Konten dari Pengguna

Rukun Islam Ke-3: Zakat sebagai Pilar Pembentuk Kepribadian Muslim

R

Ruang Kajian

Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seseorang sedang membaca Al Quran foto by Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Seseorang sedang membaca Al Quran foto by Pexels

Zakat merupakan rukun Islam ke-3 yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Berbeda dengan ibadah lainnya, zakat menghubungkan dua dimensi sekaligus: hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama manusia. Kewajiban ini tidak sekadar ritual, tetapi juga instrumen pembentuk karakter seorang muslim yang utuh.

Menurut Nurjannah dalam kajian jurnal Lima Pilar Rukun Islam sebagai Pembentuk Kepribadian Muslim (Jurnal Al-Ta'dib (Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan,Vol. 8, No. 2, Th. 2015) kelima rukun Islam merupakan satu kesatuan sistem yang dirancang untuk membentuk pribadi muslim yang sempurna. Zakat menjadi salah satu pilar penting yang melatih kepekaan sosial dan menghilangkan sifat materialisme dalam diri umat Islam.

Pengertian dan Kedudukan Zakat dalam Islam

Zakat adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu untuk memberikan sebagian hartanya kepada yang berhak menerimanya. Tidak seperti sedekah atau infak yang bersifat sukarela, zakat memiliki aturan dan ketentuan yang jelas, termasuk besaran nisab dan waktu pengeluarannya.

Allah SWT menegaskan kewajiban zakat dalam Al-Quran surah At-Taubah ayat 103: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. Ayat ini menunjukkan bahwa zakat berfungsi ganda, yakni membersihkan harta dan menyucikan jiwa dari sifat kikir.

Perintah menunaikan zakat juga disebutkan beriringan dengan perintah salat dalam surah Al-Baqarah ayat 43: Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'. Kedekatan perintah ini mengisyaratkan bahwa zakat memiliki bobot yang setara dengan salat dalam struktur keislaman seseorang.

Zakat membedakan dirinya dari sedekah karena memiliki kriteria penerima yang spesifik, waktu yang ditentukan, dan jumlah yang terukur. Sementara sedekah dapat diberikan kapan saja dan kepada siapa saja, zakat harus disalurkan kepada delapan golongan yang disebutkan dalam Al-Quran.

Hikmah disyariatkannya zakat sangat luas. Selain sebagai bentuk syukur atas nikmat harta, zakat juga mewujudkan keadilan ekonomi dan kesejahteraan sosial. Sistem ini menciptakan sirkulasi harta yang sehat dalam masyarakat, sehingga kesenjangan ekonomi dapat diminimalkan.

Peran Zakat dalam Membentuk Kepribadian Muslim yang Sempurna

Zakat melatih muslim untuk memiliki sifat dermawan, empati, dan kepedulian sosial yang tinggi. Kesediaan seseorang mengeluarkan sebagian hartanya menjadi bukti nyata keimanan yang tidak sekadar ucapan. Proses ini mengikis sikap egois dan cinta dunia yang berlebihan.

Dalam konteks pembentukan kepribadian, zakat mengajarkan bahwa harta yang dimiliki bukanlah milik mutlak manusia. Ada hak orang lain di dalamnya yang harus ditunaikan. Kesadaran ini membentuk karakter muslim yang tidak merasa paling berhak atas semua yang dimilikinya.

Dampak zakat terhadap masyarakat sangat signifkan. Pertama, zakat mengurangi kesenjangan sosial ekonomi antara golongan kaya dan miskin. Kedua, zakat membangun solidaritas dan persaudaraan antar sesama muslim. Ketiga, zakat menciptakan keseimbangan dalam distribusi kekayaan sehingga tidak hanya beredar di kalangan tertentu saja.

Zakat juga merupakan wujud tanggung jawab sosial muslim terhadap sesama. Tidak cukup hanya menjaga hubungan baik dengan Allah melalui ibadah ritual, tetapi juga harus menjaga hubungan horizontal dengan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat yang membutuhkan.

Keterkaitan zakat dengan rukun Islam lainnya membentuk muslim yang kaffah. Jika syahadat membangun pondasi keimanan, salat melatih kedisiplinan, maka zakat membentuk kepribadian yang peduli dan bertanggung jawab secara sosial. Puasa mengajarkan empati dengan merasakan lapar, sementara zakat mewujudkan empati itu dalam tindakan konkret.

Menurut Nurjannah, kelima pilar rukun Islam ini saling melengkapi dalam membentuk kepribadian muslim yang utuh. Zakat menjadi jembatan antara dimensi spiritual dan sosial, membuktikan bahwa Islam tidak hanya mengurus hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya.

Revewed by Doel Rohim S.Hum.