Apa Itu Tarekat? Pengertian, Sejarah, dan Perkembangannya di Nusantara
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian orang, istilah tarekat mungkin masih terdengar asing. Padahal, praktik spiritual ini sudah berkembang sejak lama dalam tradisi Islam. Tarekat menjadi salah satu cara umat Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui bimbingan spiritual yang terstruktur.
Dalam perjalanannya, tarekat tidak hanya berkembang di Timur Tengah. Ajaran ini juga masuk dan beradaptasi dengan budaya Nusantara. Bahkan, banyak ulama dan wali di Indonesia yang berperan besar dalam menyebarkan tarekat hingga menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat.
Pengertian Tarekat dalam Islam
Secara etimologi, tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah yang berarti jalan atau cara. Dalam konteks Islam, tarekat merujuk pada jalan spiritual yang ditempuh seorang Muslim untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Jalan ini tidak sekadar menjalankan ibadah wajib, tetapi juga melibatkan latihan rohani yang lebih mendalam.
Menurut Aly Mashar dalam Diktat Tarekat dan Kebatinan, (Th. 2021), menerangkan bahwa tarekat merupakan metode atau cara khusus dalam menempuh jalan spiritual menuju ma'rifatullah, yakni pengetahuan dan kedekatan dengan Allah. Praktik tarekat berbeda dengan ibadah Islam pada umumnya karena melibatkan pembimbingan langsung dari seorang mursyid atau guru spiritual.
Dalam ajaran tarekat, ada empat tingkatan yang harus dilalui oleh seorang salik atau murid tarekat. Pertama adalah syariat, yaitu menjalankan hukum Islam secara benar. Kedua adalah tarekat, yakni jalan menuju Allah melalui latihan spiritual. Ketiga adalah hakikat, yaitu pemahaman mendalam tentang hakikat keberadaan Allah. Keempat adalah makrifat, tingkatan tertinggi berupa pengenalan dan kedekatan sempurna dengan Allah.
Peran mursyid sangat penting dalam tarekat. Mursyid adalah pembimbing yang sudah mencapai tingkat spiritual tinggi dan berhak membimbing murid. Tanpa mursyid, seseorang dianggap tidak bisa menempuh jalan tarekat dengan benar karena risiko tersesat dalam pemahaman ajaran.
Metode utama dalam tarekat adalah dzikir dan wirid. Dzikir dilakukan dengan cara tertentu sesuai ajaran masing-masing tarekat. Ada yang menggunakan dzikir jahr atau keras, ada pula yang menggunakan dzikir sirr atau dalam hati. Wirid biasanya berupa bacaan tertentu yang harus diamalkan secara rutin oleh murid tarekat.
Untuk menjadi murid tarekat, seseorang harus melalui proses bai'at. Bai'at adalah ikrar setia atau janji kepada mursyid untuk mengikuti ajaran tarekat dengan sungguh-sungguh. Setelah bai'at, murid dianggap resmi masuk ke dalam tarekat dan wajib mengamalkan seluruh ajaran yang diberikan.
Sejarah dan Proses Masuknya Tarekat di Nusantara
Tarekat berakar dari tradisi tasawuf Islam klasik yang berkembang sejak abad pertama Hijriah. Awalnya, tasawuf bersifat individual dan tidak terorganisir. Namun, seiring waktu, mulai muncul kelompok-kelompok tarekat dengan sistem dan ajaran yang lebih terstruktur pada abad ke-12 hingga ke-13 Masehi.
Perkembangan tarekat di dunia Islam mencapai puncaknya pada abad pertengahan. Saat itu, berbagai tarekat besar seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syattariyah mulai tersebar luas. Masing-masing tarekat memiliki metode dzikir dan wirid yang berbeda, meski tujuan utamanya tetap sama.
Tarekat masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan dakwah pada abad ke-13 hingga ke-17 Masehi. Para pedagang Muslim dari Timur Tengah, Persia, dan India tidak hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan ajaran Islam termasuk tarekat. Mereka membawa tradisi spiritual yang kemudian diadaptasi dengan budaya lokal.
Para wali dan ulama Nusantara berperan besar dalam penyebaran tarekat. Wali Songo, misalnya, dikenal sebagai tokoh yang menggunakan pendekatan kultural dalam berdakwah. Mereka memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal sehingga tarekat mudah diterima masyarakat.
Di Indonesia, beberapa tarekat yang berkembang pesat antara lain Qadiriyah yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Naqsyabandiyah yang dibawa oleh Syekh Bahauddin Naqsyaband, Syattariyah yang populer di Aceh dan Sumatera, serta Tijaniyah yang berkembang belakangan. Masing-masing tarekat memiliki ciri khas dalam metode dzikir dan sistem pembimbingan.
Menariknya, tarekat di Nusantara tidak hanya berkembang dalam bentuk aslinya. Ada adaptasi dengan budaya lokal seperti seni, musik, dan ritual adat. Hal ini membuat tarekat diterima luas oleh masyarakat tanpa menghilangkan esensi ajarannya.
Tarekat juga berkontribusi besar dalam Islamisasi di Indonesia. Melalui pendekatan spiritual yang halus, tarekat menjadi jembatan bagi masyarakat untuk memahami Islam lebih dalam. Banyak pesantren dan lembaga pendidikan Islam di Nusantara yang juga mengajarkan tarekat sebagai bagian dari kurikulum.
Hingga kini, tarekat muktabarah atau tarekat yang diakui tetap eksis di Indonesia. Organisasi tarekat seperti Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah menjadi wadah bagi para pengamal tarekat di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Tarekat terus berperan dalam kehidupan sosial keagamaan, memberikan ruang bagi umat Islam untuk mendalami spiritualitas di tengah kehidupan modern.
Revewed: Doel Rohim, S.Hum.