Konten dari Pengguna

Kisah Maryam dalam Al-Qur'an: Wanita Suci yang Melahirkan Nabi Isa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seseorang sedang membaca Al Quran foto by Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Seseorang sedang membaca Al Quran foto by Pexels

Maryam adalah satu-satunya wanita yang disebutkan namanya secara langsung dalam Al-Qur'an. Bahkan, ada surat tersendiri yang dinamai dengan namanya, yaitu Surah Maryam. Kisahnya menjadi teladan bagi umat Islam tentang kesucian, ketaatan, dan kesabaran dalam menghadapi ujian berat.

Keistimewaan Maryam bukan hanya karena melahirkan seorang nabi, tetapi juga karena keteguhan imannya sejak masa kecil. Kisahnya tercatat dalam beberapa surat di Al-Qur'an dengan detail yang penuh hikmah. Memahami perjalanan hidupnya dapat memberikan pelajaran penting tentang tawakal dan keimanan kepada Allah.

Kelahiran dan Masa Kecil Maryam yang Istimewa

Maryam adalah putri Imran, seorang tokoh saleh dari Bani Israil. Ibunya bernazar akan menyerahkan anak dalam kandungannya untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Allah mengabulkan nazar tersebut meski yang lahir adalah seorang anak perempuan.

Nazar ibu Maryam diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 35-36 yang artinya: Ingatlah ketika istri Imran berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Karena itu terimalah nazar itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Setelah lahir, Maryam dipelihara oleh Nabi Zakaria di mihrab, sebuah tempat ibadah khusus. Di sinilah ia tumbuh menjadi wanita salehah dengan ketaatan luar biasa. Menariknya, Allah memberikan karamah berupa rezeki yang datang tanpa perantara manusia.

Menurut Tafsir Al-Maraghi yang dikutip dalam penelitian Mahfudz Alfaozi dalam Kisah Maryam dalam Al-Qur’an Surat Maryam Perspektif Tafsir Al-Maraghi (JIQSI, Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Studi Islam, Th. 2023), Maryam dijadikan contoh kesucian dan ketaatan yang sempurna kepada Allah, sehingga Allah memberikan kepadanya karamah berupa datangnya rezeki tanpa sebab yang biasa. Setiap kali Nabi Zakaria masuk ke mihrabnya, ia menemukan buah-buahan segar di musim yang tidak seharusnya.

Karamah ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan Maryam di sisi Allah. Ia dipilih untuk mengemban tugas besar yang akan mengubah sejarah umat manusia. Keistimewaannya menjadikan ia sosok yang patut diteladani hingga kini.

Kelahiran Nabi Isa dan Ujian Kesabaran Maryam

Ketika Maryam beribadah dalam kesendirian, datanglah Malaikat Jibril membawa kabar gembira. Allah berfirman dalam Surah Maryam ayat 17-19 yang artinya: Maka Kami mengutus roh Kami kepadanya, lalu ia menjelma di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. Maryam berkata: Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dari engkau, jika engkau orang yang bertakwa. Ia berkata: Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.

Maryam pun hamil dengan kehendak Allah tanpa seorang ayah. Proses kelahiran terjadi di tempat terpencil, tepatnya di bawah pohon kurma. Rasa sakit dan kekhawatiran akan tuduhan kaumnya membuatnya hampir putus asa.

Dalam Surah Maryam ayat 23-26, Allah menggambarkan kondisi Maryam: Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia bersandar pada pangkal pohon kurma, dia berkata: Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.

Di tengah kesulitan itu, Allah memberikan mukjizat. Pohon kurma yang kering tiba-tiba berbuah lebat dan mata air jernih memancar untuk melepas dahaganya. Namun, ujian terberat justru datang saat ia kembali ke kaumnya dengan menggendong bayi Isa.

Kaum Maryam menuduhnya melakukan perbuatan keji karena melahirkan tanpa suami. Di sisi lain, Allah memberikan mukjizat luar biasa melalui bayi Isa yang berbicara di buaian. Dalam Surah Maryam ayat 30-33, Nabi Isa berkata: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab yaitu Injil dan Dia menjadikan aku seorang nabi.

Ucapan bayi Isa membuktikan kesucian Maryam dan menunjukkan kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Kesabaran Maryam menghadapi fitnah dan cobaan menjadi pelajaran penting tentang keteguhan iman. Kisahnya mengajarkan bahwa ujian berat seringkali disertai pertolongan Allah yang tak terduga.

Revewed by Doel Rohim S.Hum.