Konten dari Pengguna

Apa Itu Baiat Ridwan: Sumpah Setia di Bawah Pohon Hudaibiyah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah bukit pasir di Mekkah foto by Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah bukit pasir di Mekkah foto by Pexels

Dalam sejarah Islam, ada banyak peristiwa yang menjadi titik balik penting bagi perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Salah satunya adalah Baiat Ridwan, sebuah sumpah setia yang dilakukan para sahabat di bawah pohon pada tahun 6 Hijriah. Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan loyalitas luar biasa kaum Muslim, tetapi juga membuka jalan bagi perjanjian damai yang mengubah peta kekuatan di Jazirah Arab.

Memahami konteks dan makna Baiat Ridwan dapat membantu umat Islam melihat bagaimana strategi dakwah Rasulullah SAW yang penuh hikmah. Peristiwa ini bahkan diabadikan dalam Al-Quran sebagai bukti keridhaan Allah terhadap para sahabat yang turut serta.

Pengertian dan Latar Belakang Baiat Ridwan

Baiat Ridwan adalah sumpah setia yang dilakukan oleh para sahabat kepada Nabi Muhammad SAW di bawah pohon di kawasan Hudaibiyah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 6 Hijriah ketika kaum Muslim berniat melakukan umrah ke Mekah namun dihalang-halangi oleh suku Quraisy.

Saat itu, Rasulullah SAW mengirim Utsman bin Affan sebagai utusan untuk bernegosiasi dengan Quraisy. Namun Utsman ditahan, dan muncul kabar bohong bahwa beliau telah dibunuh. Mendengar kabar tersebut, Nabi Muhammad SAW segera mengumpulkan para sahabat di bawah sebuah pohon dan mengajak mereka untuk bersumpah setia, siap berperang hingga titik darah penghabisan jika diperlukan.

Sebanyak 1.400 sahabat ikut dalam sumpah setia ini. Mereka kemudian dikenal sebagai Ashabul Hudaibiyah, para sahabat yang mendapat kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Kesetiaan mereka diabadikan dalam Al-Quran Surah Al-Fath ayat 18:

لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon."

Nama Ridwan sendiri berasal dari kata ridha Allah, menunjukkan bahwa sumpah setia ini mendapat keridhaan langsung dari Allah SWT. Ini adalah penghormatan tertinggi yang bisa diterima seorang Muslim, karena Allah langsung menyatakan keridhaanNya atas tindakan mereka.

Dampak dan Hikmah Baiat Ridwan dalam Perjanjian Hudaibiyah

Baiat Ridwan membawa dampak psikologis yang sangat besar bagi suku Quraisy. Mereka menyadari bahwa kaum Muslim memiliki kekuatan dan kesatuan yang luar biasa. Hal ini mendorong Quraisy untuk memilih jalan negosiasi daripada konfrontasi terbuka.

Hasilnya adalah tercapainya Perjanjian Hudaibiyah, sebuah gencatan senjata selama 10 tahun antara kaum Muslim dan Quraisy. Perjanjian ini memuat beberapa poin penting. Kaum Muslim harus menunda umrah hingga tahun berikutnya. Orang Muslim yang lari ke Madinah tanpa izin wali harus dikembalikan ke Mekah, namun Quraisy tidak wajib mengembalikan orang yang kembali dari Madinah ke Mekah.

Menurut penelitian Siti Fatimah yang berjudul Dakwah Struktural: Studi Kasus Perjanjian Hudaibiyah (Jurnal Dakwah UIN Sunan Kalijaga, Vol. 10 No. 1, Th: 2009 ), peristiwa ini menunjukkan aspek dakwah struktural dalam strategi Nabi SAW. Beliau tidak hanya berfokus pada kemenangan jangka pendek, tetapi memikirkan kepentingan Islam dalam jangka panjang melalui jalur diplomasi.

Menariknya, perjanjian yang awalnya terlihat merugikan ini justru membuka ruang bagi penyebaran Islam secara damai. Dalam periode gencatan senjata, banyak suku Arab yang mulai terbuka dan akhirnya masuk Islam. Kondisi damai memungkinkan kaum Muslim untuk berdakwah tanpa tekanan perang.

Selain itu, para peserta Baiat Ridwan mendapat jaminan surga berdasarkan firman Allah dalam Surah Al-Fath. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan mereka di hadapan Allah SWT. Kesetiaan tanpa syarat yang mereka tunjukkan menjadi teladan bagi umat Islam di sepanjang zaman.

Dari peristiwa ini, umat Islam bisa belajar tentang pentingnya loyalitas kepada pemimpin yang benar, keberanian dalam menghadapi ancaman, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemenangan sejati tidak selalu berarti kemenangan di medan perang, tetapi juga kemenangan strategis yang membawa manfaat lebih besar bagi masa depan.

Revewed by Doel Rohim S.Hum.