Konten dari Pengguna

Kajian Tentang Hadis Hasan Menurut Ulama Hadis Kontemporer

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto by Istock
zoom-in-whitePerbesar
Foto by Istock

Hadis hasan menjadi salah satu istilah penting dalam kajian ilmu hadis. Banyak ulama membahasnya agar umat Islam mudah membedakan kualitas sebuah hadis. Memahami hadis hasan berarti memahami sumber ajaran dengan lebih cermat, apalagi jika dikaitkan dengan praktik sehari-hari.

Pengertian Hadis Hasan secara Bahasa dan Istilah

Memahami hadis hasan tidak cukup hanya dari satu sisi. Penting untuk menelusuri makna secara bahasa maupun istilah dalam tradisi keilmuan Islam. Menurut kitab Manhaj an-Naqd fi ‘Ulūm al-Hadīts (1970) karya Prof. Nuruddin 'Itr dari Damaskus, hadis hasan memiliki posisi tersendiri dalam klasifikasi hadis yang digunakan para ulama.

Secara bahasa, kata “hasan” dalam bahasa Arab berarti baik, indah, atau sesuatu yang menyenangkan. Istilah ini mudah ditemukan dalam penggunaan sehari-hari, termasuk dalam Al Quran ketika Allah menyebut amal baik sebagai “amal hasan”.

Makna Hadis Hasan secara Terminologi Ilmu Hadis

Dalam ilmu hadis, istilah hasan dipakai untuk menandai hadis yang kebaikannya diakui berdasarkan penilaian tertentu. Hadis hasan bukan berarti sempurna, tetapi tetap dinilai cukup layak dijadikan rujukan dalam pengamalan, terutama saat tidak ditemukan hadis shahih pada topik yang sama.

Menurut Prof. Nuruddin 'Itr dalam karyanya, hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil, tidak ada syadz (kejanggalan), dan tidak ada 'illat (cacat tersembunyi). Satu-satunya perbedaan dengan hadis sahih adalah bahwa tingkat dhabith (kekuatan ingatan/hafalannya) sedikit kurang sempurna, digambarkan sebagai "kurang fasih" atau "hafalannya ringan" (khafīf ad-dhabt).

Kriteria Hadis Hasan dalam Ilmu Hadis

Menentukan sebuah hadis sebagai hasan memerlukan pengamatan pada beberapa aspek utama. Proses ini bertujuan agar hadis yang dipilih untuk diamalkan benar-benar memiliki tingkat kepercayaan yang memadai. Posisi hadis hasan cukup penting karena sering menjadi rujukan dalam banyak amalan.

Para ulama sepakat bahwa syarat utama hadis hasan meliputi sanad yang bersambung, para perawi yang adil, serta kekuatan hafalan yang cukup meskipun tidak sekuat hadis shahih. Selain itu, hadis tidak boleh mengandung cacat fatal dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat.

Perbandingan Kriteria Hadis Hasan dan Hadis Shahih

Hadis shahih memiliki standar yang lebih tinggi dibandingkan hadis hasan, terutama pada aspek kekuatan hafalan perawi. Sedangkan hadis hasan tetap memenuhi syarat utama, hanya saja tingkat ketelitian dan hafalan perawinya lebih rendah dibandingkan hadis shahih.

Prof. Nuruddin 'Itr menjelaskan bahwa hadis hasan memiliki kriteria yang jelas, yaitu sanad yang bersambung, perawi yang adil, serta kekuatan hafalan yang cukup meski tidak sempurna. Menurutnya, selama tidak ada cacat yang merusak, hadis hasan masih dapat dijadikan pegangan dalam beramal.

Memahami konsep hadis hasan agaknya akan lebih mudah jika ada contoh nyata. Hadis hasan banyak ditemukan dalam kitab-kitab hadis dan seringkali digunakan untuk mendukung amalan sehari-hari. Penting juga memahami alasan mengapa sebuah hadis digolongkan sebagai hasan.

Contoh Hadis Hasan Pendek

Sebagaimana dicontohkan oleh Prof. Nuruddin 'Itr salah satu hadis hasan berbunyi: “Sesungguhnya Allah itu baik dan mencintai kebaikan.” Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa perawi dengan sanad yang memenuhi syarat hasan, meski tidak sekuat hadis shahih.

Hadis tersebut dinilai hasan karena perawinya dapat dipercaya meski hafalannya tidak sekuat perawi hadis shahih. Namun, isi atau matan hadis tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Oleh karena itu, hadis ini tetap bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hikmah dan Pelajaran dari Hadis Hasan

Dari hadis hasan, umat Islam mendapat pelajaran untuk senantiasa berbuat baik. Hadis hasan juga menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengutamakan keabsahan formal, tetapi juga nilai-nilai moral dan praktik yang bisa dijalankan secara nyata.

Pada akhirnya bisa ditarik kesimpulan bahwa hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, perawinya adil dan cukup kuat hafalannya, serta tidak mengandung cacat berat. Kriteria ini diuraikan secara rinci oleh Prof. Nuruddin 'Itr, sehingga memudahkan umat Islam memahami posisi hadis hasan di antara hadis shahih dan dhaif.

Maka dari itu, kajian tentang hadis hasan tetap relevan hingga kini. Banyak persoalan keagamaan yang membutuhkan rujukan hadis dengan kualitas memadai. Oleh karena itu, memahami hadis hasan memberi manfaat praktis untuk menentukan amalan yang dapat dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Reviwed Doel Rohim S. Hum.