Konten dari Pengguna

Ketindihan Menurut Islam: Penjelasan Sleep Paralysis

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seseorang sedang tidur foto by Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Seseorang sedang tidur foto by Pexels

Pernahkah Anda terbangun dari tidur namun tubuh terasa kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali? Kondisi ini dalam istilah medis dikenal sebagai sleep paralysis atau yang sering disebut masyarakat sebagai ketindihan. Fenomena ini kerap dikaitkan dengan gangguan makhluk halus dalam kepercayaan masyarakat Muslim.

Menariknya, perspektif Islam terhadap fenomena ini tidak serta merta bertentangan dengan penjelasan ilmiah. Memahami ketindihan dari sudut pandang agama dan medis dapat membantu umat Islam mengambil langkah tepat untuk mengatasinya.

Apa Itu Ketindihan dan Bagaimana Islam Memandangnya

Sleep paralysis adalah kondisi ketika seseorang tersadar dari tidur namun tidak mampu menggerakkan tubuh atau berbicara untuk sementara waktu. Secara medis, keadaan ini terjadi karena adanya gangguan siklus tidur dimana otak sudah bangun tetapi otot tubuh masih dalam kondisi lumpuh seperti saat bermimpi.

Dalam penelitian Analisis Keterkaitan Fenomena Sleep Paralysis dengan Perspektif Pemahaman Islam (Jurnal Keilmuan dan Keislaman, Th. 2024) yang dilakukan oleh Satira Luthfia Zahra Susilo dan Jenuri, dijelaskan bahwa masyarakat Muslim sering mengaitkan ketindihan dengan gangguan jin atau setan. Pengalaman halusinasi visual dan auditori yang menyertai sleep paralysis memperkuat kepercayaan ini.

Di sisi lain, Islam tidak melarang umatnya untuk memahami fenomena ini dari sudut pandang medis. Justru Islam mendorong pencarian ilmu dan pengobatan sambil tetap memperkuat benteng spiritual. Keterkaitan antara kondisi psikologis dengan keimanan seseorang menjadi aspek penting yang tidak bisa diabaikan.

Allah SWT telah memberikan tuntunan perlindungan dari gangguan makhluk gaib melalui berbagai ayat dan doa. Salah satu yang paling masyhur adalah Ayat Kursi dalam Surah Al-Baqarah ayat 255 yang berbunyi:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

Artinya: Allah, tidak ada Tuhan selain Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur.

Ayat ini dipercaya sebagai bacaan perlindungan yang sangat ampuh sebelum tidur. Selain itu, dua surah pendek yaitu Al-Falaq dan An-Nas juga sering diamalkan sebagai benteng dari gangguan jin dan setan.

Rasulullah SAW juga mengajarkan doa sebelum tidur yang diriwayatkan dalam hadis: Apabila kamu hendak tidur, maka bacalah Ayat Kursi sampai selesai. Niscaya tidak akan terlepas darimu penjaga dari Allah dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari (HR. Bukhari).

Cara Mengatasi Ketindihan Menurut Ajaran Islam

Islam memberikan panduan lengkap untuk mencegah dan mengatasi ketindihan melalui pendekatan spiritual dan fisik. Langkah preventif yang dapat dilakukan meliputi membaca doa sebelum tidur, menjaga kebersihan spiritual dengan rutin beribadah, serta tidur dalam keadaan berwudhu.

Posisi tidur juga memiliki pengaruh penting. Rasulullah SAW menganjurkan tidur dengan miring ke kanan seperti yang diriwayatkan: Berbaringlah di atas sisi kananmu (HR. Bukhari). Posisi ini tidak hanya baik secara spiritual tetapi juga memiliki manfaat kesehatan karena mengurangi risiko sleep paralysis.

Sebelum tidur, amalkan membaca Ayat Kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa membaca Ayat Kursi ketika hendak tidur, maka ia akan selalu dalam penjagaan Allah dan setan tidak akan mendekatinya hingga waktu subuh (HR. Bukhari).

Saat mengalami ketindihan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengingat Allah dan mengucapkan ta'awudz dalam hati meskipun sulit berbicara. Cobalah menggerakkan jari tangan atau kaki secara perlahan untuk membantu tubuh kembali sadar sepenuhnya. Setelah terbangun, perbanyak istighfar dan dzikir untuk menenangkan diri.

Pendekatan holistik diperlukan untuk mengatasi ketindihan secara menyeluruh. Menjaga kesehatan fisik dengan pola tidur teratur dan menghindari tidur telentang dapat mengurangi risiko sleep paralysis. Kesehatan mental juga perlu dijaga dengan mengelola stres dan menjauhi maksiat yang dapat melemahkan benteng spiritual.

Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar medis dan spiritual. Mencari pengobatan medis jika ketindihan terjadi berulang kali sambil tetap memperkuat keimanan adalah pendekatan terbaik. Dengan demikian, umat Islam dapat mengatasi fenomena ini secara komprehensif tanpa mengabaikan aspek kesehatan maupun spiritual.

Revewed by Doel Rohim S.Hum.