Konten dari Pengguna

Bagaimana Zamzam Ditemukan: Kisah Hajar dan Mukjizat Air Suci

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

·waktu baca 3 menit

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Air suci. Foto by Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Air suci. Foto by Pexels.

Air zamzam memiliki sejarah panjang yang dimulai ribuan tahun lalu di lembah gersang Makkah. Kisah penemuannya tak lepas dari perjuangan seorang ibu bernama Hajar dan bayinya, Ismail, yang ditinggalkan di tengah gurun tanpa air dan makanan. Mukjizat munculnya mata air ini menjadi bagian penting dari sejarah Islam yang terus diceritakan hingga kini.

Memahami bagaimana zamzam ditemukan memberikan pelajaran tentang keimanan, kesabaran, dan ikhtiar. Kisah ini juga menunjukkan bahwa pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak terduga bagi hamba-Nya yang berserah diri.

Sejarah Penemuan Air Zamzam di Zaman Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim menerima perintah Allah untuk meninggalkan istri keduanya, Hajar, bersama bayi Ismail di lembah Makkah yang tandus. Saat itu, wilayah tersebut tidak berpenghuni dan sama sekali tidak memiliki sumber air.

Hajar bertahan dengan bekal air dan kurma yang terbatas. Ketika persediaan habis dan bayinya mulai kehausan, ia panik mencari air. Hajar berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali dengan penuh harap ada kafilah atau sumber air.

Di tengah kelelahan, Hajar melihat mukjizat luar biasa. Mata air tiba-tiba muncul dari bawah kaki Ismail setelah Malaikat Jibril menghentakkan sayap atau tumitnya ke tanah. Air terus memancar hingga Hajar berusaha membendungnya agar tidak mengalir kemana-mana.

Saat membendung air, Hajar berkata zam zam yang artinya berhenti berhenti. Dari sinilah nama zamzam berasal. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Semoga Allah merahmati ibu Ismail. Seandainya ia membiarkan zamzam tanpa membendungnya, atau seandainya ia tidak menimba air daripadanya, niscaya zamzam akan menjadi sungai yang mengalir di permukaan bumi.

Kehadiran air zamzam mengubah lembah Makkah dari gurun tandus menjadi permukiman. Suku Jurhum yang melintas melihat burung beterbangan di atas lembah dan mendekati lokasi tersebut. Mereka meminta izin Hajar untuk tinggal dan mengelola sumur zamzam bersama-sama. Sejak saat itu, Makkah mulai berkembang menjadi kawasan yang ramai.

Penemuan Kembali Zamzam di Masa Abdul Muthalib

Menurut Holisatur Rahma, Elok Ayu Nandari, dan Alfina Wildatul Fitriyah dalam artikel “Air Zam-zam dalam Perspektif Hadis dan Sains: Upaya Mendamaikan Agama dan Sains” (2024), air Zamzam telah ada sejak masa Nabi Ismail AS dan kemudian mengalami kekeringan. Sumur tersebut selanjutnya digali kembali oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW, setelah ia memperoleh petunjuk melalui mimpi. Penggalian kembali tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah keberadaan sumur Zamzam hingga kemudian airnya dapat dinikmati oleh umat manusia.

Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW, mendapat mimpi yang memberi petunjuk untuk menggali kembali sumur zamzam. Dalam mimpi tersebut, ia diperintahkan menggali di lokasi tertentu dekat patung Isaf dan Nailah di dalam kompleks Kakbah.

Abdul Muthalib memulai penggalian bersama putranya Al-Harits. Namun, usaha ini mendapat tentangan keras dari suku Quraisy yang menganggap sumur zamzam adalah milik bersama. Mereka menuntut hak untuk ikut mengelola jika sumur itu berhasil ditemukan.

Proses penggalian berlanjut hingga Abdul Muthalib menemukan harta karun berupa dua rusa emas, pedang, dan baju perang yang terkubur bersama sumur. Penemuan ini membuktikan bahwa lokasi tersebut memang sumur zamzam yang telah lama hilang.

Sejak saat itu, pengelolaan zamzam kembali kepada keturunan Abdul Muthalib. Hingga masa Nabi Muhammad SAW dan perkembangan Islam, sumur zamzam tetap menjadi bagian penting dari ibadah haji dan umrah. Penemuan kembali zamzam juga dipandang sebagai tanda persiapan kelahiran Nabi Muhammad yang akan membawa cahaya Islam ke seluruh dunia.

Revewed: Doel Rohim, S.Hum.