Konten dari Pengguna

Makna Ngabuburit: Analisis Tradisi di Bulan Ramadhan dalam Perspektif Aswaja

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Umat muslim melakukan buka bersama saat ramadhan. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Umat muslim melakukan buka bersama saat ramadhan. Foto: Pixabay

Ngabuburit menjadi istilah yang sangat familiar selama bulan Ramadhan. Tradisi ini identik dengan aktivitas menunggu waktu berbuka, biasanya diisi dengan berbagai kegiatan yang menghibur atau bermanfaat. Banyak orang mencari tahu arti ngabuburit, waktu pelaksanaannya, serta bagaimana pandangan Islam terhadap tradisi yang satu ini.

Pengertian Ngabuburit dalam Konteks Ramadhan

Tradisi ngabuburit memiliki tempat khusus di tengah masyarakat, terutama saat Ramadhan. Menurut Jurnal Media Akademik: Analisis Ngabuburit di Bulan Ramadhan dalam Perspektif Aswaja karya Afita Yudha Puspita dkk, istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang berarti menunggu waktu berbuka puasa.

Asal-usul Istilah Ngabuburit

Kata ngabuburit awalnya dikenal di wilayah Jawa Barat. Istilah ini berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat yang gemar mengisi waktu menjelang maghrib dengan berbagai aktivitas. Seiring waktu, penggunaan istilah ngabuburit meluas ke berbagai daerah di Indonesia, dan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Ramadhan di tanah air.

Arti dan Makna Ngabuburit

Secara bahasa, ngabuburit bermakna menanti adzan maghrib sebagai penanda waktu berbuka puasa. Dalam perkembangannya, makna ngabuburit mengalami transformasi. Tidak hanya menunggu waktu berbuka, ngabuburit juga mencerminkan semangat kebersamaan, kreativitas, dan nilai sosial yang kuat, terutama ketika dilakukan bersama keluarga atau teman-teman.

Kapan Waktu Ngabuburit?

Waktu ngabuburit menjadi hal yang paling sering ditanyakan setiap Ramadhan tiba. Banyak yang penasaran, ngabuburit itu jam berapa sebenarnya dan seberapa lama biasanya berlangsung. Dalam tradisi masyarakat, ada kebiasaan khusus terkait rentang waktu ngabuburit.

Jam Mulai dan Berakhirnya Ngabuburit

Seperti dijelaskan oleh Afita Yudha Puspita dkk dalam Jurnal Media Akademik: Analisis Ngabuburit di Bulan Ramadhan dalam Perspektif Aswaja, ngabuburit umumnya dimulai pada sore hari dan berlangsung hingga adzan maghrib berkumandang. Rentang waktu ini dianggap ideal karena suasana mulai sejuk dan aktivitas fisik tidak terlalu berat. Banyak orang memanfaatkan waktu ini untuk berjalan-jalan, berburu takjil, atau sekadar duduk santai di taman.

Kegiatan Umum Saat Ngabuburit

Banyak pilihan aktivitas yang dilakukan selama ngabuburit:

  1. Berburu makanan khas berbuka,

  2. mengikuti pengajian,

  3. bermain di taman,

  4. bersepeda santai bersama keluarga.

Nilai sosial ngabuburit juga terasa kuat, karena sering menjadi momen berkumpul dan berbagi cerita. Di samping itu, banyak yang memanfaatkan waktu ini untuk memperdalam pengetahuan agama dengan membaca Al-qur'an atau berdiskusi seputar Ramadhan.

Nama Lain dan Istilah Ngabuburit

Ngabuburit memang populer sebagai istilah khas Sunda, tapi sebetulnya ada banyak nama lain yang digunakan di berbagai daerah. Ragam istilah ini memperlihatkan kekayaan tradisi di Indonesia.

Variasi Nama Ngabuburit di Berbagai Daerah

Di beberapa wilayah, istilah ngabuburit dikenal dengan nama lain, seperti menunggu bedug maghrib atau menanti adzan maghrib. Menurut Afita Yudha Puspita dkk, dalam Jurnal Media Akademik: Analisis Ngabuburit di Bulan Ramadhan dalam Perspektif Aswaja, penyebutan ngabuburit menyesuaikan dengan bahasa daerah setempat, tetapi maknanya tetap sama, yakni menunggu waktu berbuka puasa sambil melakukan aktivitas tertentu.

Perbandingan Makna dengan Tradisi Lain

Jika dibandingkan dengan tradisi di negara mayoritas Muslim lain, istilah ngabuburit tidak memiliki padanan yang serupa. Kekhasan ini menjadikan ngabuburit sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. Tradisi ini tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga bentuk ekspresi kebersamaan dalam menyambut saat berbuka.

Analisis Ngabuburit dari Perspektif Aswaja

Bagaimana pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) terhadap tradisi ngabuburit? Pertanyaan ini sering muncul, terutama terkait nilai-nilai syariat yang harus dijaga selama Ramadhan.

Pandangan Aswaja terhadap Tradisi Ngabuburit

Dalam analisis Afita Yudha Puspita dalam Jurnal Media Akademik: Analisis Ngabuburit di Bulan Ramadhan dalam Perspektif Aswaja, tradisi ngabuburit dipandang positif selama diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Tradisi ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, selama aktivitas ngabuburit tidak melalaikan kewajiban ibadah dan tetap menjaga adab. Hal ini sejalan dengan pesan dalam Al-qur'an untuk memanfaatkan waktu dengan perbuatan baik.

Rekomendasi Kegiatan Ngabuburit Sesuai Nilai Aswaja

Beberapa aktivitas ngabuburit yang dianjurkan antara lain:

  1. membaca Alquran,

  2. mendengarkan ceramah,

  3. berbagi makanan kepada yang membutuhkan,

  4. mempererat silaturahmi.

Jika diisi dengan kegiatan positif, ngabuburit bisa memberikan dampak yang baik, baik secara sosial maupun spiritual. Tradisi ini juga membantu mempererat hubungan antaranggota masyarakat selama Ramadhan.

Kesimpulan

Ngabuburit menjadi tradisi yang identik dengan bulan Ramadhan di Indonesia. Arti ngabuburit bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga mengandung nilai sosial, kebersamaan, dan spiritualitas. Tradisi ini berkembang dengan ciri khas di berbagai daerah, namun esensinya tetap sama, yaitu menghadirkan suasana menyenangkan sebelum berbuka.

Dari sudut pandang Aswaja, ngabuburit dapat menjadi aktivitas yang positif asalkan dilakukan sesuai tuntunan agama. Mengisi waktu dengan hal bermanfaat akan memperkaya makna Ramadhan dan menjaga semangat ibadah hingga maghrib tiba.

Reviewed by Ajid Fuad Muzaki S.Th.I