7 Fakta Tentang Qiraat Al-Quran yang Perlu Anda Ketahui
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca Al-Quran bukan sekadar melafalkan huruf dan kata. Ada ilmu yang mendalam di baliknya, salah satunya adalah qiraat atau cara baca Al-Quran yang berbeda namun tetap sahih. Ilmu qiraat menjadi cabang penting dalam studi Al-Quran yang sudah ada sejak masa Rasulullah SAW.
Faktanya, Al-Quran memiliki beberapa cara baca yang berbeda namun tetap valid secara syariat. Perbedaan ini bukan kesalahan, melainkan bagian dari kemudahan yang Allah berikan kepada umat Islam. Dengan memahami qiraat, kita bisa lebih menghargai kedalaman makna dalam setiap ayat suci.
Pengertian dan Sejarah Qiraat Al-Quran
Qiraat secara bahasa berarti cara membaca atau bacaan. Dalam istilah ilmu Al-Quran, qiraat adalah perbedaan lafaz wahyu Al-Quran yang diriwayatkan dari para imam qiraat. Menurut Umar Al Faruq dalam Journal of Discussion of Qira’at in the Qur’an (Th. 2024), qiraat merupakan ilmu yang membahas tata cara pengucapan kata-kata Al-Quran sesuai dengan riwayat yang sahih.
Perlu dipahami bahwa qiraat berbeda dengan riwayat dan tariq. Qiraat merujuk pada metode bacaan yang dinisbahkan kepada imam seperti Imam Nafi atau Imam Ashim. Riwayat adalah transmisi bacaan dari murid imam tersebut, sedangkan tariq adalah jalur periwayatan yang lebih spesifik lagi.
Perbedaan bacaan Al-Quran sudah ada sejak masa Rasulullah SAW. Hal ini dikenal dengan istilah sab'atu ahruf atau tujuh huruf. Sebuah hadis terkenal diriwayatkan dari Umar bin Khattab yang mendengar Hisyam bin Hakim membaca Surah Al-Furqan dengan cara berbeda:
Dari Umar bin Khattab ra berkata: Saya mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqan pada masa Rasulullah saw, maka saya mendengarkan bacaannya, ternyata dia membaca dengan beberapa huruf yang tidak diajarkan Rasulullah saw kepadaku. Maka saya hampir menerkamnya dalam shalatnya, namun aku menunggu hingga dia salam. (HR. Bukhari)
Setelah melaporkan hal ini kepada Rasulullah, ternyata kedua bacaan tersebut dinyatakan benar. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan dalam tujuh huruf untuk memberi kemudahan bagi umat Islam dari berbagai suku dan dialek.
Qiraat terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan tingkat keshahihannya. Pertama adalah qiraat mutawatir, yaitu bacaan yang diriwayatkan oleh banyak perawi sehingga mustahil terjadi kesalahan. Kedua adalah qiraat masyhur, yang diriwayatkan oleh perawi terpercaya namun belum mencapai derajat mutawatir. Ketiga adalah qiraat syadz, yaitu bacaan yang tidak memenuhi syarat kesahihan seperti bertentangan dengan kaidah bahasa Arab atau mushaf Utsmani.
Proses kodifikasi qiraat dilakukan oleh para ulama besar. Imam Abu Amr Ad-Dani menulis kitab At-Taysir yang menjadi rujukan utama ilmu qiraat. Imam Asy-Syatibi kemudian menyusun kitab berbentuk syair berjudul Hirz Al-Amani yang memudahkan penghafalan qiraat sab'ah.
Tujuh Qiraat Mutawatir dan Karakteristiknya
Qiraat sab'ah adalah tujuh cara baca Al-Quran yang telah disepakati keshahihannya oleh ulama. Setiap qiraat dinisbahkan kepada imam tertentu dan memiliki dua perawi utama. Berikut ketujuh qiraat mutawatir beserta karakteristiknya:
1. Qiraat Nafi Al-Madani
Imam Nafi berasal dari Madinah dan qiraatnya terkenal karena mengikuti bacaan penduduk Madinah. Dua perawi utamanya adalah Qalun dan Warsy. Qiraat Warsy banyak digunakan di Afrika Utara terutama Maroko dan Aljazair.
2. Qiraat Ibnu Katsir Al-Makki
Berasal dari Makkah dengan perawi Al-Bazzi dan Qunbul. Qiraat ini banyak digunakan di wilayah Hijaz pada masa lalu.
3. Qiraat Abu Amr Al-Bashri
Imam Abu Amr berasal dari Bashrah dengan perawi Ad-Duri dan As-Susi. Qiraatnya terkenal dengan kehati-hatian dalam penerapan kaidah bahasa Arab.
4. Qiraat Ibnu Amir Asy-Syami
Berasal dari Damaskus, Suriah dengan perawi Hisyam dan Ibnu Dzakwan. Qiraat ini pernah populer di wilayah Syam.
5. Qiraat Ashim Al-Kufi
Ini adalah qiraat paling populer di dunia Islam saat ini. Imam Ashim memiliki dua perawi, yaitu Hafs dan Syu'bah. Riwayat Hafs an Ashim menjadi standar mushaf di Indonesia, Arab Saudi, dan sebagian besar negara Muslim.
6. Qiraat Hamzah Al-Kufi
Berasal dari Kufah dengan perawi Khalaf dan Khallad. Qiraat ini dikenal dengan penerapan mad dan idgham yang detail.
7. Qiraat Al-Kisai
Imam Al-Kisai juga dari Kufah dengan perawi Abu Al-Harits dan Ad-Duri. Qiraatnya memiliki kesamaan dengan qiraat Hamzah.
Menariknya, perbedaan antar qiraat tidak mengubah makna pokok ayat. Contohnya pada Surah Al-Fatihah ayat 4, qiraat mayoritas membaca Maaliki Yaumiddin dengan mad panjang, sedangkan sebagian qiraat membacanya Maliki Yaumiddin tanpa mad. Keduanya tetap bermakna Raja di Hari Pembalasan.
Selain qiraat sab'ah, ada juga qiraat asyarah atau sepuluh qiraat yang menambahkan qiraat Imam Abu Ja'far, Imam Ya'qub, dan Imam Khalaf. Bahkan ada qiraat arba'ata asyarah atau empat belas qiraat yang menambahkan empat imam lagi. Semua qiraat mutawatir ini memiliki kehujjahan yang sama dan boleh digunakan dalam ibadah.
Revewed: Doel Rohim, S.Hum.