Konten dari Pengguna

Hadis Mudallas: Pengertian, Hukum, dan Contoh Lengkap

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kitab hadis. Foto by Istock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kitab hadis. Foto by Istock

Hadis mudallas sering menjadi perbincangan dalam kajian ilmu hadis. Istilah ini merujuk pada jenis hadis yang memiliki kekhasan dalam penyampaian sanadnya. Artikel ini akan membahas pengertian hadis mudallas, bagaimana hukum dan penilaian ulama terhadapnya, serta contoh nyata dalam praktik periwayatan hadis.

Apa yang Dimaksud Hadis Mudallas?

Konsep hadis mudallas penting dipahami untuk mengetahui keaslian informasi dalam periwayatan hadis. Istilah mudallas sendiri berkaitan erat dengan proses penyampaian sanad yang dinilai kurang transparan.

Menurut kajian Zulham Alam, yang berjudul Perbedaan antara Hadis Mudallas dan Mursal (RIWAYAH : Jurnal Ilmu Hadis, Vol 1. No 2, Th. 2016) hadis mudallas adalah hadis yang mengandung unsur “penyamaran” dalam sanadnya—periwayat tidak menyebutkan guru yang sebenarnya, atau memakai nama yang tidak lazim sehingga sulit dikenali.

Dalam ilmu hadis, mudallas berarti sesuatu yang “diselubungi” atau “disamarkan”. Hal ini terjadi ketika seorang perawi tidak menyebutkan nama gurunya dengan jelas, atau menggunakan gelar yang asing. Penyembunyian ini bisa disengaja atau tidak, namun akibatnya sanad menjadi tidak transparan dan membuka celah keraguan.

Perbedaan Hadis Mudallas dan Hadis Mursal

Hadis mudallas kerap dibandingkan dengan hadis mursal. Menurut kajian Zulham Alam, hadis mursal adalah hadis yang sanadnya terputus karena seorang tabi’in langsung menyandarkan perkataan kepada Nabi tanpa menyebut sahabat.

Sedangkan hadis mudallas lebih pada permainan dalam penyebutan nama guru, bukan pemutusan sanad. Keduanya sama-sama menimbulkan pertanyaan soal keotentikan, namun letak ketidakjelasannya berbeda.

Maka menentukan hukum hadis mudallas membutuhkan ketelitian, sebab tidak semua hadis jenis ini otomatis tertolak. Setiap perawi dan bentuk tadlis, atau penyamaran, harus dilihat secara saksama.

Dalam buku Ilmu Hadis I (2020) karya Dr. Zikri Darussamin, dijelaskan bahwa status hadis mudallas sangat tergantung pada apakah periwayat tersebut memang mendengar langsung dari gurunya atau tidak.

Penilaian Ulama terhadap Hadis Mudallas

Sebagian ulama menilai hadis mudallas tidak bisa langsung diterima, apalagi jika tidak ada bukti kuat bahwa perawi mendengar hadis dari gurunya. Namun, jika ada indikasi kuat bahwa periwayatan terjadi secara langsung, hadis tersebut bisa diterima dengan syarat tertentu. Oleh karena itu, ulama hadis sangat berhati-hati dalam mengkaji sanad mudallas.

Tadlis jelas mempengaruhi kualitas hadis. Jika tadlis dilakukan terus-menerus tanpa klarifikasi, maka hadis tersebut menjadi lemah dan sulit dijadikan hujah. Sebagaimana dijelaskan dalam Dr. Zikri Darussamin, hukum hadis mudallas bergantung pada adanya kejelasan periwayatan antara perawi dan gurunya. Bila tidak ada kepastian, maka hadis tersebut masuk kategori dhaif atau lemah.

Salah satu bentuk tadlis yang sering ditemukan adalah tadlis syuyukh. Jenis ini terjadi ketika perawi menyebutkan nama gurunya dengan gelar atau julukan yang tidak umum, sehingga sulit diketahui siapa sebenarnya guru tersebut.

Tadlis syuyukh adalah upaya seorang perawi “menyamar” dalam periwayatan hadis dengan cara menyebut nama gurunya secara samar. Hal ini bisa berupa penggunaan nama yang jarang dipakai, atau menyembunyikan identitas guru dengan sebutan tertentu sehingga tidak mudah dikenali oleh orang lain.

Contoh hadis mudallas syuyukh yaitu seorang perawi menyebut gurunya dengan nama panggilan yang tidak lazim, padahal ia dikenal dengan nama lain di kalangan ahli hadis.

Hal ini menyulitkan pengecekan sanad, sebab nama yang digunakan tidak umum dan bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda. Praktik seperti ini bisa membuat validitas hadis diragukan, terutama jika ditemukan inkonsistensi dalam rantai periwayatan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa memahami hadis mudallas sangat penting dalam studi ilmu hadis. Dengan mengenali ciri-cirinya, peneliti dan pencari ilmu dapat memilah mana hadis yang layak dijadikan rujukan dan mana yang harus diteliti lebih lanjut.

Hadis mudallas memang menuntut kehati-hatian ekstra, karena ketidakjelasan sanad atau identitas perawi dapat memengaruhi keotentikan pesan yang disampaikan.

Sebagaimana ringkasan pada Ilmu Hadis I oleh Zikri Darussamin, memahami hadis mudallas penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam mengambil dalil agama. Pengetahuan tentang tadlis membantu menghindari penyebaran informasi yang tidak sahih, juga menjaga kemurnian ajaran Islam berdasarkan hadis yang benar-benar terverifikasi.

Reviwed Doel Rohim S.Hum