Arti Muttaqin dalam Al-Quran dan Karakteristiknya
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami konsep muttaqin dalam Al-Quran menjadi penting bagi setiap Muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Istilah ini sering disebut dalam berbagai ayat Al-Quran sebagai gambaran orang-orang yang berhasil meraih kedudukan mulia di sisi-Nya.
Muttaqin bukan sekadar sebutan biasa, melainkan status spiritual yang menunjukkan kualitas iman dan ketaatan seseorang. Dengan mengenal makna serta karakteristiknya, umat Islam dapat meneladani sifat-sifat mulia tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian dan Makna Muttaqin
Kata muttaqin berasal dari kata dasar waqo yang kemudian berkembang menjadi taqwa. Secara bahasa, taqwa berarti menjaga diri atau melindungi diri dari sesuatu yang berbahaya.
Dalam konteks Islam, muttaqin merujuk pada orang-orang yang bertakwa, yakni mereka yang menjaga diri dari murka Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Menurut penelitian Teni Asmarani dalam jurnal Murabby, muttaqin merupakan pelaku atau subjek yang memiliki sifat taqwa secara konsisten dalam kehidupannya.
Al-Quran menyebut muttaqin di berbagai ayat, salah satunya dalam QS. Al-Baqarah ayat 2-5 yang berbunyi:
Dzalikal kitaabu laa raiba fiih, hudal lil muttaqiin. Alladziina yu'minuuna bil ghaibi wa yuqiimuunash shalaata wa mimma razaqnaahum yunfiquun. Walladziina yu'minuuna bimaa unzila ilaika wa maa unzila min qablika wa bil aakhirati hum yuuqinuun. Ulaa-ika 'alaa hudam mir rabbihim wa ulaa-ika humul muflihuun.
Artinya: Kitab Al-Quran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab yang diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya akhirat. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Selain itu, QS. Ali Imran ayat 133-136 juga menjelaskan gambaran muttaqin:
Wa saari'uu ilaa maghfiratim mir rabbikum wa jannatinardhuhas samaawaatu wal ardhu u'iddat lil muttaqiin. Alladziina yunfiquuna fis sarraa-i wadh dharraa-i wal kazhimiinal ghaizha wal 'aafiina 'anin naas, wallaahu yuhibbul muhsiniin. Walladziina idzaa fa'aluu faahisyatan au zhalamuu anfusahum dzakarullaaha fastagfaruu lidzunuubihim, wa many yaghfirudz dzunuuba illallaah, wa lam yusyirruu 'alaa maa fa'aluu wa hum ya'lamuun. Ulaa-ika jazaa-uhum maghfiratummir rabbihim wa jannaatun tajrii min tahtihal anhaaru khaalidiina fiihaa, wa ni'ma ajrul 'aamiliin.
Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan apabila mereka mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.
Dari ayat-ayat tersebut, makna muttaqin mencakup dimensi iman, ibadah, dan akhlak yang sempurna. Mereka bukan hanya takut kepada Allah, tetapi juga secara aktif mewujudkan ketakwaan melalui perbuatan nyata.
Karakteristik dan Ciri-Ciri Orang Muttaqin
Berdasarkan QS. Al-Baqarah ayat 2-5, ada beberapa karakteristik utama yang menjadi penanda orang muttaqin. Pertama, mereka beriman kepada yang gaib, seperti keberadaan Allah, malaikat, dan hari akhir tanpa melihatnya secara langsung.
Kedua, muttaqin mendirikan shalat dengan konsisten sebagai wujud ketaatan dan kedekatan kepada Allah. Ketiga, mereka menafkahkan sebagian rezeki di jalan Allah, baik untuk membantu sesama maupun menyebarkan kebaikan.
Keempat, muttaqin beriman kepada Al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat, Injil, dan Zabur. Kelima, mereka meyakini adanya kehidupan akhirat dengan penuh keyakinan sehingga setiap tindakan diperhitungkan dengan matang.
Sementara itu, QS. Ali Imran ayat 133-136 menambahkan karakteristik lain yang lebih menekankan aspek akhlak dan pengendalian diri. Orang muttaqin mampu mengendalikan amarah meski dalam situasi yang memancing emosi. Mereka juga memaafkan kesalahan orang lain tanpa menyimpan dendam.
Selain itu, muttaqin berbuat kebajikan atau ihsan dalam setiap kesempatan. Ketika melakukan kesalahan, mereka segera bertaubat dan tidak berkeras hati dalam kemaksiatan.
Menurut Teni Asmarani, dalam penelitiaannya yang berjudul, "Konsep Muttaqin dalam Al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Tujuan Pendidikan Islam" (Jurnal Murabby: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2, No. 1, Th. 2019), karakteristik muttaqin memiliki implikasi besar terhadap kehidupan sehari-hari. Konsep ini relevan dengan tujuan pendidikan Islam yang ingin membentuk pribadi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dengan meneladani sifat-sifat muttaqin, umat Islam dapat mencapai kesuksesan dunia dan akhirat sekaligus.
Revewed: Doel Rohim, S. Hum.