Hakikat Monoteisme Islam: Kajian atas Konsep Tauhid “Laa Ilaaha Illallah”
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Monoteisme menjadi fondasi utama dalam banyak agama besar di dunia, terutama dalam Islam. Istilah ini kerap dikaitkan dengan keyakinan akan satu Tuhan, yang menjadi pusat keimanan dan ibadah. Dalam pembahasan kali ini, konsep monoteisme akan diuraikan secara lebih dalam, khususnya dalam kaitannya dengan tauhid dan kalimat “Laa Ilaaha Illallah” menurut kajian Roni Ismail.
Pengertian Monoteisme
Monoteisme menjadi istilah penting dalam ranah keagamaan, terutama bagi masyarakat yang memegang teguh kepercayaan kepada satu Tuhan. Konsep ini telah ada sejak lama dan menjadi pembeda utama antara agama-agama samawi dan kepercayaan politeistik.
Baca juga: Ramadhan: Ensiklopedia Lengkap Bulan Suci dalam Tradisi Islam dan Budaya Dunia
Definisi Monoteisme dalam Konteks Agama
Monoteisme merujuk pada keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan yang layak disembah dan diimani. Dalam konteks agama besar seperti Islam, Kristen, dan Yahudi, monoteisme menjadi dasar dari seluruh ajaran. Segala bentuk penyembahan diarahkan hanya kepada Tuhan yang Maha Esa.
Monoteisme Menurut Roni Ismail
Menurut Roni Ismail dalam Jurnal: Hakikat Monoteisme Islam, menyebutkan, monoteisme bukan sekadar menolak adanya banyak tuhan, tetapi juga menegaskan bahwa hanya Tuhan yang berhak diibadahi. Penekanan ini menempatkan Tuhan di posisi tertinggi, tanpa sekutu atau perantara dalam hal keimanan dan ibadah.
Perbedaan Monoteisme dan Henoteisme
Meskipun monoteisme sering disamakan dengan henoteisme, kedua istilah ini memiliki makna dan cakupan yang berbeda. Pemahaman akan perbedaan keduanya penting agar tidak terjadi kerancuan dalam beragama.
Apa Itu Henoteisme?
Henoteisme adalah kepercayaan yang mengakui satu Tuhan sebagai yang utama namun tidak menolak kemungkinan adanya tuhan-tuhan lain. Dalam praktiknya, penganut henoteisme mungkin memfokuskan ibadah pada satu sosok, tetapi tetap mengakui keberadaan dewa atau tuhan lain di luar sosok tersebut.
Ciri Khas Monoteisme dan Henoteisme
Ciri utama monoteisme terletak pada penolakan mutlak terhadap segala bentuk penyekutuan Tuhan. Seluruh pengabdian, doa, dan ibadah hanya ditujukan kepada Tuhan yang satu. Sementara itu, henoteisme lebih bersifat inklusif, memberi ruang bagi keberadaan tuhan lain walau tetap menempatkan satu sebagai pusat utama.
Penjelasan Perbedaan oleh Roni Ismail
Perbedaan utama antara monoteisme dan henoteisme adalah dalam sikap eksklusivitas ibadah. Monoteisme menuntut ketegasan dalam mengesakan Tuhan, sedangkan henoteisme masih membuka kemungkinan bagi eksistensi tuhan lain di luar pusat ibadah.
Monoteisme dalam Islam: Konsep Tauhid “Laa Ilaaha Illallah”
Islam menempatkan monoteisme sebagai inti ajaran, dikenal dengan konsep tauhid. Kalimat “Laa Ilaaha Illallah” menjadi simbol sekaligus penegasan atas keesaan Tuhan dalam praktik beragama umat Muslim.
Makna Tauhid dalam Islam
Menurut Roni Ismail, tauhid berarti mengesakan Allah dalam segala aspek kehidupan. Tauhid menolak segala bentuk kemusyrikan dan menetapkan bahwa hanya Allah yang layak diibadahi, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat Al-Ikhlas.
Penegasan “Laa Ilaaha Illallah” sebagai Esensi Monoteisme
Roni Ismail menekankan bahwa kalimat “Laa Ilaaha Illallah” merupakan inti dari monoteisme dalam Islam. Kalimat ini tidak hanya diucapkan sebagai syahadat, tetapi juga menjadi dasar seluruh perilaku, keyakinan, dan hukum dalam Islam.
Implikasi Tauhid bagi Kehidupan Muslim
Tauhid membawa dampak besar dalam kehidupan seorang Muslim. Tauhid membentuk sikap tawakal, keikhlasan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial karena menyadari segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Kesimpulan: Hakikat Monoteisme dalam Islam
Ringkasan Konsep Monoteisme dan Tauhid
Monoteisme menjadi pilar utama dalam Islam, menuntut keyakinan bulat pada satu Tuhan dan penolakan terhadap segala bentuk penyekutuan. Tauhid, yang terangkum dalam kalimat “Laa Ilaaha Illallah”, mengikat seluruh aspek keyakinan dan amalan seorang Muslim.
Pentingnya Pemahaman Monoteisme untuk Umat Islam
Pemahaman monoteisme tidak hanya memperkuat keimanan, tetapi juga memberi arah hidup yang jelas. Umat Islam diingatkan untuk selalu menjaga kemurnian tauhid dalam setiap aspek kehidupan, sesuai ajaran Alquran dan penegasan para ulama.
Reviewed by Ajid Fuad Muzaki S.Th.I