Sejarah Kesultanan Samudera Pasai di Indonesia: Pendiri, dan Ciri Khasnya
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesultanan Samudera Pasai menjadi salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara yang punya peran besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Letaknya yang strategis di pesisir utara Sumatra menjadikan kerajaan ini pusat perdagangan dan penyebaran agama. Artikel ini membahas asal-usul, ciri khas, hingga akhir perjalanan Kesultanan Samudera Pasai sebagai bagian penting sejarah Indonesia.
Pendiri Kesultanan Samudera Pasai
Kesultanan Samudera Pasai telah dikenal luas sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia, berperan sebagai pelopor penyebaran Islam di kawasan Nusantara. Sejarah berdirinya kerajaan ini erat kaitannya dengan peran perdagangan dan pengaruh budaya luar yang masuk ke wilayah pesisir Sumatra. Menurut buku Sejarah Kerajaan Samudera Pasai di Indonesia (2021) oleh Aulia Dinan Muhammad Dzakiyy, kerajaan ini muncul sebagai respons terhadap dinamika perdagangan di Selat Malaka dan kebutuhan masyarakat akan pemimpin yang mampu mengelola pusat ekonomi baru di kawasan tersebut.
Pendiri Kesultanan Samudera Pasai adalah Sultan Malik Al Saleh. Ia dikenal sebagai tokoh yang pertama kali memperkenalkan sistem pemerintahan Islam di wilayah ini. Dengan kepemimpinannya, Samudera Pasai berkembang menjadi kerajaan yang kuat dan disegani di Asia Tenggara.
Awal mula berdirinya Kesultanan Samudera Pasai berasal dari gabungan dua wilayah, yaitu Samudera dan Pasai. Setelah Malik Al Saleh naik tahta, kedua wilayah itu bersatu di bawah satu pemerintahan Islam. Proses ini didorong oleh aktivitas perdagangan internasional yang ramai di pesisir utara Sumatra.
Menurut Aulia Dinan Muhammad Dzakiyy, “Kesultanan Samudera Pasai berdiri di tengah pesatnya aktivitas perdagangan di Selat Malaka dan menjadi pusat penyebaran Islam pertama di Nusantara.”
Kesultanan Samudera Pasai memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari kerajaan lain di masanya. Lokasinya yang sangat strategis di jalur perdagangan internasional memperkuat posisi ekonomi dan politik kerajaan ini. Selain itu, karakteristik masyarakat serta sistem pemerintahan yang unik menjadi daya tarik tersendiri di mata para pedagang asing yang datang dari berbagai penjuru.
Letak Strategis dan Peran dalam Perdagangan
Kerajaan ini terletak di pesisir utara Sumatra, tepat di jalur pelayaran utama yang menghubungkan India, Timur Tengah, dan Tiongkok. Lokasi tersebut memungkinkan Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan komoditas penting lainnya. Banyak kapal dagang singgah di pelabuhannya, sehingga mempercepat proses akulturasi budaya dan penyebaran agama Islam.
Masyarakat Samudera Pasai dikenal terbuka terhadap pengaruh luar. Tradisi lokal berpadu dengan nuansa Islam yang mulai berkembang pesat. Perayaan keagamaan, pendidikan berbasis Alquran, serta penggunaan aksara Arab Melayu menjadi ciri khas kehidupan sosial di lingkungan kerajaan.
Keunikan Sistem Pemerintahan dan Ekonomi
Kesultanan Samudera Pasai menerapkan sistem pemerintahan yang dipengaruhi syariat Islam, termasuk penggunaan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bidang ekonomi, kerajaan ini mengenalkan penggunaan dinar emas sebagai mata uang resmi untuk memperlancar perdagangan dengan negara lain.
Menurut buku Sejarah Kerajaan Samudera Pasai di Indonesia, “Samudera Pasai menjadi sentra perdagangan dan penyebaran Islam melalui interaksi langsung antara pedagang, ulama, dan masyarakat lokal.”
Akhir perjalanan Kesultanan Samudera Pasai tidak terlepas dari berbagai tantangan internal dan eksternal. Dinamika politik di sekitar Selat Malaka serta hadirnya kekuatan baru di Sumatra memberikan tekanan besar pada keberlangsungan kerajaan ini. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sumber sejarah mencatat berbagai peristiwa penting di masa pemerintahan sultan terakhir.
Sultan terakhir yang memimpin Samudera Pasai adalah Sultan Zainal Abidin. Pemerintahannya dikenal sebagai periode penuh tantangan, terutama akibat munculnya kerajaan-kerajaan tetangga yang semakin kuat.
Peristiwa Penting di Masa Pemerintahan Sultan Terakhir
Pada masa Sultan Zainal Abidin, Kesultanan Samudera Pasai menghadapi serangan dari Kesultanan Aceh. Konflik berkepanjangan menyebabkan melemahnya kekuatan politik dan ekonomi kerajaan. Selain itu, pengaruh Portugis yang mulai masuk ke wilayah Asia Tenggara turut memperburuk situasi.
Kesultanan Samudera Pasai akhirnya runtuh setelah wilayahnya dikuasai oleh Kesultanan Aceh. Sejak saat itu, peran Samudera Pasai sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam secara perlahan memudar, meskipun jejak sejarah dan budayanya masih terasa hingga kini.
Aulia Dinan Muhammad Dzakiyy menyebutkan bahwa, “Akhir dari Kesultanan Samudera Pasai ditandai dengan dominasi Kesultanan Aceh yang mengambil alih peran strategis di kawasan Selat Malaka.”
Kesimpulan
Kesultanan Samudera Pasai menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan Islam di Indonesia. Kerajaan ini memperkenalkan sistem pemerintahan Islam, memperkuat posisi perdagangan, dan membangun tradisi keagamaan yang berakar pada Alquran. Keberadaan Samudera Pasai membuka jalan bagi tumbuhnya kerajaan Islam lain di Nusantara.
Meskipun akhirnya runtuh akibat tekanan eksternal, warisan budaya dan nilai-nilai Islam dari Kesultanan Samudera Pasai tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Kisahnya mengajarkan pentingnya peran strategis dan adaptasi budaya dalam membangun peradaban.
Reviwed by Doel Rohim S.Hum.