Konten dari Pengguna

Setelah Kamera Dimatikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahman Tanjung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Crew Film sedang Syuting (Sumber: www.pexels.com/Erick Uruci)
zoom-in-whitePerbesar
Crew Film sedang Syuting (Sumber: www.pexels.com/Erick Uruci)

Cut”, suara Sutradara menghentikan adegan. Kamera berhenti merekam dan para pemain yang sebelumnya menjalankan peran, segera keluar dari peran tersebut. Mereka kemudian tampak berbincang, ada yang bercanda dan ada yang serius membaca kembali naskah sambil menunggu adegan berikutnya.

Kejadian beberapa tahun lalu di bandung ini kembali muncul di ingatan, ketika saya melihat dan mendengar pemberitaan akhir-akhir ini di media sosial tengah ramai menyoroti perilaku sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN).

Ada yang berkata ASN hanya absen, ngopi, lalu pulang. ASN sibuk dengan urusan pribadi, live di media sosial saat jam kerja, bahkan ada yang memamerkan gaya hidup mewahnya. Kamera memang tidak selalu merekam ketika mereka bekerja, tetapi ketika merekam sesuatu yang keliru dan hal itu tersebar di media sosial, seluruh ASN dapat ikut terdampak sorotan tersebut.

Dalam pelayanan publik, tidak akan ada teriakan “cut” atau penanda yang jelas antara kapan seorang ASN sedang “tampil” serta kapan ia benar-benar menjalankan tugas dan tanggungjawabnya.

Saya sedang Mengajar Latsar CPNS di BKPSDM Karawang (Sumber: Dok. Pribadi)

Kritik terhadap ASN sah-sah saja, mengingat ASN bekerja dengan mandat publik dan harus menjalankan salah satunya tugasnya sebagai pelayan publik sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023. Sehingga sudah sewajarnya kinerja, integritas dan disiplin mereka dipertanyakan ketika ada perilaku yang menyimpang.

Namun, ada hal lain yang mungkin jarang mendapatkan ruang untuk dibicarakan, yaitu pekerjaan yang tidak tersorot kamera. Ada ASN yang dengan tekun menyelesaikan pekerjaannya sampai jam kerja berakhir, ada yang dengan sigap melakukan pelayanan meski di luar jam kerja atau di hari libur. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengorbankan waktu libur panjangnya dengan tetap bekerja. Mereka tidak selalu terlihat kamera, namun bukan berarti mereka tidak bekerja.

Saya teringat salah satu teman kerja, “Ul” begitu kami memanggilnya. Ia merupakan seorang penyandang disabilitas. Siang itu, ketika waktu istirahat, saya melihatnya masih tekun bekerja. Saat saya bertanya kenapa tidak istirahat dulu, ia hanya menjawab bahwa pekerjaannya belum selesai. Setelah itu dia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Tentunya tak ada kamera, konten atau pun tepuk tangan. Dia hanya melakukan apa yang menurutnya memang harus segera diselesaikan.

Namun, berapa banyak pekerjaan semacam itu yang pernah kita lihat? Di media sosial atau ruang publik lainnya, perilaku ASN yang bermasalah, tampaknya jauh lebih mudah mendapat perhatian dalam hitungan jam.

Kritikan tersebut tidak sepenuhnya keliru, karena ASN menerima gaji dan berbagai faslitas untuk bekerja dari anggaran negara. Sehingga masyarakat berhak menuntut ASN untuk displin, berkinerja dan berintegritas dalam melayani masyarakat. ASN yang melanggar aturan harus dikritik, bahkan diberi sanksi jika pelanggarannya terbukti.

Persoalannya muncul ketika perilaku sebagian orang seolah dianggap merepresentasikan gambaran keseluruhan ASN. Satu yang terlihat buruk dapat menenggelamkan ribuan pekerjaan baik yang berlangsung tanpa suara.

Pelaksanaan Giat Api Semangat Bela Negara Latsar CPNS Karawang di Malam Hari (Sumber: Dok. Pribadi)

Seorang ASN yang melaksanakan tugasnnya hingga sore bahkan malam hari mungkin tidak menarik perhatian siapa pun. Hal itu tentunya tidak akan menghasilkan video dengan banyak komentar, tidak akan menjadi perdebatan dan mungkn tidak akan masuk berita. Padahal, pelayanan publik memang bekerja dengan cara seperti itu: berlangsung setiap hari, dibutuhkan banyak orang, tetapi jarang menjadi perhatian atau tontonan.

Melihat berita Viral ASN dan saat Ul tetap bekerja tanpa ada yang memperhatikan, membawa saya teringat pada teori Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959), menggambarkan kehidupan sosial seperti panggung. Ada front stage, tempat seseorang tampil di hadapan orang lain, dan back stage, ruang privat ketika tuntutan untuk tampil tidak lagi sama.

Dalam birokrasi, kamera dapat menjadi perumpamaan sorotan publik. Ketika kamera dihidupkan, pekerjaan terlihat. Ketika kamera dimatikan, pekerjaan seharusnya tetap berjalan. Di situlah integritas menjadi lebih menarik dibicarakan, apakah seseorang tetap melakukan yang benar ketika tidak ada lagi yang melihat?

Pertanyaan tersebut membawa kita dalam konsep Public Service Motivation dari James L. Perry dan Lois R. Wise (1990). Konsep ini menjelaskan adanya dorongan dalam diri sebagian orang untuk melayani kepentingan publik, bukan semata-mata karena imbalan material atau pengakuan.

Dalam hal ini, apa yang dilakukan Uul menjadi menarik: ia bekerja bukan karena ada kamera yang merekam atau publik yang memuji. Pekerjaan itu ada, dan ia merasa perlu menyelesaikannya.

Namun, pengabdian tidak boleh juga dinilai hanya dari siapa yang paling lama di kantor. Integritas bukan sekadar bekerja lebih banyak, tetapi menjalankan tugas dengan benar, bertanggung jawab, dan konsisten meskipun tidak sedang menjadi perhatian.

Tentu, bukan artinya pemerintah harus menyembunyikan setiap kegiatannya dari kamera. Publikasi kegiatan dan pelayanan serta komunikasi melalui media sosial adalah hal wajar dari keterbukaan pemerintah kepada masyarakat. Namun, yang perlu dijaga adalah jangan sampai dokumentasi lebih penting daripada pekerjaan itu sendiri.

Pada akhirnya, kamera boleh dihidupkan dan kegiatan boleh dipublikasikan. Kritik masyarakat juga tetap diperlukan, tetapi setelah kamera dimatikan, pekerjaan tidak boleh ikut berhenti. Masih ada masyarakat yang menunggu pelayanan, laporan yang harus diselesaikan, keputusan yang harus dipertanggungjawabkan, dan tugas yang mungkin tidak pernah masuk berita.

Pengabdian kepada publik bukan tentang seberapa sering seseorang terlihat bekerja, namun tentang apakah ia tetap menjalankan tanggung jawab ketika tidak lagi ada yang melihat. Setelah kamera dimatikan, di situlah integritas diuji.