Memahami Rantai Periwayatan: Bentuk Periwayatan Hadis dan Tingkatan Hadits
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rantai periwayatan menjadi bagian penting dalam tradisi periwayatan hadis. Sistem ini membantu memastikan keaslian hadis yang sampai ke umat Islam. Dengan rantai yang jelas, umat dapat menelusuri bagaimana pesan Nabi Muhammad SAW disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pengertian Rantai Periwayatan dalam Hadis
Rantai periwayatan, atau dikenal dengan istilah isnad atau sanad, merupakan susunan nama para perawi yang menyalurkan hadis dari Nabi Muhammad SAW hingga ke pencatat terakhir.
Menurut jurnal Teknik Periwayatan Hadis (Imtiyaz: Jurnal Ilmu Keislaman, Vol. 9, No. 3. Th. 2025) karya A. M. Luthfi Virgiawan, isnad menjadi unsur penting dalam autentikasi hadis karena berfungsi menelusuri kebenaran periwayatan. Penelusuran sanad ini menjadi pondasi utama dalam menilai validitas suatu hadis.
Bentuk-Bentuk Periwayatan Hadis
Beragam cara digunakan untuk meriwayatkan hadis. Metode ini berkembang agar pesan tetap terjaga dan terhindar dari perubahan.
Bentuk Lisan (Sama’ dan Qira’ah)
Penyampaian hadis secara lisan dilakukan dengan dua cara utama, yaitu sama' dan qir'ah. Sama’ adalah menerima hadis langsung dari guru dengan mendengarkan, sedangkan qira’ah dilakukan dengan membacakan hadis di hadapan guru. Kedua metode ini banyak digunakan pada masa awal periwayatan.
Bentuk Tertulis (Kitabah dan Ijazah)
Selain lisan, periwayatan juga berlangsung melalui tulisan. Kitabah adalah penulisan hadis yang kemudian diteruskan ke generasi berikutnya. Sementara itu, ijazah merupakan pemberian izin dari guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis yang telah dipelajari.
Bentuk Lain (Munawalah, Mu’ananah, Mu’jamah, Wasiyah, Wijadah)
Metode lainnya meliputi munawalah (penyerahan naskah), mu’ananah (periwayatan dengan kata ‘dari’), mu’jamah (meriwayatkan berdasarkan nama guru), wasiyah (wasiat untuk meriwayatkan), dan wijadah (menemukan catatan hadis). Semua bentuk ini memiliki aturan dan konteks tertentu dalam tradisi transmisi hadis.
Tingkatan Hadits Berdasarkan Rantai Periwayatan
Setiap hadis diklasifikasikan berdasarkan jumlah dan kualitas perawi di dalam rantai periwayatannya.
Hadits Mutawatir
Hadits mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi di setiap tingkatan rantai sehingga mustahil terjadi kebohongan. Jenis ini dinilai paling kuat dalam hal keotentikan.
Hadits Masyhur
Hadits masyhur adalah hadis yang diketahui luas dan diriwayatkan oleh lebih dari satu perawi, namun belum mencapai derajat mutawatir. Posisi hadis ini berada di tengah antara mutawatir dan ahad.
Hadits Ahad
Hadits ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu atau beberapa perawi saja. Kategori ini masih terbagi lagi, seperti gharib dan aziz, yang membedakan tingkat kepercayaan terhadap hadis tersebut.
Pentingnya Memahami Rantai Periwayatan dalam Studi Hadis
Pengetahuan tentang rantai periwayatan sangat membantu dalam menilai keaslian hadis yang digunakan dalam penetapan hukum Islam. Seperti dijelaskan oleh A. M. Luthfi Virgiawan, memahami bentuk dan tingkatan periwayatan penting untuk menghindari kekeliruan dalam pengambilan hukum atau fatwa. Dengan demikian, validitas hadis dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Kesimpulan
Rantai periwayatan adalah fondasi dalam menjaga keaslian hadis. Memahami berbagai bentuk dan tingkatan periwayatan hadis membantu masyarakat muslim menyeleksi hadis yang sahih. Dengan pengetahuan ini, setiap keputusan yang diambil berdasarkan hadis memiliki landasan yang lebih jelas dan dapat dipercaya.
Revewed by Doel Rohim S.Hum.