Meninggal dalam Islam: Proses, dan Perjalanan Ruh Menurut Imam Al-Qurthubi
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kematian dalam Islam dipandang sebagai peristiwa besar yang tidak hanya menandai akhir kehidupan di dunia, tetapi juga menjadi awal perjalanan menuju akhirat. Penjelasan tentang meninggal dalam Islam telah dibahas secara mendalam dalam berbagai kitab klasik.
Salah satunya adalah karya yang berjudul Ensiklopedi Kematian Mengingat Kematian (2024) dan Hari Akhir karya Imam Al-Qurthubi. Artikel ini akan merangkum pemahaman, proses, ciri-ciri, hingga perjalanan ruh menurut perspektif Islam berdasarkan sumber tersebut.
Pengantar Pemahaman Kematian dalam Islam
Masyarakat muslim diajak untuk selalu mengingat kematian sebagai bagian dari perjalanan spiritual. Dalam Ensiklopedi Kematian Mengingat Kematian dan Hari Akhir Imam Al-Qurthub mengingatkan bahwa kematian adalah kunci untuk memperbaiki amal dan hati. Kebiasaan ini membantu seseorang menjaga kualitas hidup dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.
Selain itu, pembahasan tentang kematian dalam Islam memiliki tujuan memperkuat keimanan serta meningkatkan kesadaran akan keterbatasan manusia. Hikmah dari mengingat kematian di antaranya adalah membangkitkan sikap rendah hati, mendorong untuk memperbanyak amal baik, dan menjauhkan diri dari perilaku tercela. Kematian juga mengingatkan bahwa hidup di dunia bersifat sementara.
Pandangan Islam terhadap kematian menempatkannya sebagai bagian alami dari siklus kehidupan. Setiap makhluk hidup pasti akan menghadapi kematian, sebagaimana ditegaskan dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 185, yang menyatakan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Oleh sebab itu, Islam menekankan pentingnya persiapan, baik dari segi amal maupun keimanan.
Apa yang Terjadi Saat Kita Meninggal Menurut Islam
Proses kematian dalam Islam dikenal sebagai sakratul maut, yaitu saat ruh dicabut dari jasad. Kejadian ini digambarkan sebagai momen yang sangat berat dan penuh ujian. Dalam Ensiklopedi Kematian disebutkan, sesungguhnya malaikat maut hadir di sisi orang yang akan meninggal dan mencabut ruh sesuai amalnya. Proses ini bisa berlangsung cepat atau lambat tergantung kondisi spiritual seseorang.
Pada saat kematian, malaikat diwajibkan untuk menyambut ruh. Malaikat maut, atau Izrail, bertugas mengambil ruh manusia. Ruh orang beriman biasanya dicabut dengan lembut, sedangkan ruh orang yang banyak dosa mengalami kesulitan dalam proses ini. Peristiwa ini menandai berakhirnya kehidupan dunia dan dimulainya perjalanan ke alam barzakh.
Setelah ruh lepas dari jasad, manusia akan masuk ke alam barzakh, yaitu ruang tunggu sebelum hari kebangkitan. Di alam ini, setiap orang akan merasakan balasan sementara atas amal perbuatannya selama hidup. Alam kubur menjadi tempat awal pertanggungjawaban, di mana manusia menghadapi pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir mengenai keyakinan dan amalannya.
Ciri-ciri Orang yang Akan Meninggal Menurut Islam
Menjelang ajal, biasanya muncul tanda-tanda fisik pada tubuh seseorang. Tanda-tanda ini meliputi melemahnya tubuh, mulai dari kaki, tangan, hingga seluruh badan, serta perubahan pada napas yang menjadi berat dan tersengal. Kulit pun biasanya tampak lebih pucat dan dingin, menandakan berkurangnya aliran darah.
Selain tanda fisik, terdapat pula tanda ruhani menjelang kematian. Imam Al-Qurthubi menuliskan, di antara ciri-ciri orang yang akan meninggal adalah melemahnya tubuh, beratnya napas, dan menurunnya kesadaran, sebagaimana tercantum dalam Ensiklopedi Kematian. Sering kali, seseorang yang akan wafat tampak lebih tenang, pasrah, atau terlihat mulai kehilangan ketertarikan pada urusan dunia.
Islam juga mengajarkan sikap dan persiapan yang dianjurkan ketika menghadapi kematian. Seseorang dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, beristighfar, dan meminta maaf kepada sesama. Keluarga yang mendampingi dianjurkan untuk membimbing dengan mengucapkan kalimat tauhid, agar sang calon jenazah meninggal dalam keadaan baik.
Kemana Ruh Saat Meninggal Menurut Islam
Setelah kematian, ruh akan menempuh perjalanan menuju alam barzakh. Di tempat ini, ruh menunggu hingga hari kiamat tiba. Selama di barzakh, ruh mendapatkan balasan atau ketenangan sesuai dengan amal hidupnya di dunia.
Keadaan ruh orang mukmin dan kafir berbeda satu sama lain. Menurut Ensiklopedi Kematian, ruh orang mukmin akan mendapatkan kelembutan dan kemudahan, sedangkan ruh orang kafir akan merasakan kesulitan dan penderitaan. Hal ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk meningkatkan keimanan dan memperbaiki amal.
Amalan yang bermanfaat bagi ruh setelah kematian sangat dianjurkan dalam Islam. Di antaranya adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh. Amalan-amalan ini dipercaya akan terus mengalirkan pahala kepada ruh meskipun sudah meninggal, sehingga seseorang tetap mendapatkan keberkahan di alam kubur.
Kesimpulan
Meninggal dalam Islam dipahami sebagai proses sakral yang menandai berakhirnya kehidupan dunia dan awal perjalanan menuju kehidupan abadi. Perspektif ini menekankan pentingnya kesiapan spiritual dan amal baik selama hidup. Proses kematian, ciri-ciri jelang ajal, serta perjalanan ruh menjadi pengingat bahwa hidup di dunia hanyalah sementara.
Pemahaman meninggal dalam Islam berdasarkan Ensiklopedi Kematian karya Imam Al-Qurthubi memberikan gambaran utuh mengenai betapa pentingnya persiapan menghadapi kematian. Pengetahuan ini dapat menjadi bekal untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amalan baik sebelum waktu itu tiba.
Reviwed by Doel Rohim S.Hum