Konten dari Pengguna

Hadis Mutawatir: Pengertian, Contoh, dan Jenis-Jenis Hadis

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto by Istock
zoom-in-whitePerbesar
Foto by Istock

Hadis mutawatir merupakan istilah penting dalam kajian hadis Islam. Pemahaman tentang hadis mutawatir sangat dibutuhkan untuk memahami tingkat keaslian dan kekuatan sebuah riwayat dalam tradisi Islam. Artikel ini membahas pengertian, contoh, serta perbedaannya dengan jenis hadis lain menurut para ulama.

Apa yang Dimaksud dengan Hadis Mutawatir?

Hadis mutawatir adalah salah satu kategori hadis yang dikenal memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi. Dalam ilmu hadis, kategori ini digunakan untuk menilai validitas sebuah riwayat berdasarkan jumlah periwayat dan tingkat kejelasan sanadnya. Menurut buku Studi Komparasi Hadis Ahad dan Mutawatir (2014) karya Prof. Idri hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang pada setiap tingkatan sanad sehingga mustahil mereka sepakat untuk berdusta.

Hadis mutawatir didefinisikan sebagai hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dalam jumlah besar, mulai dari sahabat hingga perawi terakhir. Jumlah periwayat yang banyak ini menjadi jaminan bahwa hadis tersebut benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Syarat-Syarat Hadis Mutawatir

Terdapat beberapa syarat agar sebuah hadis dapat disebut mutawatir. Pertama, jumlah periwayat pada setiap tingkatan sanad harus banyak sehingga menurut akal sehat tidak mungkin mereka bersepakat untuk berbohong. Kedua, isi riwayat harus sama dan tidak bertentangan antara para perawi. Ketiga, sanad hadis harus bersambung dan tidak terputus.

Dalam ilmu hadis, hadis mutawatir menempati posisi tertinggi. Hadis ini dianggap memberikan pengetahuan yang pasti (qat’i) sehingga bisa dijadikan dasar hukum tanpa keraguan. Al-Quran sendiri sering menegaskan pentingnya kejelasan dalam penyampaian berita, seperti dalam surat Al-Hujurat ayat 6 yang meminta verifikasi informasi sebelum dipercaya.

Contoh Hadis Mutawatir

Hadis mutawatir mudah dikenali dari banyaknya jumlah perawi yang meriwayatkannya. Ciri ini membuatnya berbeda dari hadis lain dengan jalur periwayatan yang lebih sedikit.

Salah satu contoh hadis mutawatir adalah hadis tentang,"Man kazaba ‘alayya muta‘amidan falyatabawwa’ maq’adahu minan nar" yang artinya, "Barang siapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka." Hadis ini diriwayatkan oleh puluhan sahabat, sehingga tidak diragukan lagi keasliannya.

Selain contoh di atas, ada juga hadis-hadis mutawatir lain seperti hadis tentang cara shalat Nabi, hadis mengenai air laut yang suci, dan hadis tentang melihat Allah di akhirat. Semua hadis tersebut diriwayatkan oleh berbagai jalur periwayatan dan tercatat dalam kitab-kitab hadis besar seperti kitab Bukhari dan Muslim.

Empat Jenis Hadis dalam Ilmu Hadis

Dalam kajian hadis, dikenal empat kategori utama yang membedakan tingkat keaslian dan kekuatan riwayat. Setiap kategori memiliki kriteria khusus yang harus dipenuhi.

Hadis Mutawatir

Hadis mutawatir adalah hadis yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang sehingga mustahil terjadi kebohongan bersama.

Hadis Ahad

Hadis ahad merupakan hadis yang periwayatnya tidak memenuhi syarat jumlah untuk disebut mutawatir. Hadis ini bisa saja shahih, hasan, atau dhaif tergantung kualitas sanad dan matannya.

Hadis Shahih

Hadis shahih adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan kuat hafalannya, serta tidak mengandung cacat (illat) maupun kejanggalan (syadz).

Hadis Dhaif

Sedangkan hadis dhaif adalah hadis yang tidak memenuhi syarat sebagai hadis shahih atau hasan. Kelemahan bisa terjadi karena sanad terputus, perawi tidak dikenal, atau ada faktor lain yang mengurangi validitasnya.

Studi Komparatif Hadis Ahad dan Mutawatir

Dalam banyak studi dijelaskan bahwa hadis ahad dan mutawatir berbeda secara mendasar pada jumlah periwayatnya. Hadis mutawatir memiliki banyak periwayat di setiap tingkatan, sementara hadis ahad periwayatnya terbatas. Perbedaan jumlah ini memengaruhi tingkat keyakinan atas kebenaran isi hadis.

Menurut Prof. Idri, hadis mutawatir memberikan kepastian pengetahuan sehingga dapat dijadikan dasar akidah dan hukum. Sementara itu, hadis ahad hanya menghasilkan pengetahuan zanni atau dugaan kuat, sehingga penggunaannya dalam penetapan akidah lebih hati-hati.

Hingga kini hadis mutawatir menjadi acuan utama dalam penetapan hukum Islam karena tingkat kebenarannya yang tinggi. Keunikan hadis ini terletak pada jumlah periwayat yang sangat banyak, sehingga mustahil terjadi kebohongan bersama. Selain hadis mutawatir, ada juga hadis ahad, shahih, dan dhaif yang memiliki peran masing-masing dalam tradisi keilmuan Islam.

Memahami perbedaan jenis hadis, terutama hadis mutawatir dan ahad, sangat penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam menilai keaslian suatu riwayat. Kajian hadis mutawatir membantu memperkuat dasar keimanan dan praktik keagamaan umat Islam.

Reviwed Doel Rohim S.Hum