Hadis Dhaif: Pengertian, Penyebab, dan Hukum Mengamalkannya
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hadis dhaif seringkali menjadi perhatian dalam pembahasan ilmu hadis dan hukum Islam. Istilah ini merujuk pada hadis yang memiliki kelemahan dalam sanad atau matan, sehingga statusnya berbeda dengan hadis shahih maupun hasan. Memahami hadis dhaif, penyebab, serta ketentuannya sangat penting agar umat Islam bisa mengambil sikap yang tepat saat menjumpai hadis tersebut.
Apa yang Dimaksud dengan Hadis Dhaif?
Memahami istilah hadis dhaif menjadi langkah awal untuk menilai keabsahan sebuah riwayat. Hadis ini memiliki ciri dan perbedaan jelas dibandingkan jenis hadis lain, terutama dalam hal kekuatan sanad dan isi.
Menurut Ahmad Farih Dzakiy dkk. dalam kajiannya yang berjudul Hadis Dhaif dan Hukum Mengamalkannya (Al-Bayan: Journal of Hadith Studies, Vol.1 No. 1, Th. 2022), hadis dhaif adalah hadis yang sanad atau matannya tidak memenuhi syarat keshahihan. Artinya, hadis ini mengalami kelemahan baik dari segi rantai periwayatannya maupun isi pesannya, sehingga posisinya dianggap kurang kuat sebagai rujukan hukum Islam.
Hadis dhaif berbeda dengan hadis shahih dan hasan dari sisi kekuatan dan keabsahan. Hadis shahih memiliki sanad yang bersambung, perawi yang adil dan dhabit, serta tidak mengandung kejanggalan. Sementara hadis hasan juga memenuhi kriteria serupa, hanya saja tingkat ketelitian perawi sedikit di bawah shahih. Sedangkan hadis dhaif tidak memenuhi salah satu atau beberapa syarat tersebut.
Contoh Hadis Dhaif dalam Literatur Islam
Dalam literatur Islam, ditemukan beberapa hadis dhaif yang sering dikutip, seperti riwayat tentang keutamaan amal tertentu tanpa sumber sanad yang kuat. Misalnya, hadis mengenai keutamaan membaca surat tertentu di malam Jumat yang ternyata tidak didukung sanad kokoh seperti hadis shahih.
Penyebab hadis menjadi dhaif sangat beragam, mulai dari kelemahan sanad hingga masalah pada perawi. Menurut penjelasan Ahmad Farih Dzakiy dkk., memahami faktor penyebab ini penting untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dan mencegah kesalahan dalam pengambilan hukum.
Faktor-Faktor Utama Penyebab Hadis Dhaif
Hadis bisa menjadi dhaif karena adanya cacat pada sanad atau perawi, misalnya perawinya tidak dikenal atau dianggap lemah. Selain itu, matan atau isi hadis yang bertentangan dengan Al Quran atau realitas juga menjadi penyebab kedhaifan.
Cacat pada hadis bisa berupa sanad yang terputus (tidak bersambung) atau perawi yang lemah akibat sifat pelupa, pembohong, atau kurang cermat. Kelemahan ini menyebabkan hadis tidak dapat dijadikan pegangan kuat dalam penetapan hukum.
Mengetahui penyebab hadis menjadi dhaif sangat penting agar umat Islam tidak salah mengambil dalil. Hal ini membantu membedakan mana ajaran yang benar-benar bersumber dari Nabi dan mana yang perlu diwaspadai sebelum dijadikan rujukan hukum.
Apakah Hadis Dhaif Bisa Dijadikan Sumber Hukum?
Pertanyaan ini kerap muncul di kalangan umat Islam, terutama saat menemui hadis yang statusnya lemah. Pandangan para ulama dan syarat-syarat tertentu menjadi penentu apakah hadis dhaif dapat diamalkan.
Menurut kajian Ahmad Farih Dzakiy dkk., mayoritas ulama tidak menggunakan hadis dhaif sebagai dasar hukum kecuali dalam konteks keutamaan amal. Mereka sepakat untuk menghindari hadis dhaif dalam penetapan hukum wajib, haram, maupun muamalah.
Sementara itu hadis dhaif hanya boleh diamalkan jika berkaitan dengan keutamaan amal (fadail a’mal), tidak bertentangan dengan Al Quran, dan tidak berkaitan dengan hukum pokok. Selain itu, hadis dhaif tidak boleh diyakini secara mutlak sebagai sabda Nabi tanpa pertimbangan ulama.
Maka dari hal itu, bagi umat Islam, dianjurkan untuk berhati-hati terhadap hadis dhaif. Jika ingin mengamalkan, pastikan memenuhi syarat dan tidak menjadikannya sebagai landasan utama dalam beragama, terutama dalam hal hukum dan ibadah wajib.
Kesimpulan
Hadis dhaif adalah hadis yang sanad atau matannya lemah, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai dasar hukum yang kuat. Penyebab utamanya berkaitan dengan cacat pada sanad, perawi, atau isi hadis. Mayoritas ulama hanya membolehkan penggunaan hadis dhaif untuk keutamaan amal, dengan syarat tertentu.
Penting kiranya memahami kedudukan hadis dhaif membantu umat Islam bersikap kritis dan selektif dalam beragama. Dengan demikian, ajaran Islam tetap terjaga kemurniannya dan tidak mudah tercampur dengan riwayat lemah yang tidak bisa dipastikan berasal dari Nabi Muhammad.
Reviwed Doel Rohim S. Hum