Sejarah dan Asal-Usul Hajar Aswad Menurut Hadits Nabi
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hajar Aswad merupakan batu mulia yang terletak di sudut tenggara Kakbah. Keberadaannya sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemudian menjadi bagian penting dalam ritual tawaf saat ibadah haji atau umrah.
Meski begitu, masih banyak umat Islam yang belum memahami secara mendalam tentang hakikat Hajar Aswad. Mulai dari asal-usulnya, perubahan warna yang terjadi, hingga adab yang benar saat berinteraksi dengannya. Berikut penjelasan lengkapnya berdasarkan kajian hadits.
Sejarah dan Asal-Usul Hajar Aswad Menurut Hadits Nabi
Asal-usul Hajar Aswad dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Rasulullah SAW bersabda:
نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ
Artinya: Hajar Aswad turun dari surga, ia lebih putih daripada susu, kemudian dihitamkan oleh dosa-dosa anak cucu Adam. (HR. Tirmidzi)
Dalam perspektif linguistik, lafadz nazala minal jannah menunjukkan asal muasal Hajar Aswad yang berasal dari surga. Kata nazala mengandung makna turun atau diturunkan, yang menandakan bahwa batu ini bukan berasal dari bumi.
Menurut kajian Isniyatun Niswah MZ dalam penelitiannya tentang hadits Hajar Aswad, perubahan warna dari putih menjadi hitam memiliki makna filosofis yang mendalam (Kajian Hadits tentang “Hajar Aswad” dalam Perspektif Linguistik Th. 2024). Kata bayada dalam bahasa Arab berarti putih, sementara sawwadathu berarti menghitamkan. Struktur kalimat ini menunjukkan proses perubahan yang disebabkan oleh dosa-dosa manusia.
Selain itu, Hajar Aswad juga memiliki fungsi khusus di hari kiamat. Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda bahwa Hajar Aswad akan menjadi saksi bagi mereka yang menciumnya dengan penuh keikhlasan. Hadits ini menjelaskan bahwa interaksi dengan Hajar Aswad bukan sekadar ritual fisik, melainkan memiliki dimensi spiritual yang akan dipertanggungjawabkan kelak.
Perubahan warna Hajar Aswad dari putih menjadi hitam bisa dipahami sebagai simbol akumulasi dosa manusia dari masa ke masa. Namun, ini bukan berarti batu tersebut kotor secara fisik, melainkan representasi simbolis dari kondisi umat manusia.
Keutamaan dan Hukum Mencium Hajar Aswad dalam Ibadah Haji
Umar bin Khattab pernah mengucapkan pernyataan tegas saat mencium Hajar Aswad. Beliau berkata:
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
Artinya: Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak memberi manfaat dan tidak memberi mudarat. Sekiranya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu. (HR. Bukhari)
Pernyataan Umar ini menjadi penegasan penting tentang tauhid. Kata hajar yang berarti batu menegaskan bahwa Hajar Aswad adalah objek mati yang tidak memiliki kekuatan sendiri. Menciumnya semata-mata untuk meneladani sunnah Rasulullah, bukan karena mengharapkan berkah dari batu itu sendiri.
Dalam hadits lain, Hajar Aswad disebut sebagai yamin Allah fil ardhi atau tangan kanan Allah di bumi. Namun menurut analisis linguistik, ini adalah ungkapan majazi atau kiasan. Bukan berarti Allah memiliki tangan secara harfiah di bumi, melainkan menunjukkan kedudukan mulia Hajar Aswad sebagai tempat berjabat tangan simbolis antara hamba dan Tuhannya.
Hukum mencium Hajar Aswad adalah sunnah, bukan wajib. Jika tidak memungkinkan karena kepadatan jamaah, cukup dengan menyentuh menggunakan tangan atau sekadar berisyarat dari kejauhan. Yang terpenting adalah menjaga keselamatan diri dan tidak menyakiti jamaah lain.
Adab yang benar saat berinteraksi dengan Hajar Aswad adalah tidak berdesak-desakan, tidak menganggapnya sebagai objek yang bisa memberi manfaat atau mudarat secara langsung, dan meyakini bahwa semua kebaikan hanya datang dari Allah SWT. Sikap berlebihan seperti meminta langsung kepada Hajar Aswad bisa mengarah pada kesyirikan yang harus dihindari.
Revewed: Doel Rohim. S.Hum.