Islam Sunni: Sejarah, Perbedaan dengan Syiah, dan Kepemimpinan dalam Islam
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Islam Sunni menjadi salah satu pemahaman terbesar dalam sejarah Islam. Banyak umat Muslim di dunia mengikuti ajaran ini dan menjadikannya sebagai landasan dalam menjalankan agama. Untuk memahami lebih dalam, penting mengetahui sejarah, perbedaan dengan Syiah, serta siapa yang menjadi teladan dalam Islam Sunni.
Dalam konteks bulan Ramadhan, pembahasan terkait hal ini dapat ditelusuri lebih lanjut melalui ruang kajian ramadhan ensiklopedia lengkap bulan suci.
Pengertian dan Sejarah Islam Sunni
Islam Sunni dikenal sebagai kelompok mayoritas dalam dunia Islam. Mereka memiliki tradisi dan pemahaman yang kuat dalam menjalankan ajaran agama sesuai dengan contoh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Perkembangan Islam Sunni erat kaitannya dengan sejarah awal umat Islam, khususnya setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Definisi Islam Sunni
Secara sederhana, Islam Sunni adalah cabang Islam yang berpegang pada sunnah Nabi Muhammad SAW. Istilah “Sunni” merujuk pada kata “sunnah” yang berarti tradisi atau kebiasaan Nabi. Umat Sunni meyakini bahwa mengikuti sunnah merupakan jalan yang benar dalam memahami dan mempraktikkan ajaran Islam.
Asal Usul dan Perkembangan Islam Sunni
Awal mula Islam Sunni bermula setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Umat Islam saat itu menghadapi persoalan kepemimpinan. Sebagian besar sahabat sepakat memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dari sinilah tradisi Sunni berkembang dan terus berlanjut hingga sekarang, dengan menekankan pentingnya ijma’ dan musyawarah dalam urusan umat.
Menurut Jurnal Al-Jami’ah Sunni dalam Perspektif Sejarah karya Nourouzzaman Siddiqi, Islam Sunni berkembang melalui proses sejarah yang panjang dan bertahap. Perkembangannya dipengaruhi oleh dinamika pasca-kenabian, termasuk sikap mayoritas sahabat dan ulama awal yang menekankan musyawarah, kesepakatan umat, dan persatuan jama‘ah dalam menentukan kepemimpinan serta memahami ajaran Islam.
Perbedaan Islam Sunni dan Syiah
Perbedaan Islam Sunni dan Syiah berakar pada sejarah awal Islam. Kedua kelompok memiliki pandangan yang berbeda, terutama terkait kepemimpinan dan praktik keagamaan. Meski sama-sama merujuk pada Al-qur'an sebagai kitab suci, ada interpretasi dan tradisi yang membedakan keduanya.
Latar Belakang Perbedaan
Perpecahan antara Sunni dan Syiah bermula setelah wafatnya Nabi Muhammad. Umat Muslim terbagi dalam menentukan siapa yang berhak memimpin. Sunni mendukung sistem musyawarah, sedangkan Syiah berpegang pada garis keturunan Nabi. Perpecahan berakar dari perselisihan mengenai siapa pemimpin (khalifah) yang sah bagi umat Muslim
Perbedaan dalam Aspek Teologi
Dalam aspek teologi, Islam Sunni menekankan pentingnya sunnah dan ijma’ ulama sebagai sumber hukum setelah Alquran. Sementara itu, Syiah lebih menonjolkan peran imam yang menurut mereka memiliki otoritas spiritual khusus. Kedua kubu memiliki sistem kepercayaan dan praktik yang berbeda dalam memahami wahyu dan hukum agama.
Perbedaan Praktik Keagamaan
Umat Sunni dan Syiah juga memiliki perbedaan dalam ibadah sehari-hari. Misalnya, tata cara salat, doa, atau peringatan hari-hari besar Islam. Sunni cenderung mengikuti tata cara yang diwariskan langsung dari sahabat Nabi, sedangkan Syiah memiliki ritual khusus sesuai ajaran imam mereka.
Pandangan Politik dan Kepemimpinan
Dalam urusan politik, Islam Sunni mempercayai kepemimpinan yang dipilih melalui musyawarah atau konsensus. Sementara itu, Syiah meyakini bahwa pemimpin harus berasal dari keturunan Nabi. Perdebatan mengenai kepemimpinan ini menjadi salah satu pemicu utama terbentuknya dua mazhab besar dalam Islam.
Selain itu, perbedaan antara Sunni dan Syiah tidak hanya soal politik, tapi juga menyangkut cara memahami ajaran agama dan kepemimpinan. Hal ini membentuk identitas dan praktik keagamaan yang berbeda hingga sekarang.
Kepemimpinan dalam Islam Sunni
Menurut buku Pengaruh Politik Sunni dan Syiah Terhadap Perkembangan Ilmu Hadis karya Helmi Candra dkk, kepemimpinan dalam Islam Sunni diatur dengan prinsip musyawarah dan konsensus. Umat Sunni tidak menetapkan satu imam mutlak, melainkan mengikuti para pemimpin agama yang diakui keilmuannya. Hal ini menciptakan keragaman dalam pemahaman fiqih dan praktik ibadah.
Konsep Imamah dalam Islam Sunni
Islam Sunni memahami konsep imamah sebagai kepemimpinan umat yang tidak harus berasal dari keluarga Nabi. Pemimpin dipilih melalui musyawarah, dan peran mereka lebih pada urusan duniawi dan menjaga stabilitas umat.
Siapa yang Diikuti oleh Umat Sunni?
Umat Islam Sunni mengikuti para ulama dan imam mazhab yang telah diakui keilmuannya. Mereka tidak menganggap satu individu sebagai imam utama, melainkan mengacu pada pendapat para ahli agama yang berbeda-beda sesuai mazhabnya.
Empat Imam Mazhab dalam Islam Sunni
Islam Sunni dikenal dengan empat mazhab besar yang menjadi rujukan utama dalam memahami agama. Setiap mazhab memiliki ciri khas dan metode pengambilan hukum yang berbeda.
Imam Hanafi, Mazhab Hanafi didirikan oleh Imam Abu Hanifah. Mazhab ini banyak berkembang di wilayah Asia Tengah, Turki, hingga Indonesia bagian barat.
Imam Maliki, Mazhab Maliki dipelopori oleh Imam Malik bin Anas. Mazhab ini banyak diikuti di Afrika Utara seperti Maroko dan Tunisia.
Imam Syafi’i, Imam Syafi’i menjadi pendiri mazhab Syafi’i yang sangat populer di Indonesia, Mesir, dan sebagian besar Asia Tenggara.
Imam Hanbali, Imam Ahmad bin Hanbal adalah tokoh utama mazhab Hanbali. Mazhab ini banyak dianut di wilayah Arab Saudi dan sekitarnya.
Secara umum, kepemimpinan dalam Islam Sunni bersifat kolektif dan mengedepankan musyawarah. Para imam mazhab dijadikan panutan utama dalam pengambilan hukum dan tata cara beribadah.
Penutup
Islam Sunni memiliki sejarah panjang dan perbedaan yang jelas dengan Syiah, baik dalam hal kepemimpinan, praktik keagamaan, maupun teologi. Umat Sunni menjadikan musyawarah dan ijma’ sebagai dasar dalam memilih pemimpin serta menjalankan ajaran agama.
Memahami Islam Sunni penting agar kita bisa melihat keragaman dalam umat Islam secara lebih luas. Setiap perbedaan memiliki latar belakang sejarah dan nilai yang membentuk identitas masing-masing kelompok.
Reviewed by Ajid Fuad Muzaki S.Th.I