Konten dari Pengguna

Qiyas: Pengertian, Contoh, dan Dasarnya sebagai Sumber Hukum Syariah

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Palu dan kitab hukum/ Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Palu dan kitab hukum/ Pixabay

Qiyas dikenal sebagai salah satu sumber hukum syariah yang penting dalam Islam. Metode ini digunakan untuk mencari hukum suatu perkara yang belum dijelaskan secara eksplisit dalam Al-Qur'an dan Hadis. Pemahaman tentang qiyas sangat bermanfaat, khususnya saat menghadapi problematika hukum baru di tengah masyarakat.

Dalam konteks bulan Ramadhan, pembahasan terkait hal ini dapat ditelusuri lebih lanjut melalui ruang kajian ramadhan ensiklopedia lengkap bulan suci.

Pengertian Qiyas

Qiyas Menurut Bahasa

Secara bahasa, qiyas berarti mengukur atau membandingkan sesuatu dengan hal lain yang serupa. Kata ini sering digunakan ketika seseorang ingin mencari kesamaan antara dua hal untuk menentukan keputusan yang adil dan logis.

Qiyas Menurut Istilah Syariah

Dalam istilah syariah, qiyas adalah proses menetapkan hukum suatu perkara baru yang belum ada ketentuannya secara jelas dalam Al-Qur'an dan Hadis, dengan membandingkannya pada perkara lain yang hukumnya telah diketahui, berdasarkan sebab atau alasan yang sama. Tujuannya agar hukum Islam tetap relevan seiring waktu.

Pentingnya Qiyas dalam Hukum Islam

Menurut buku Qiyas: Sumber Hukum Syariah Keempat karya Ahmad Sarwat, Lc. MA, qiyas menjadi solusi atas permasalahan hukum yang belum dijelaskan secara eksplisit dalam Al-Qur'an dan Hadis. Dengan adanya qiyas, para ulama dapat memberikan jawaban atas berbagai persoalan baru yang muncul di tengah masyarakat, sehingga ajaran Islam tetap bisa diterapkan secara aktual.

Dasar Hukum Qiyas

Qiyas memiliki dasar hukum yang kuat dalam tradisi Islam. Penggunaannya dipandang penting dalam pengambilan keputusan hukum di luar ketentuan nash (teks) Al-Qur'an dan Hadis.

Dalil-dalil yang Mendasari Qiyas

Dalil qiyas diambil dari Al-Qur'an, antara lain melalui ayat-ayat yang menunjukkan perlunya menggunakan akal dan analogi dalam memahami hukum. Salah satu contohnya adalah perintah untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah masa lalu.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya.” (Surah An-Nisa Ayat 59)

Selain itu, hadits-hadits Nabi juga menegaskan pentingnya berijtihad jika belum ada ketentuan yang jelas.

Pandangan Ulama tentang Qiyas

Dalam penjelasan Ahmad Sarwat, Lc. MA, dalam Qiyas: Sumber Hukum Syariah Keempat, ulama menetapkan qiyas sebagai sumber hukum setelah Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Ijma', dengan landasan dalil dan praktik generasi sahabat. Para sahabat Rasulullah pun telah mempraktikkan qiyas dalam menghadapi persoalan baru yang belum memiliki rujukan langsung.

Contoh Qiyas dalam Kehidupan Sehari-hari

Qiyas menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Banyak persoalan modern yang diselesaikan dengan prinsip qiyas. Perkembangan zaman menghadirkan persoalan-persoalan baru yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan Sunnah, seperti transaksi digital, produk keuangan modern, hingga pemanfaatan teknologi medis.

Contoh Qiyas Klasik

Sebagaimana dijelaskan dalam buku Qiyas: Sumber Hukum Syariah Keempat karya Ahmad Sarwat, Lc. MA, contoh qiyas adalah pengharaman khamar yang diqiyaskan pada zat-zat memabukkan lainnya. Artinya, sesuatu yang memabukkan seperti narkotika dilarang karena memiliki illat (sebab) yang sama dengan khamar, yakni memabukkan dan merusak akal.

Contoh Qiyas Kontemporer

Dalam praktik modern, qiyas sering digunakan untuk menentukan hukum terhadap transaksi keuangan digital, misalnya uang elektronik yang diqiyaskan dengan uang tunai. Jika sifat dan manfaatnya sama, maka ketentuan hukumnya pun bisa disamakan.

Proses Penetapan Qiyas: Langkah-langkahnya

Penetapan qiyas dilakukan melalui beberapa langkah:

  1. mencari kasus hukum baru,

  2. menemukan kasus asal yang hukumnya jelas,

  3. mengidentifikasi sebab hukum yang sama,

  4. menetapkan hukum pada kasus baru berdasarkan analogi dengan kasus asal.

Syarat dan Rukun Qiyas

Agar qiyas sah dan dapat diterima, ada beberapa persyaratan dan rukun yang perlu diperhatikan. Kondisi ini menuntut adanya metode penetapan hukum yang tetap berlandaskan wahyu, namun mampu menjawab realitas zaman

Syarat-syarat Qiyas yang Sah

Qiyas harus memenuhi syarat: kasus asalnya memiliki hukum yang jelas berdasarkan Al-Qur'an, Hadis, atau ijma’; sebab hukum (illat) harus jelas dan relevan; serta hukum yang ditetapkan tidak boleh bertentangan dengan nash.

Rukun Qiyas (Aspek yang Harus Ada)

Empat rukun qiyas yang utama adalah:

  1. kasus asal yang sudah ada hukumnya,

  2. kasus baru yang belum ada hukumnya,

  3. sebab hukum (illat) yang sama,

  4. hukum yang akan diberlakukan pada kasus baru.

Penutup

Ringkasan Pentingnya Qiyas dalam Hukum Islam

Qiyas berperan sebagai jembatan antara teks-teks syariah dengan realitas kehidupan modern. Dengan metode ini, hukum Islam tetap dinamis dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa mengabaikan nilai-nilai utama.

Qiyas sebagai Dinamika Ijtihad Syariah

Melalui qiyas, para ahli hukum Islam dapat berijtihad secara bertanggung jawab dan terarah. Keberadaan qiyas memperlihatkan bahwa ajaran Islam sangat adaptif, sehingga mampu memberikan solusi atas permasalahan baru yang terus bermunculan.

Reviewed by Ajid Fuad Muzaki S.Th.I