Konten dari Pengguna

Apa Itu Hasad dan Cara Mengatasinya Menurut Islam

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjaga Kebersihan Hati dalam Islam. Foto by Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Menjaga Kebersihan Hati dalam Islam. Foto by Pexels

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar istilah hasad atau dengki. Namun, tidak banyak yang memahami secara mendalam bagaimana Islam memandang sifat ini dan mengapa ia dianggap sebagai penyakit hati yang berbahaya.

Mengenal hasad secara lengkap dapat membantu umat Islam untuk menjaga hati dari sifat buruk yang dapat merusak amal ibadah. Dengan memahaminya, setiap Muslim dapat mengambil langkah untuk membersihkan diri dan membangun karakter yang lebih baik.

Pengertian Hasad dalam Islam

Hasad secara bahasa berarti dengki atau iri hati. Dalam istilah agama, hasad adalah perasaan tidak suka melihat nikmat yang dimiliki orang lain dan berharap agar nikmat tersebut hilang dari mereka. Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, hasad merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya karena dapat merusak keimanan seseorang.

Allah SWT telah memperingatkan tentang bahaya hasad dalam Al-Quran. Dalam Surah Al-Falaq ayat 5, Allah berfirman:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Artinya: Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.

Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya dampak hasad hingga Allah memerintahkan umat Islam untuk meminta perlindungan dari sifat tersebut. Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa hasad dapat mendorong seseorang untuk berbuat jahat, baik melalui perkataan maupun perbuatan, demi menghilangkan kebaikan yang dimiliki orang lain.

Hasad berbeda dengan iri hati biasa atau ghibthah. Ghibthah adalah perasaan ingin memiliki kebaikan seperti orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang dari mereka. Sifat ini justru diperbolehkan dalam Islam karena dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan diri.

Karakteristik orang yang memiliki sifat hasad cukup mudah dikenali. Pertama, tidak ikhlas melihat kebaikan orang lain dan merasa terganggu dengan kesuksesan mereka. Kedua, berharap nikmat orang lain hilang meskipun ia sendiri tidak mendapatkan manfaatnya. Ketiga, merasa gelisah dan tidak tenang ketika orang lain mencapai kesuksesan.

Bentuk hasad dalam kehidupan sehari-hari sangat beragam. Bisa berupa dengki terhadap harta, jabatan, ilmu pengetahuan, atau bahkan keharmonisan keluarga orang lain. Di lingkungan kerja, hasad mungkin muncul ketika rekan mendapat promosi. Di lingkungan sosial, bisa muncul saat tetangga membeli kendaraan baru atau membangun rumah.

Bahaya Hasad dan Cara Mengatasinya

Hasad membawa dampak negatif yang sangat serius bagi pelakunya. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Artinya: Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR. Abu Dawud)

Hadis ini menggambarkan betapa destruktifnya hasad terhadap pahala dan amal ibadah seseorang. Meski rajin beribadah, sifat hasad dapat menghapus semua kebaikan yang telah dikerjakan. Selain itu, hasad juga menimbulkan keresahan jiwa, ketidaktenangan, dan merusak hubungan sosial serta persaudaraan antar sesama Muslim.

Dalam penelitian Sitrawati Ningsi Suronoto Penulis yang berjudul "Hasad Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah dan Relevansinya dengan Revolusi Mental" (IAIN Manado Th. 2023), menyebutkan bahwa menurut M. Quraish Shihab, sifat hasad memiliki relevansi dengan revolusi mental. Membersihkan hati dari hasad menjadi langkah penting dalam membangun karakter bangsa yang lebih baik dan berintegritas.

Cara mengatasi hasad dapat dilakukan melalui beberapa langkah praktis. Pertama, memperkuat tauhid dan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan. Kedua, memahami bahwa rezeki setiap orang sudah diatur Allah dan tidak akan tertukar. Ketiga, membiasakan diri mendoakan kebaikan untuk orang lain.

Keempat, meningkatkan kualitas diri melalui introspeksi dan fokus pada perbaikan pribadi. Kelima, memperbanyak dzikir dan istighfar untuk membersihkan hati dari sifat negatif.

M. Quraish Shihab menekankan pentingnya membersihkan hati dari hasad sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang sehat secara spiritual. Dengan hati yang bersih, seseorang dapat menjalani hidup dengan tenang dan menjalin hubungan baik dengan sesama.

Revewed: Doel Rohim, S,Hum.