Memahami Keesaan Allah: Definisi, Ciri Orang Beriman, dan Dalil dalam Islam
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keesaan Allah merupakan landasan utama dalam ajaran Islam. Pemahaman yang benar tentang keesaan Allah membentuk keyakinan dan praktik beragama seseorang. Artikel ini mengulas definisi keesaan Allah, ciri-ciri orang yang mengimaninya, dan dalil yang menegaskan konsep tersebut menurut hukum Islam.
Apa Itu Keesaan Allah?
Keesaan Allah menjadi inti keyakinan dalam agama Islam. Konsep ini menegaskan bahwa Allah Esa, tidak ada sekutu, dan tidak menyerupai makhluk mana pun. Pemahaman tentang keesaan Allah menjadi fondasi utama bagi seluruh ajaran Islam.
Menurut jurnal Keesaan Allah Persepektif Al-Qur'an (Penafsiran surah al-An’am ayat: 1-83) karya Khotimah Suryan, Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah itu satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tauhid, atau pengesaan Allah, menjadi prinsip dasar yang membedakan Islam dari keyakinan lain. Konsep ini juga memengaruhi tata cara beribadah serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Dalil keesaan Allah dalam Surah Al-An‘am ditegaskan melalui berbagai argumentasi Qur’ani, antara lain penciptaan langit dan bumi serta pengaturan gelap dan terang (QS. Al-An‘am: 1) yang menunjukkan kekuasaan dan keesaan Allah sebagai satu-satunya Pencipta. Selain itu, penciptaan manusia dari tanah serta penetapan ajal (QS. Al-An‘am: 2–3) menjadi bukti bahwa kehidupan sepenuhnya berada di bawah kehendak Allah.
Kemudian surah ini juga menegaskan kesatuan risalah para nabi, khususnya melalui kisah Nabi Ibrahim (QS. Al-An‘am: 74–83), yang menolak penyembahan selain Allah dan meneguhkan tauhid sebagai ajaran fundamental. Keseluruhan ayat tersebut sekaligus menjadi bantahan terhadap praktik kemusyrikan dan menegaskan bahwa hanya Allah Yang Maha Esa yang berhak disembah.
Definisi Keesaan Allah Menurut Al-Qur’an
Al-Qur’an menyatakan keesaan Allah secara eksplisit dalam surah Al-Ikhlas. Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah satu dan tidak memiliki tandingan. Makna keesaan Allah berarti Allah tidak membutuhkan apa pun, sedangkan seluruh ciptaan bergantung kepada-Nya.
Pentingnya Konsep Tauhid dalam Islam
Tauhid memandu seluruh aspek kehidupan seorang muslim. Keyakinan ini menjadi dasar keimanan dan membentuk hubungan manusia dengan Allah. Oleh karena itu, semua ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah tanpa perantara atau sekutu.
Dalam jurnal Keesaan Allah Persepektif Al-Qur'an (Penafsiran surah al-An’am ayat: 1-83) karya Khotimah Suryan, ditegaskan bahwa konsep keesaan Allah sangat esensial, bahkan menjadi pondasi utama dalam hukum Islam. Keyakinan ini menuntun umat muslim untuk menjaga kemurnian ibadah dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan.
Ciri-Ciri Orang yang Meyakini Keesaan Allah
Orang yang meyakini keesaan Allah memperlihatkan keyakinan kuat dalam hati dan perilaku sehari-hari. Mereka konsisten dalam menjalankan ajaran agama dan selalu menjaga hubungan dengan Allah.
Keyakinan dan Pengamalan Tauhid
Ciri utama orang beriman pada keesaan Allah adalah keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Hal ini tercermin dari pengamalan syariat seperti salat, puasa, dan ibadah lainnya yang dilakukan dengan ikhlas.
Sikap dan Perilaku dalam Kehidupan Sehari-hari
Selain dalam ibadah, keimanan pada keesaan Allah terlihat dari sikap jujur, adil, dan rendah hati. Seseorang akan selalu berusaha menghindari perbuatan syirik atau menyekutukan Allah.
Dampak Keimanan terhadap Ketaatan Beragama
Keyakinan pada keesaan Allah mendorong seseorang untuk lebih taat menjalankan perintah agama. Ia akan lebih mudah bersabar, bersyukur, dan berbuat baik kepada sesama sebagai wujud penghambaan kepada Allah semata.
Dalil tentang Keesaan Allah dalam Al-Qur’an
Dalil mengenai keesaan Allah banyak ditemukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Setiap ayat memberikan penegasan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Ayat-Ayat Pilihan tentang Keesaan Allah
Surah Al-Ikhlas ayat 1-4 secara jelas menyatakan keesaan Allah. Selain itu, surah Al-Baqarah ayat 163:
wa ilâhukum ilâhuw wâḫid, lâ ilâha illâ huwar-raḫmânur-raḫîm
Artinya: Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (Al-Baqarah: 163)
Kemudian dalam surah An-Nisa ayat 171 juga sering dijadikan rujukan utama dalam memahami konsep tauhid:
yâ ahlal-kitâbi lâ taghlû fî dînikum wa lâ taqûlû ‘alallâhi illal-ḫaqq, innamal-masîḫu ‘îsabnu maryama rasûlullâhi wa kalimatuh, alqâhâ ilâ maryama wa rûḫum min-hu fa âminû billâhi wa rusulih, wa lâ taqûlû tsalâtsah, intahû khairal lakum, innamallâhu ilâhuw wâḫid, sub-ḫânahû ay yakûna lahû walad, lahû mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, wa kafâ billâhi wakîlâ
Wahai Ahlulkitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Mahasuci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung. (QS. An-Nisa: 171)
Penjelasan Dalil dalam Perspektif Hukum Islam
Dalam hukum Islam, dalil-dalil tersebut menjadi pijakan utama bagi seluruh syariat dan aturan ibadah. Tauhid menjadi filter dalam menilai keabsahan amalan dan keyakinan seseorang.
Ayat-ayat Al-Qur’an tentang keesaan Allah menjadi rujukan utama dalam membangun fondasi hukum Islam. Hal ini membantu umat muslim memahami betapa pentingnya menjaga kemurnian tauhid dalam kehidupan beragama.
Kesimpulan
Keesaan Allah merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam dan menjadi penentu keabsahan iman seseorang. Pemahaman yang benar tentang konsep ini membentuk karakter, sikap, dan perilaku seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Menghayati keesaan Allah menuntun seseorang untuk lebih taat beragama dan menjaga kemurnian ibadah. Dalam hukum Islam, keesaan Allah menjadi dasar seluruh syariat dan aturan hidup seorang muslim.
Reviewed by Ajid Fuad Muzaki S.Th.I