Peristiwa Isra Mi'raj: Perjalanan Suci Nabi Muhammad SAW
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isra Mi'raj merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab sebelum hijrah, di masa yang penuh ujian bagi Rasulullah. Saat itu, beliau baru saja kehilangan dua orang paling dekat, yaitu Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib pada tahun yang disebut Aamul Huzn atau tahun kesedihan.
Allah SWT menganugerahkan perjalanan suci ini sebagai bentuk penghiburan dan penguatan iman Rasulullah. Dengan memahami peristiwa ini secara mendalam, umat Islam dapat mengambil hikmah berharga untuk kehidupan spiritual mereka.
Pengertian dan Waktu Terjadinya Isra Mi'raj
Isra Mi'raj terdiri dari dua bagian perjalanan yang berbeda namun berkaitan. Isra berarti perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis. Sedangkan Mi'raj adalah perjalanan menanjak dari Masjidil Aqsa menembus tujuh langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.
Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 1. Allah SWT berfirman:
Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ayat ini menjelaskan bahwa perjalanan terjadi dalam satu malam, sesuatu yang mustahil secara logika manusia pada zaman itu. Jarak antara Makkah dan Baitul Maqdis mencapai ratusan kilometer, namun Rasulullah menempuhnya dalam waktu singkat dengan kehendak Allah. Menurut sumber dari Isra Mi’raj sebagai Perjalanan Religi (Studi Analisis Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Menurut Al-Qur’an dan Hadis) (Jurnal Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Th. 2018), oleh Aceng Zakaria peristiwa ini terjadi setelah masa paling berat dalam dakwah Nabi Muhammad SAW.
Waktu terjadinya bertepatan dengan malam 27 Rajab sebelum peristiwa Hijrah ke Madinah. Konteks historisnya sangat penting untuk dipahami karena menunjukkan kasih sayang Allah kepada Rasul-Nya di tengah puncak kesulitan.
Rangkaian Perjalanan Isra Mi'raj dan Hikmahnya
Perjalanan suci ini dimulai ketika Malaikat Jibril datang membawa Buraq, kendaraan khusus dari surga yang memiliki kecepatan luar biasa. Sebelum berangkat, dada Nabi dibelah dan hatinya dibersihkan dengan air zamzam sebagai persiapan spiritual menghadapi perjalanan luar biasa ini.
Rasulullah kemudian dibawa dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dengan menunggang Buraq. Sesampainya di Baitul Maqdis, beliau memimpin shalat bersama para nabi terdahulu. Ini menandakan kedudukan Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul.
Tahapan selanjutnya adalah Mi'raj, perjalanan vertikal menembus tujuh langit menggunakan tangga cahaya. Di setiap langit, Rasulullah bertemu dengan para nabi:
1. Langit pertama bertemu Nabi Adam AS
2. Langit kedua bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS
3. Langit ketiga bertemu Nabi Yusuf AS
4. Langit keempat bertemu Nabi Idris AS
5. Langit kelima bertemu Nabi Harun AS
6. Langit keenam bertemu Nabi Musa AS
7. Langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim AS
Setelah melewati langit ketujuh, Rasulullah mencapai Sidratul Muntaha, tempat paling tinggi yang bisa dijangkau makhluk. Di sanalah Allah SWT memberikan perintah shalat sebanyak 50 waktu dalam sehari.
Menariknya, atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah beberapa kali kembali memohon keringanan kepada Allah. Akhirnya, perintah shalat diperingkan menjadi lima waktu sehari semalam, namun pahalanya tetap setara dengan 50 waktu shalat. Ini menunjukkan kemudahan yang Allah berikan kepada umat Muhammad SAW.
Selama perjalanan, Nabi juga diperlihatkan gambaran surga dan neraka. Beliau melihat langsung balasan bagi orang-orang yang beriman dan konsekuensi bagi mereka yang bermaksiat. Pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam tentang kehidupan akhirat yang kemudian beliau sampaikan kepada umatnya.
Hikmah terbesar dari peristiwa ini adalah penetapan shalat lima waktu sebagai tiang agama. Shalat menjadi satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung di langit, bukan melalui perantara wahyu di bumi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang Muslim.
Selain itu, peristiwa Isra Mi'raj membuktikan kebesaran Allah yang mampu melampaui hukum alam. Perjalanan yang tidak masuk akal secara logika manusia menjadi bukti kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Bagi umat Islam, meyakini peristiwa ini merupakan bagian dari keimanan kepada hal-hal ghaib.
Revewed by Doel Rohim S.Hum.