Bagaimana Menjaga Lisan Menurut Islam: Panduan Lengkap
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lisan menjadi salah satu anggota tubuh yang paling mudah digerakkan namun dampaknya bisa sangat besar. Dalam Islam, menjaga lisan atau hifzh al-lisan merupakan bagian penting dari akhlak mulia yang harus dimiliki setiap Muslim. Ucapan yang keluar dari mulut bisa menjadi amal kebaikan, tetapi juga bisa menjadi sumber dosa yang mengantarkan pada kehancuran.
Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa keselamatan seseorang di akhirat sangat bergantung pada kemampuannya mengendalikan lisan. Oleh karena itu, memahami cara menjaga lisan bukan sekadar anjuran, melainkan kebutuhan bagi setiap Muslim yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pengertian dan Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam
Hifzh al-lisan adalah upaya menjaga lisan dari ucapan yang tidak bermanfaat, dusta, ghibah, dan segala bentuk perkataan yang dilarang oleh Allah SWT. Konsep ini menjadi bagian integral dari pembentukan karakter Muslim yang berakhlak mulia.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 53 yang artinya: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap Muslim harus memilih kata-kata terbaik saat berbicara untuk menghindari perpecahan.
Rasulullah SAW menegaskan pentingnya menjaga lisan melalui sabdanya: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim). Hadist ini memberikan pedoman sederhana namun fundamental bahwa berbicara hanya boleh dilakukan jika membawa kebaikan.
Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara dua rahangnya yaitu lisan dan apa yang ada di antara dua kakinya yaitu kemaluan, maka aku menjamin baginya surga (HR. Bukhari). Jaminan surga ini menunjukkan betapa pentingnya pengendalian lisan dalam kehidupan seorang Muslim.
Menjaga lisan membawa berbagai hikmah, di antaranya mencegah dosa yang dapat menghapus pahala, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan melindungi diri dari fitnah. Sebaliknya, lisan yang tidak terjaga dapat menjerumuskan pada ghibah atau menggunjing, namimah atau mengadu domba, dusta, dan ucapan kasar yang merusak persaudaraan.
Menurut buku Memelihara Lisan (Hifzh al-Lisan) (2009) karya Mahmud Muhammad Al-Khazandar, bahaya lisan yang tidak terjaga bisa membawa konsekuensi serius baik di dunia maupun akhirat. Di dunia, seseorang bisa kehilangan kepercayaan dan persahabatan. Di akhirat, ia harus mempertanggungjawabkan setiap kata yang diucapkan.
Cara-Cara Praktis Menjaga Lisan dalam Kehidupan Sehari-hari
Sebelum berbicara, seorang Muslim harus membiasakan diri berpikir terlebih dahulu. Tanyakan pada diri sendiri apakah ucapan tersebut benar, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain. Memilih waktu dan tempat yang tepat saat menyampaikan sesuatu juga menjadi bagian dari adab berbicara yang baik.
Langkah aplikatif yang bisa dilakukan adalah memperbanyak dzikir dan membaca Al-Quran agar lisan terbiasa dengan kalimat-kalimat baik. Berpuasa sunnah juga melatih pengendalian diri termasuk menahan lisan dari hal yang tidak perlu. Memilih pergaulan yang baik dan menghindari majelis sia-sia dapat membantu seseorang terhindar dari ucapan yang tidak bermanfaat.
Ketika terlanjur salah berucap, segera beristighfar dan meminta maaf kepada yang bersangkutan. Melatih diri untuk diam saat marah juga sangat efektif karena emosi seringkali membuat seseorang kehilangan kontrol atas lisannya.
Al-Quran mengajarkan berbagai jenis ucapan yang dianjurkan, di antaranya qaulan sadidan atau perkataan yang benar dan tepat, qaulan ma'rufan atau perkataan yang baik, qaulan kariman atau perkataan yang mulia, qaulan maysura atau perkataan yang mudah dan menyenangkan, serta qaulan layyinan atau perkataan yang lemah lembut.
Dalam situasi sulit seperti menghadapi provokasi, seorang Muslim dianjurkan untuk tidak membalas dengan kasar. Menyampaikan nasihat atau kritik pun harus dilakukan dengan cara bijaksana agar tidak menyakiti perasaan. Menolak ajakan kemungkaran juga bisa dilakukan dengan santun tanpa harus merendahkan orang lain.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip menjaga lisan ini, kehidupan seorang Muslim akan lebih berkah dan terhindar dari berbagai konflik yang seringkali bersumber dari ucapan yang tidak terjaga.
Revewed by Doel Rohim S.Hum.