Konten dari Pengguna

Ilmu Laduni Adalah: Pengetahuan Langsung dari Allah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seseorang sedang sholat berjamaah foto by Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Seseorang sedang sholat berjamaah foto by Pexels

Dalam khazanah keilmuan Islam, ada jenis pengetahuan yang tidak didapat lewat belajar di kelas atau membaca buku. Pengetahuan ini datang langsung dari Allah kepada hamba-Nya yang terpilih. Masyarakat Muslim menyebutnya sebagai ilmu laduni, sebuah konsep yang berkaitan erat dengan dimensi spiritual dalam Islam.

Konsep ini menjadi pembahasan penting dalam tradisi tasawuf dan tafsir Al-Quran. Salah satu tokoh yang membahasnya secara mendalam adalah Imam Al-Qusyairi melalui kitab tafsir sufinya, Lathaif Al-Isyarat. Memahami ilmu laduni dapat membuka wawasan tentang berbagai jalan Allah menganugerahi ilmu kepada hamba-Nya.

Apa Itu Ilmu Laduni?

Definisi dan Sumber Ilmu Laduni

Secara bahasa, kata laduni berasal dari kata ladun yang artinya dari sisi atau dari tempat tertentu. Dalam konteks ilmu, laduni merujuk pada pengetahuan yang bersumber langsung dari sisi Allah tanpa proses belajar konvensional. Sifatnya adalah pemberian atau karunia langsung, bukan hasil upaya manusia.

Landasan utama konsep ini ada dalam Surah Al-Kahfi ayat 65. Ayat tersebut menceritakan kisah Nabi Khidir yang memiliki ilmu khusus dari Allah. Disebutkan bahwa Allah telah mengajarinya ilmu dari sisi-Nya, yang kemudian dipahami ulama sebagai bentuk ilmu laduni.

Menurut Baidawi & Ihwan Amalih dalam penelitiannya tentang Konsep Ilmu Ladunî Dalam Al-Quran (Studi Atas Tafsir Sufi Al-Qusyairî Dalam Laṭâif Al-Isyârât), (El-Waroqoh: Jurnal Ushuluddin dan Filsafat: Vol. 4, No. 2, Th. 2020) ilmu jenis ini bersifat wahbi atau pemberian murni dari Allah. Penerimanya tidak melakukan usaha belajar secara lahiriah seperti membaca atau mendengar pengajaran dari guru manusia. Pengetahuan itu hadir begitu saja di dalam hati sebagai anugerah ilahi.

Perbedaan Ilmu Laduni dengan Ilmu Kasbi

Dalam tradisi Islam, ilmu terbagi menjadi dua kategori besar. Pertama adalah ilmu kasbi, yaitu ilmu yang diperoleh lewat usaha dan proses belajar. Seseorang belajar dari guru, membaca kitab, atau mengikuti pendidikan formal untuk mendapatkannya.

Kategori kedua adalah ilmu laduni yang datang tanpa proses belajar konvensional. Perbedaan keduanya terletak pada cara perolehan dan sumbernya. Ilmu kasbi merupakan hasil ikhtiar manusia dengan bimbingan guru atau referensi tertulis. Sementara ilmu laduni adalah anugerah langsung dari Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya.

Meski berbeda, bukan berarti ilmu laduni lebih tinggi atau lebih rendah dari ilmu kasbi. Keduanya memiliki kedudukan masing-masing dalam hierarki pengetahuan Islam. Yang membedakan adalah proses dan jalur perolehannya, bukan kualitas atau kebermanfaatannya bagi umat.

Pandangan Al-Qusyairi tentang Ilmu Laduni

Tafsir Lathaif Al-Isyarat tentang Ilmu Laduni

Al-Qusyairi adalah ulama besar yang hidup pada abad ke-11 Masehi. Beliau menulis tafsir sufi berjudul Lathaif Al-Isyarat yang membahas Al-Quran dari perspektif tasawuf. Dalam tafsir ini, Al-Qusyairi mengupas konsep ilmu laduni dengan pendekatan spiritual yang mendalam.

Menurut Al-Qusyairi, ilmu laduni diberikan kepada hamba yang telah mencapai tingkat kesucian batin tertentu. Hati yang bersih dari kotoran duniawi menjadi wadah yang layak menerima pengetahuan langsung dari Allah. Interpretasi ini menekankan pentingnya kesucian jiwa sebagai syarat utama.

Al-Qusyairi juga menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan pemberian ilmu kepada para nabi dan hamba saleh. Kisah Nabi Khidir menjadi rujukan utama dalam menjelaskan bagaimana Allah memberikan pengetahuan tanpa perantara guru manusia. Proses ini bersifat langsung dari hati Allah ke hati hamba-Nya.

Cara Memperoleh Ilmu Laduni Menurut Al-Qusyairi

Pemberian ilmu laduni bukan tanpa syarat. Menurut Al-Qusyairi dalam Lathaif Al-Isyarat, ada tahapan spiritual yang harus dilalui seseorang. Tahapan pertama adalah tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa dari sifat-sifat tercela seperti sombong, rakus, dan dengki.

Setelah jiwa bersih, seseorang perlu mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan dzikir secara konsisten. Kedekatan spiritual ini membuka pintu hati untuk menerima cahaya ilmu dari Allah. Proses ini memerlukan kesabaran dan ketekunan dalam menjalani jalan spiritual.

Al-Qusyairi menegaskan bahwa ilmu laduni bukan hasil dari kehebatan manusia. Ilmu ini murni anugerah yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Seseorang hanya bisa mempersiapkan diri dengan membersihkan hati dan mendekatkan diri, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Allah.

Relevansi pemahaman tentang ilmu laduni di era modern tetap penting. Konsep ini mengingatkan bahwa tidak semua pengetahuan bisa dicapai hanya dengan upaya rasional. Ada dimensi spiritual dalam pencarian ilmu yang tidak boleh diabaikan, terutama dalam memahami hakikat kehidupan dan ketuhanan.

Revewed by Doel Rohim S.Hum.