Sejarah Kesultanan Malaka: Pendiri, dan Peran dalam Penyebaran Islam
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesultanan Malaka dikenal sebagai salah satu kerajaan penting dalam sejarah Asia Tenggara yang berperan besar dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut. Artikel ini akan membahas siapa pendiri Kesultanan Malaka, bagaimana sistem pemerintahannya, serta pengaruhnya terhadap penyebaran agama Islam. Semua penjelasan berdasarkan sumber sejarah yang kredibel untuk memberikan gambaran utuh tentang perjalanan kerajaan ini.
Asal Usul dan Pendiri Kesultanan Malaka
Sebelum Kesultanan Malaka berdiri, wilayah pesisir Selat Malaka didominasi oleh berbagai komunitas nelayan dan pelaut yang belum mengenal pemerintahan terpusat. Kondisi ini berubah ketika satu tokoh utama muncul dan membangun Melaka menjadi kerajaan besar yang disegani.
Menurut Maryamah dalam jurnal Rihlah (Vol. 9, No. 2, Th. 2021) berjudul Sejarah Kerajaan Malaka dan Keberhasilannya dalam Menyebarkan Agama Islam, pendiri Kesultanan Malaka adalah Parameswara. Tokoh ini merupakan seorang pangeran dari Palembang yang kemudian melarikan diri ke Semenanjung Malaya setelah keruntuhan kerajaan asalnya. Di tempat baru ini, Parameswara mendirikan Melaka sebagai pusat kekuatan baru yang lambat laun berkembang pesat.
Latar Belakang Berdirinya Kesultanan Malaka
Pergolakan politik di wilayah Sumatra dan Semenanjung Malaya mendorong migrasi dan perubahan kekuasaan. Parameswara memanfaatkan letak strategis Melaka yang berada di jalur perdagangan internasional. Hal ini menjadi fondasi utama berdirinya Kesultanan Malaka yang kemudian menarik perhatian pedagang dari berbagai penjuru, mulai dari Arab hingga Tiongkok.
Sistem pemerintahan Kesultanan Malaka cukup unik dan menjadi perhatian sejarawan. Gelar sultan menjadi simbol kekuasaan tertinggi, namun terdapat dinamika tersendiri terkait penggunaan gelar ini di masa awal kerajaan Melaka.
Dijelaskan dalam jurnal yang sama oleh Maryamah, Kesultanan Malaka memang dipimpin oleh seorang raja yang kemudian dikenal dengan sebutan sultan. Gelar ini mulai digunakan setelah Parameswara memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah. Penggunaan gelar sultan menjadi penanda bahwa Melaka telah mengadopsi sistem pemerintahan Islam, mengikuti tradisi kerajaan-kerajaan Islam lainnya di dunia.
Pada awal berdirinya, Melaka memang belum menggunakan gelar sultan karena pengaruh Hindu-Buddha masih kental dan Parameswara belum memeluk Islam. Setelah proses Islamisasi, gelar sultan diadopsi untuk menggantikan gelar raja. Dengan demikian, perubahan ini mencerminkan pergeseran identitas politik dan agama di Melaka, sekaligus memperkuat posisinya sebagai kerajaan Islam.
Kesultanan Malaka dan Peran Islam
Kesultanan Malaka dikenal luas sebagai kerajaan yang berperan aktif dalam menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara. Proses Islamisasi di Melaka berlangsung cukup cepat, seiring dengan masuknya para ulama dan pedagang Muslim dari Gujarat, Arab, dan Persia.
Maryamah juga menuliskan dalam jurnal tersebut, setelah Parameswara memeluk Islam, Kesultanan Malaka resmi menjadi kerajaan Islam. Konversi ini berdampak besar pada perubahan hukum, budaya, hingga sistem pemerintahan yang semakin menyesuaikan ajaran Al Quran. Perubahan ini juga menjadikan Melaka sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam di kawasan tersebut.
Dampak Penyebaran Islam oleh Kesultanan Malaka
Sebagai pusat perdagangan, Melaka menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa dan budaya. Penyebaran Islam tidak hanya terjadi di kalangan bangsawan, tetapi juga meluas ke masyarakat umum dan pedagang asing.
Kesultanan Malaka juga menjadi jembatan utama bagi masuknya Islam ke wilayah Nusantara, seperti Sumatra, Jawa, hingga Semenanjung Malaya. Pengaruh Melaka tetap terasa dalam perkembangan Islam di Asia Tenggara hingga saat ini.
Bisa disimpulkan bahwa Kesultanan Malaka merupakan salah satu kerajaan penting yang berhasil membangun kekuasaan politik dan ekonomi di pesisir Selat Malaka. Peran Parameswara sebagai pendiri dan perubahan gelar kepemimpinan menjadi sultan memperkuat identitas Islam di kerajaan ini.
Selain itu, Kesultanan Malaka menjadi pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara, memberikan dampak besar pada perkembangan agama dan budaya di kawasan ini. Hingga kini, jejak Kesultanan Malaka tetap menjadi bagian penting dalam sejarah Islam di Nusantara.
Reviwed by Doel Rohim S.Hum.