Konten dari Pengguna

Pengertian dan Kriteria Hadis Shahih Menurut Shahih Bukhari Muslim

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto by Istock
zoom-in-whitePerbesar
Foto by Istock

Hadis shahih memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam. Banyak umat ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan hadis sahih, apa saja contohnya, serta kriteria yang membedakan hadis ini dari hadis lain. Artikel ini membahas pengertian, syarat, contoh, dan urgensi memahami hadis shahih, mengacu pada Shahih Bukhari Muslim.

Pengertian Hadis Shahih dalam Islam

Hadis shahih menjadi acuan utama dalam memahami ajaran Nabi Muhammad SAW. Menurut Kitab Shahih Bukhari Muslim, istilah ini mengacu pada hadis yang terbukti kuat secara sanad dan isi, serta diakui otoritas para ulama hadis.

Para ulama sepakat bahwa hadis shahih adalah riwayat yang sanad-nya bersambung, perawinya adil dan dhabit (terpercaya dan teliti), serta tidak terdapat cacat atau kejanggalan. Hadis ini diyakini benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW, sehingga dijadikan pedoman utama dalam syariat Islam.

Perbedaan Hadis Shahih dengan Hadis Hasan dan Dhaif

Hadis hasan memiliki kriteria mirip dengan hadis shahih, namun tingkat ketelitian perawi atau hafalannya sedikit di bawah hadis shahih. Sementara itu, hadis dhaif atau lemah tidak memenuhi syarat sanad atau keadilan perawi, sehingga diragukan keasliannya dan tidak dijadikan dasar hukum.

Dalam Kitab Shahih Bukhari Muslim, dijelaskan bahwa hadis shahih adalah hadis yang sanad-nya bersambung dan perawinya memiliki reputasi baik. Kitab ini menekankan pentingnya selektif dalam menerima riwayat, agar ajaran yang diterima benar-benar sesuai dengan ajaran Nabi.

Kriteria-Kriteria Hadis Shahih

Memahami kriteria hadis shahih sangat penting agar tidak keliru dalam mengamalkan ajaran. Syarat-syarat hadis shahih disusun secara ketat, sehingga hanya riwayat terpercaya yang masuk kategori ini.

Menurut Kitab Shahih Bukhari Muslim, hadis shahih harus memenuhi lima syarat utama: sanad bersambung, perawi adil, perawi dhabit, tidak ada syadz (kejanggalan), dan tidak ada ‘illat (cacat tersembunyi). Setiap syarat tersebut harus terpenuhi tanpa kompromi.

Sanad adalah rangkaian penyampai hadis dari Nabi hingga perawi terakhir. Perawi yang adil dan dhabit menjadi kunci kekuatan hadis. Selain itu, matan atau isi hadis harus bebas dari kejanggalan dan tidak bertentangan dengan Alquran.

Dalam buku Kumpulan Hadits Shahih Bukhari Muslim atau Mutiara Hadist Shahih Bukhori Muslim (2007) karya Muhammad Fu‘ad Abdul Baqi, disebutkan bahwa hadis shahih merupakan fondasi hukum Islam. Ia menulis, “Hadis shahih diterima karena sanad-nya jelas dan perawinya terpercaya. Tidak terdapat cacat maupun kejanggalan dalam redaksi maupun periwayatannya.”

Contoh Hadis Shahih dalam Shahih Bukhari Muslim

Kitab Shahih Bukhari Muslim memuat ribuan hadis shahih yang menjadi rujukan utama umat Islam. Beberapa di antaranya sangat populer dan kerap dikutip dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh hadis shahih yang sering disebut adalah “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” Hadis ini mengajarkan pentingnya niat dalam setiap perbuatan. Selain itu, ada hadis tentang larangan berbuat curang dalam jual beli, serta hadis yang menekankan keutamaan akhlak mulia.

Hadis tentang niat mengajarkan bahwa setiap tindakan manusia dinilai berdasarkan niatnya. Sementara itu, hadis lainnya menekankan kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai ini menjadi dasar perilaku sehari-hari umat Islam.

Dalam Shahih Bukhari Muslim, hadis tentang niat berbunyi, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya.” Hadis ini menegaskan pentingnya niat dalam beribadah dan beramal.

Pentingnya Memahami Hadis Shahih bagi Umat Islam

Pemahaman tentang hadis shahih sangat penting untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. Selain itu, hadis shahih juga menjadi sumber utama dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadah maupun interaksi sosial.

Biasanya hadis shahih dijadikan pedoman dalam menunaikan ibadah, seperti tata cara sholat, puasa, dan zakat. Selain itu, hadis juga menjadi rujukan dalam bermuamalah, menjaga hubungan sosial, dan membangun karakter yang baik.

Dengan mengacu pada hadis shahih, akhirnya umat Islam dapat menjalankan ajaran agama secara benar. Hadis ini memperjelas tata cara beribadah, menanamkan nilai moral, serta membantu menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

Maka bisa diambil kesimpulan bahwa hadis shahih adalah fondasi penting dalam ajaran Islam dan menjadi acuan utama setelah Alquran. Memahami kriteria dan contoh hadis shahih membantu umat Islam menjalankan ajaran agama dengan lebih baik. Dengan berpegang pada hadis shahih, nilai ibadah dan akhlak dapat terjaga sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Reviwed Doel Rohim S.Hum