Konten dari Pengguna

Hadis Munqati’: Pengertian, Contoh, dan Perbedaannya dengan Hadits Mu’dhal

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto by Istock
zoom-in-whitePerbesar
Foto by Istock

Hadis dalam Islam memiliki kedudukan penting sebagai sumber ajaran setelah Al Quran. Masing-masing jenis hadis punya karakteristik yang perlu dipahami, salah satunya adalah hadis munqati’. Pembahasan mengenai hadis munqati’ sering dikaitkan dengan validitas sanad dan pengaruhnya dalam penetapan hukum. Artikel ini akan membahas secara ringkas apa yang dimaksud hadis munqati’, contohnya, serta perbedaannya dengan hadits mu’dhal.

Apa yang Dimaksud Hadis Munqati’?

Hadis munqati’ merupakan salah satu kategori sanad dalam ilmu hadis yang sering menjadi perhatian ulama. Menurut buku Metode al-Iraqy Metode Mudah Memahami Ilmu Hadits secara Berjenjang (2020) karya Dr. Wahidul Anam, hadis ini memiliki ciri tersendiri yang membedakannya dari jenis hadis lain. Pemahaman terhadap hadis munqati’ penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam menilai keabsahan suatu riwayat.

Secara sederhana, hadis munqati’ adalah hadis yang sanadnya terputus di salah satu bagian, sehingga tidak sampai secara lengkap kepada Nabi Muhammad SAW. Biasanya, putusnya sanad terjadi pada satu perawi sebelum tabi’in atau di antara perawi lain dalam rantai sanad.

Berdasarkan penjelasan Dr. Wahidul Anam, ciri khas hadis munqati’ adalah terputusnya sanad pada satu perawi saja, tidak berturut-turut seperti hadis mu’dhal. Kondisi ini menyebabkan hadis tersebut dinilai lemah (dhaif) dalam ilmu hadis, karena tidak jelas siapa yang membawa informasi di bagian yang terputus.

Untuk memahami karakteristik hadis munqati’, diperlukan contoh konkret. Dalam kajian hadis, contoh-contoh pendek sering digunakan agar lebih mudah diidentifikasi oleh para pelajar maupun masyarakat umum.

Contoh Hadis Munqati’ yang Sering Dijumpai

Salah satu contoh hadis munqati’ adalah riwayat yang hanya menyebutkan: “Dari Malik, dari Az-Zuhri, dari Nabi SAW.” Dalam contoh ini, terdapat perawi yang hilang antara Az-Zuhri dan Nabi, sehingga sanad tidak tersambung dengan sempurna.

Jika diamati, pada contoh tersebut, Az-Zuhri tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi. Menurut bDr. Wahidul Anam, inilah yang menyebabkan sanadnya dikategorikan munqati’. Ketiadaan satu perawi saja dalam rantai sanad sudah cukup membuat status hadis menjadi lemah.

Selain hadis munqati’, ada juga istilah hadis mu’dhal yang sering dibahas dalam ilmu hadis. Keduanya sama-sama berkaitan dengan sanad yang terputus, namun perbedaannya cukup jelas jika dicermati dengan seksama.

Pengertian Hadits Mu’dhal

Hadits mu’dhal adalah hadis yang sanadnya terputus pada dua perawi atau lebih secara berurutan. Biasanya, putusnya sanad terjadi di pertengahan rantai perawi, sehingga bagian penting dari riwayat tidak diketahui secara jelas.

Seperti dijelaskan dalam Metode al-Iraqy Metode Mudah Memahami Ilmu Hadits secara Berjenjang, hadis munqati’ dan mu’dhal sama-sama tidak bisa dijadikan hujjah dalam penetapan hukum, sebab sanadnya tidak bersambung. Keduanya tetap penting untuk dipelajari agar masyarakat tidak salah dalam memahami status hadis yang beredar.

Maka daro itu bisa disimpulkan bawa pemahaman tentang hadis munqati’ sangat penting dalam studi ilmu hadis. Dengan mengetahui ciri dan contohnya, masyarakat bisa lebih teliti dalam memilih riwayat yang dijadikan rujukan. Selain itu, membedakan hadis munqati’ dan mu’dhal membantu menghindari kekeliruan dalam penetapan hukum agama.

Hadis munqati’ memiliki sanad yang terputus pada satu perawi, sedangkan mu’dhal terputus pada dua perawi atau lebih secara berurutan. Keduanya dikategorikan lemah dan tidak dapat dijadikan dasar hukum syariat. Oleh karena itu, memahami jenis hadis seperti munqati’ adalah langkah awal untuk memperdalam kajian Islam secara kritis dan objektif.

Reviwed Doel Rohim S.Hum