Pengertian Iman dan Unsur-Unsur Iman Menurut M. Quraish Shihab
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Iman menjadi salah satu konsep utama dalam kehidupan beragama. Banyak orang ingin memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan iman serta unsur-unsur yang membentuknya, terutama jika dikaitkan dengan penjelasan para ulama masa kini. Artikel ini akan membahas secara ringkas mengenai pengertian iman dan unsur-unsurnya berdasarkan pemikiran M. Quraish Shihab, seorang cendekiawan muslim terkemuka.
Apa yang Dimaksud dengan Iman
Memahami istilah iman sangat penting untuk menghayati makna kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penjelasan di kajian Konsep Iman Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (2022) karya Ufita Al Ariza, iman memiliki makna luas dan dalam.
Definisi Iman Menurut Bahasa dan Istilah
Secara bahasa, iman berasal dari kata “aamana” yang berarti percaya atau membenarkan. Dalam istilah agama, iman dipahami sebagai keyakinan dalam hati terhadap kebenaran ajaran Allah, yang diikuti dengan pengakuan lisan dan pembuktian melalui perbuatan.
Pandangan M. Quraish Shihab tentang Iman
Menurut penjelasan dalam karya Ufita Al Ariza, M. Quraish Shihab memandang iman sebagai sikap menerima sepenuh hati terhadap kebenaran yang datang dari Allah. Iman tidak sebatas ungkapan lisan, melainkan harus tumbuh dari pengetahuan, pembenaran, dan diwujudkan dalam perilaku.
Unsur-Unsur Iman Menurut M. Quraish Shihab
Iman terdiri dari beberapa unsur utama yang saling melengkapi. Menurut M. Quraish Shihab, unsur-unsur iman meliputi aspek kognitif, afektif, dan konatif yang sejalan dengan penjelasan dalam tafsir Al-Mishbah.
Unsur Kognitif (Ma’rifah/Bil Qalb)
Unsur kognitif berhubungan dengan pengetahuan dan keyakinan dalam hati. Seseorang dianggap beriman jika ia memahami dan meyakini kebenaran ajaran Allah secara sadar, bukan sekadar ikut-ikutan. Unsur ini menekankan pentingnya pemahaman dan kesadaran dalam beriman.
Unsur Afektif (Pembenaran/Bil Lisan)
Bagian afektif menekankan pembenaran dengan lisan. Artinya, seseorang yang beriman akan secara terbuka mengakui keimanannya melalui ucapan. Dalam penjelasan pada sumber yang sama, unsur ini menunjukkan bahwa pengakuan keimanan tidak bisa hanya dipendam dalam hati.
Unsur Konatif (Perbuatan/Bil Amal)
Iman juga harus tercermin lewat perbuatan nyata. Unsur konatif menegaskan bahwa sikap dan tindakan menjadi bukti keimanan. Orang yang benar-benar beriman akan berusaha menerapkan nilai-nilai keimanan dalam keseharian.
Kesimpulan
Iman merupakan fondasi penting dalam kehidupan beragama yang mencakup keyakinan, pengakuan, dan tindakan nyata. Berdasarkan penjelasan M. Quraish Shihab, iman terdiri dari unsur kognitif, afektif, dan konatif yang saling melengkapi. Ketiga unsur ini menjadi penanda bahwa iman bukan sekadar keyakinan pasif, melainkan sesuatu yang hadir dalam seluruh aspek kehidupan.
Revewed by Doel Rohim S.Hum.