Istihlal: Pengertian, dan Hubungannya dengan Istidlal dalam Metodolog ijtihad
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istihlal menjadi istilah penting dalam pembahasan hukum Islam, terutama saat membahas metode penetapan hukum. Istilah ini kerap muncul ketika membahas ijtihad, istidlal, dan penggunaan hadits. Artikel ini mengulas arti istihlal, dalil hadits terkait, dan hubungannya dengan metode istidlal dalam proses ijtihad.
Apa Arti Istihlal?
Istihlal merupakan istilah yang cukup sering ditemukan dalam diskusi hukum Islam. Pemahaman yang tepat mengenai istihlal sangat penting, terutama saat membedakannya dengan metode lain seperti istidlal. Menurut kajian hukum Islam, istilah ini erat kaitannya dengan proses penetapan hukum berdasarkan sumber-sumber utama.
Istihlal merujuk pada tindakan menghalalkan sesuatu yang secara tegas telah diharamkan oleh syariat. Dalam praktiknya, istihlal berarti menetapkan hukum halal terhadap sesuatu yang oleh Al Quran atau hadits telah ditetapkan sebagai haram. Tindakan ini dianggap serius karena dapat menimbulkan kekeliruan dalam memahami batasan hukum.
Perbedaan Istihlal dan Istidlal
Istihlal berbeda dengan istidlal. Istidlal adalah metode menggali hukum dari dalil, baik berupa Al Quran, hadits, ijma’, maupun qiyas. Sementara itu, istihlal lebih merujuk pada sikap atau tindakan seseorang yang mengubah status hukum syariat tanpa dasar yang jelas. Istidlal selalu mengacu pada dalil yang sah, sedangkan istihlal justru mengabaikan ketetapan yang sudah jelas.
Menurut Metode Istidlal dan Istishab: Formulasi Metodologi Ijtihad (Yudisia: Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam, Vol. 8, No. 2, Th. 2017) karya Umar Muhaimin, istihlal sering terjadi akibat kesalahan dalam memahami dalil. Penulis menekankan pentingnya ketelitian dalam proses penetapan hukum agar tidak terjebak pada istihlal yang dilarang syariat.
Hadits tentang Istihlal
Hadits memiliki peran sentral dalam menjelaskan batas-batas istihlal. Melalui hadits, umat Islam dapat memahami contoh nyata praktik istihlal dan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan dari hadits juga menjadi pedoman utama dalam menegakkan hukum.
Terdapat beberapa hadits yang menyinggung tentang istihlal, khususnya mengenai mereka yang berani menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah menyebutkan bahwa ada orang yang menganggap riba halal, padahal sudah jelas keharamannya dalam Alquran. Hadits ini menjadi peringatan bagi siapa saja yang tergelincir dalam pemahaman hukum.
Implikasi Istihlal dalam Praktik Hukum Islam
Istihlal berpotensi besar menimbulkan kekacauan dalam praktik hukum Islam. Ketika seseorang atau kelompok menetapkan hukum baru tanpa dasar yang kuat, masyarakat bisa mendapat pemahaman yang keliru. Oleh sebab itu, ulama selalu mengingatkan pentingnya berhati-hati agar tidak terjatuh pada istihlal.
Salah satu contoh istihlal dalam hadits adalah kasus khamr atau minuman keras. Ketika ada yang mengubah nama khamr dan menganggapnya halal, padahal tetap memabukkan, Rasulullah menegaskan status haramnya tidak berubah. Ini menunjukkan bahwa perubahan nama atau bentuk tidak bisa dijadikan alasan untuk menghalalkan sesuatu yang jelas keharamannya.
Istihlal dan Istirdo dalam Formulasi Metodologi Ijtihad
Istihlal, istidlal, dan istirdo merupakan bagian dari pembahasan penting dalam metodologi ijtihad. Ketiganya saling terkait dalam proses penetapan hukum, baik dari sisi dalil maupun penerapannya.
Istihlal menjadi peringatan dalam proses istidlal. Setiap upaya mengeluarkan hukum dari dalil wajib berhati-hati agar tidak terjebak dalam istihlal. Metode istidlal yang benar selalu mengacu pada dalil yang jelas dan tidak bertentangan dengan ketetapan syariat.
Sementara, Istirdo mengacu pada upaya mencari kepastian hukum melalui penalaran yang hati-hati. Dalam proses ini, ulama berusaha memastikan setiap penetapan hukum benar-benar berlandaskan dalil yang kuat. Penggabungan antara istidlal dan istirdo sangat penting untuk mencegah terjadinya istihlal.
Sementara seperti dijelaskan dalam jurnal di atas, Umar Muhaimin menegaskan bahwa proses istidlal harus berjalan dengan prinsip kehati-hatian agar tidak mudah terjebak pada istihlal. Penulis menyebutkan bahwa setiap bentuk penetapan hukum yang berpotensi istihlal harus dihindari demi menjaga kemurnian syariat.
Akhirnya bisa disimpulkan Istihlal memiliki pengaruh besar dalam jalannya hukum Islam, baik di tingkat teori maupun praktik. Pemahaman yang tepat mengenai istihlal membantu para ahli hukum dan masyarakat dalam menjaga kemurnian syariat dan menghindari kesalahan penetapan hukum.
Penting untuk selalu memahami istihlal dalam metodologi ijtihad. Dengan begitu, proses penetapan hukum berjalan sesuai prinsip kehati-hatian, mengacu pada dalil yang sah, dan terhindar dari perubahan status hukum yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Reviwed by Doel Rohim S.Hum