Apa Itu Sidratul Muntaha? Pengertian dan Penafsirannya
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sidratul Muntaha merupakan salah satu konsep penting dalam kajian Islam yang kerap muncul dalam pembahasan Isra Mi'raj. Istilah ini disebutkan langsung dalam Al-Qur'an dan menjadi penanda batas tertinggi yang dapat dicapai makhluk. Memahami konsep ini dapat membuka wawasan tentang struktur kosmologi Islam dan dimensi spiritual yang diajarkan kepada umat.
Menariknya, para ulama memiliki pendekatan berbeda dalam menafsirkan makna Sidratul Muntaha. Ada yang melihatnya dari sudut pandang fisik sebagai lokasi nyata di alam semesta, ada pula yang menekankan dimensi filosofis dan spiritual. Perbedaan penafsiran ini justru memperkaya pemahaman umat terhadap ayat-ayat Al-Qur'an.
Pengertian Sidratul Muntaha dalam Al-Qur'an
Sidratul Muntaha secara harfiah berarti pohon bidara yang paling ujung. Istilah ini disebut dalam Surah An-Najm ayat 14 hingga 16. Allah SWT berfirman:
عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ - عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ - إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ
Artinya: Di dekat Sidratul Muntaha, di sisinya ada surga tempat tinggal, ketika meliputi pohon itu sesuatu yang meliputinya.
Ayat ini turun dalam konteks peristiwa Isra Mi'raj, perjalanan spiritual luar biasa yang dialami Nabi Muhammad SAW. Sidratul Muntaha menjadi penanda lokasi paling tinggi yang dapat dicapai dalam perjalanan tersebut.
Menurut jurnal Konsep Sidrat al-Muntaha dalam Al-Qur'an (El-Waroqoh: Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Th, 2024) karya Sayyidah Fatimatuz Zahro, Sidratul Muntaha dipahami sebagai batas akhir pencapaian makhluk, termasuk malaikat, jin, dan manusia. Tidak ada yang dapat melampaui batas ini kecuali atas kehendak Allah SWT.
Ṭanṭāwī Jauharī al-Misri dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Sidratul Muntaha memiliki dimensi fisik sekaligus spiritual. Secara fisik, pohon ini berada di langit ketujuh dalam struktur kosmologi Islam. Secara spiritual, ia melambangkan tingkat ketinggian rohani yang hanya dapat dicapai oleh makhluk pilihan Allah.
Frasa jannatul ma'wa atau surga tempat tinggal yang disebut berdekatan dengan Sidratul Muntaha menunjukkan kedekatan lokasi ini dengan alam akhirat. Inilah sebabnya mengapa tempat ini dianggap sangat mulia dan sakral dalam tradisi Islam.
Perbedaan Penafsiran Ulama tentang Sidratul Muntaha
Ahmad Mustafa al-Marāghī memberikan penafsiran yang lebih simbolis terhadap Sidratul Muntaha. Menurutnya, pohon ini bukan sekadar lokasi fisik, tetapi juga menggambarkan batas pengetahuan dan pengalaman spiritual manusia. Ada wilayah ilmu yang hanya Allah yang tahu, dan Sidratul Muntaha menjadi simbol pembatas itu.
Di sisi lain, Saʿīd Ḥawwā fokus pada aspek eskatologis atau hubungan Sidratul Muntaha dengan kehidupan akhirat. Ia menekankan bahwa keberadaan jannatul ma'wa di dekat pohon ini menunjukkan bahwa Sidratul Muntaha adalah pintu menuju pemahaman tentang surga dan kehidupan kekal.
Ketiga mufassir, yakni Ṭanṭāwī Jauharī, al-Marāghī, dan Ḥawwā memiliki pendekatan berbeda terhadap frasa ma yaghsha atau sesuatu yang meliputinya dalam Surah An-Najm ayat 16. Ṭanṭāwī Jauharī cenderung menjelaskan secara ilmiah bahwa yang meliputi adalah cahaya ilahi. Al-Marāghī berpendapat ini adalah keagungan Allah yang tak tergambarkan, sedangkan Ḥawwā melihatnya sebagai rahasia ghaib yang tidak perlu dipertanyakan lebih jauh.
Dari sudut pandang filosofis, Sidratul Muntaha mengajarkan tentang batas antara pengetahuan makhluk dan pengetahuan Ilahi. Konsep ini relevan bagi Muslim kontemporer yang hidup di era informasi. Ada batasan yang harus dihormati dalam pencarian ilmu, terutama yang menyangkut rahasia ketuhanan.
Hikmah dari konsep Sidratul Muntaha adalah kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan. Tidak semua hal dapat dijangkau atau dipahami sepenuhnya. Sikap tawakal dan penyerahan diri kepada Allah menjadi kunci dalam perjalanan spiritual setiap Muslim.
Revewed by Doel Rohim S.Hum.