam kehidupan masa kini, "Ismail" dapat dimaknai secara simbolik sebagai berbagai hal yang sering kali begitu kita cintai dan sulit untuk dilepaskan. Ia bisa berupa harta yang membuat kita lupa berbagi, jabatan yang menumbuhkan kesombongan, kedudukan yang membuat kita enggan mendengar orang lain, atau bahkan kenyamanan hidup yang membuat kita abai terhadap persoalan di sekitar. Pada titik tertentu, setiap orang memiliki "Ismail"-nya masing-masing.

Di sinilah saya melihat adanya benang merah antara makna qurban dan semangat bela negara. Bela negara tidak selalu dimaknai sebagai perjuangan di medan perang atau atribut heroisme semata. Undang-undang bahkan menegaskan bahwa bela negara juga diwujudkan melalui pengabdian sesuai profesi masing-masing warga negara. Artinya, guru yang mengajar dengan tulus, tenaga kesehatan yang melayani dengan hati, aparatur yang menjaga integritas, hingga masyarakat yang merawat persatuan di tengah perbedaan, sejatinya sedang menjalankan nilai bela negara dalam bentuknya yang paling nyata.

Individualisme Menjadi Tantangan Bangsa

Sayangnya, nilai pengorbanan seperti ini perlahan terasa semakin mahal di tengah kehidupan saat ini. Kita hidup pada zaman ketika pencapaian pribadi sering kali lebih diprioritaskan dibanding kepentingan bersama. Ukuran keberhasilan kerap dinilai dari seberapa tinggi posisi, seberapa besar keuntungan, atau seberapa banyak pengakuan yang diperoleh.

Fenomena ini sebenarnya dapat kita lihat secara nyata di ruang digital. Media sosial yang semestinya menjadi ruang berbagi informasi dan memperkuat solidaritas, sering kali justru berubah menjadi arena saling serang, penyebaran kebencian, hingga pertentangan akibat perbedaan pilihan politik maupun pandangan sosial. Tidak sedikit orang yang lebih mudah terpancing untuk menghujat daripada berdialog. Bahkan empati perlahan mulai kalah oleh kebutuhan untuk sekadar viral dan mendapatkan validasi.

Padahal, bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh kecerdasan dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh karakter warganya. Negara ini membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia bekerja dengan tulus meski tidak selalu terlihat. Membutuhkan pemimpin yang mampu menahan ego kekuasaan demi kepentingan rakyat. Membutuhkan aparatur yang tetap menjaga integritas di tengah berbagai godaan. Bahkan membutuhkan generasi muda yang masih memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Mungkin karena itulah Idul Adha selalu menghadirkan ruang refleksi yang berbeda. Sebab qurban sejatinya mengajarkan bahwa manusia yang kuat bukanlah mereka yang mampu menguasai orang lain, melainkan mereka yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Idul Adha dan Harapan untuk Bangsa

Akhirnya, Idul Adha mengingatkan kita bahwa pengorbanan bukan hanya tentang kehilangan, melainkan juga tentang menghadirkan harapan. Harapan bahwa bangsa ini akan tetap berdiri kuat selama masih ada orang-orang yang rela memberi, rela peduli, dan rela menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Kutipan itu terasa tetap relevan hingga hari ini. Sebab tantangan terbesar bangsa yang maju sekalipun sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari dalam yang berupa sikap egoisme, hilangnya empati, serta lunturnya rasa tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Mungkin karena itu, semangat qurban perlu dimaknai lebih luas daripada sekadar ritual tahunan. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang hebat, tetapi juga pribadi-pribadi yang tulus. Orang-orang yang tetap memilih jujur ketika banyak yang mencari jalan pintas. Orang-orang yang tetap peduli ketika sebagian mulai abai, serta orang-orang yang tetap menjaga persatuan ketika perbedaan semakin mudah dipertentangkan.

Sebab bisa jadi, bela negara yang paling dibutuhkan hari ini bukanlah tentang siapa yang paling lantang berbicara soal nasionalisme, melainkan siapa yang paling ikhlas berkorban demi kepentingan bangsa dan negaranya.