Konten dari Pengguna

Hadis Mursal: Pengertian, Contoh, Macam-macam, dan Pandangan Madzhab Dzahiri

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto by Istock
zoom-in-whitePerbesar
Foto by Istock

Hadis mursal merupakan salah satu istilah penting dalam kajian ilmu hadis. Istilah ini kerap muncul dalam pembahasan tentang keabsahan dan otoritas hadis yang diriwayatkan tanpa perantara sahabat. Banyak ulama memberikan penjelasan khusus mengenai hadis mursal, termasuk contoh dan ragamnya. Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian, contoh, macam-macam, hingga pandangan Madzhab Dzahiri terkait hadis mursal.

Apa yang Dimaksud dengan Hadis Mursal?

Istilah hadis mursal sering muncul dalam diskusi ilmu hadis klasik maupun kontemporer. Menurut Achmad Azis Abidin dalam tesisnya, yang berjudul Kritik Hadis Mursal Menurut Imam Syafi’i Dalam Kitab Al-Umm (2021), hadis mursal didefinisikan sebagai hadis yang sanadnya terputus pada tingkat sahabat, yakni perawi tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan nama sahabat.

Secara umum, para ulama menyebut hadis mursal sebagai hadis yang sanadnya tidak lengkap karena tabi’in tidak menyebutkan sahabat yang menjadi perantara antara dirinya dan Nabi. Hal ini membuat hadis tersebut tidak memenuhi syarat sanad yang bersambung.

Adapun salah satu ciri utama hadis mursal adalah periwayatnya berasal dari kalangan tabi’in. Selain itu, dalam sanadnya, ada satu mata rantai yang hilang, yaitu sahabat. Hadis mursal berbeda dari hadis lain yang terputus pada posisi berbeda dalam sanad.

Hadis Mursal dalam Lintasan Sejarah Ilmu Hadis

Dalam sejarah ilmu hadis, hadis mursal telah menjadi bahan diskusi yang luas, terutama terkait keabsahan dan penggunaannya dalam penetapan hukum Islam. Sebagian madzhab menerima hadis mursal dengan syarat tertentu, sedangkan sebagian lain lebih ketat dalam menilai validitasnya.

Pembahasan contoh hadis mursal sangat penting untuk memahami penerapannya dalam praktik keilmuan Islam. Dalam penelitian Achmad Azis Abidin, dijelaskan beberapa contoh riwayat mursal yang sering dikaji dalam literatur hadis.

Salah satu contoh populer adalah riwayat dari tabi’in seperti Sa’id bin al-Musayyab, yang banyak meriwayatkan hadis langsung dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebut nama sahabat. Contoh ini sering digunakan dalam berbagai kitab hadis sebagai rujukan model hadis mursal.

Riwayat hadis mursal biasanya dianalisis dari sisi sanad dan periwayatnya. Ulama hadis akan meneliti apakah periwayat termasuk tabi’in dan menilai sejauh mana kepercayaan terhadap riwayat tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian seperti yang dilakukan oleh Achmad Azis Abidin menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam menerima hadis mursal sebagai dasar hukum.

Macam-macam Hadis Mursal

Hadis mursal memiliki beberapa klasifikasi berdasarkan periwayat dan tingkat keterputusan sanadnya. Pemahaman tentang jenis-jenis hadis mursal membantu dalam membedakan dengan hadis-hadis lain yang juga sanadnya terputus.

Klasifikasi utama hadis mursal biasanya didasarkan pada siapa periwayatnya. Jika periwayatnya tabi’in, maka disebut mursal secara istilah. Namun, ada juga ulama yang memperluas definisi ini untuk periwayat dari generasi setelah tabi’in.

Hadis mursal berbeda dengan hadis mu’dhal, di mana dua atau lebih perawi berturut-turut dihilangkan dari sanad. Sedangkan hadis munqathi’ adalah hadis yang sanadnya terputus di mana saja, tidak terbatas pada tingkatan tertentu. Menurut penjelasan dalam penelitian Achmad Azis Abidin, perbedaan ini menjadi dasar dalam menilai keabsahan masing-masing jenis hadis.

Pandangan Madzhab Dzahiri tentang Hadis Mursal

Madzhab Dzahiri memiliki pandangan tersendiri mengenai penggunaan hadis mursal dalam penetapan hukum. Ibnu Hazm, tokoh utama madzhab ini, memberikan argumentasi yang cukup berbeda dibanding madzhab lain.

Menurut penelitian Achmad Azis Abidin, Ibnu Hazm menolak penggunaan hadis mursal sebagai hujjah atau dasar hukum. Ia berpendapat bahwa hadis mursal tidak dapat dijadikan rujukan karena sanadnya tidak bersambung hingga Nabi Muhammad SAW. Pandangan ini dilatarbelakangi oleh prinsip kehati-hatian dalam menerima riwayat.

Karena menolak hadis mursal, Madzhab Dzahiri cenderung hanya menggunakan hadis yang sanadnya bersambung dan jelas. Implikasi hukumnya, banyak ketetapan dalam madzhab ini yang tidak menggunakan hadis mursal sebagai landasan.

Dalam hal ini pandangan Madzhab Dzahiri berbeda dengan madzhab Syafi’i atau Maliki yang menerima hadis mursal dengan syarat tambahan, seperti adanya riwayat penguat. Sementara itu, Madzhab Hanafi juga memiliki kriteria sendiri dalam menilai hadis mursal.

Maka bisa disimpulkan bahwa hadis mursal merupakan salah satu tipe hadis yang penting dalam studi ilmu hadis. Madzhab Dzahiri menolak penggunaan hadis mursal dalam penetapan hukum, berpegang pada prinsip kehati-hatian dan kejelasan sanad.

Meskipun demikian, tidak semua madzhab menerima hadis mursal sebagai hujjah, pemahaman terhadap jenis dan karakteristik hadis mursal tetap menjadi bagian penting dalam kajian keislaman saat ini. Hal ini agar umat Islam dapat lebih teliti dalam memahami sumber ajaran agama.

Reviwed Doel Rohim S.Hum