Sejarah Nabi Muhammad: Perjalanan Hidup Rasulullah
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami sejarah Nabi Muhammad SAW menjadi bagian penting bagi umat Islam untuk mengenal sosok yang menjadi panutan dalam kehidupan. Perjalanan hidupnya dari kelahiran hingga kemenangan Islam penuh dengan pelajaran tentang kesabaran, keberanian, dan keteguhan iman.
Kisah Rasulullah SAW dimulai dari Makkah pada tahun 571 Masehi hingga wafatnya di Madinah pada 632 Masehi. Dalam rentang waktu tersebut, beliau berhasil menyebarkan ajaran Islam yang mengubah peradaban dunia hingga saat ini.
Kehidupan Awal Nabi Muhammad hingga Masa Kenabian
Kelahiran dan Masa Kecil di Makkah
Muhammad bin Abdullah lahir pada tahun 571 Masehi di Makkah dari keluarga Bani Hasyim. Ayahnya bernama Abdullah yang telah wafat sebelum kelahirannya, sehingga beliau terlahir sebagai anak yatim. Setelah ibunya Aminah meninggal saat berusia enam tahun, Muhammad diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib.
Sepeninggal Abdul Muthalib, pengasuhan dilanjutkan oleh pamannya Abu Thalib. Sejak kecil, Muhammad dikenal dengan julukan Al-Amin yang berarti yang terpercaya karena sifat jujur dan amanah yang melekat pada dirinya.
Menurut Muhammad Rais Amin dalam Jurnal Tasamuh: Jurnal Studi Islam (Volume: 9 No. 2, Tahun 2017), yang berjudul "Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad dan Kemenangan Umat Islam", mendeskripsikan bahwa kehidupan Muhammad muda banyak dihabiskan sebagai pedagang. Pada usia 25 tahun, beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang janda kaya yang terkesan dengan kejujuran dan sifat terpercaya Muhammad dalam berdagang.
Turunnya Wahyu Pertama dan Awal Dakwah
Muhammad memiliki kebiasaan bertahannuts atau menyendiri di Gua Hira untuk beribadah. Saat berusia 40 tahun, tepatnya pada bulan Ramadan, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama dari Allah SWT. Ayat pertama yang turun adalah dari Surah Al-Alaq ayat 1 hingga 5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Setelah peristiwa tersebut, dakwah Islam dimulai secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun pertama. Dakwah terbatas pada keluarga dan sahabat terdekat seperti Khadijah, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah. Barulah setelah tiga tahun, dakwah dilakukan secara terang-terangan kepada masyarakat Makkah.
Penderitaan Umat Islam di Periode Makkah
Kaum Quraisy menolak keras ajaran Islam karena dianggap mengancam kedudukan dan kepercayaan leluhur mereka. Penolakan ini memicu berbagai siksaan terhadap pengikut Nabi Muhammad. Bilal bin Rabah disiksa dengan cara dijemur di bawah terik matahari dengan batu besar di dadanya. Keluarga Ammar bin Yasir juga mengalami penyiksaan hingga ibunya Sumayyah menjadi syahid pertama dalam Islam.
Pemboikotan ekonomi dan sosial terhadap Bani Hasyim berlangsung selama tiga tahun di Syi'ib Abi Thalib. Pada masa ini, umat Islam mengalami kesulitan mendapatkan makanan dan kebutuhan hidup lainnya. Tahun kesepuluh kenabian menjadi Aamul Huzn atau tahun kesedihan karena wafatnya Khadijah dan Abu Thalib dalam waktu yang berdekatan.
Hijrah ke Madinah dan Perkembangan Dakwah hingga Kemenangan Islam
Peristiwa Hijrah dan Pembentukan Masyarakat Islam
Pada tahun 622 Masehi, Nabi Muhammad beserta para pengikutnya hijrah ke Yatsrib yang kemudian dikenal dengan nama Madinah. Peristiwa hijrah ini menjadi titik balik sejarah Islam karena menandai dimulainya pembentukan masyarakat Islam yang terorganisir.
Setibanya di Madinah, Nabi Muhammad membangun Masjid Nabawi sebagai pusat peribadatan sekaligus pemerintahan. Beliau juga menyusun Piagam Madinah sebagai konstitusi pertama yang mengatur hubungan antar suku dan agama di Madinah. Dokumen ini menjamin hak-hak setiap kelompok dan menetapkan kewajiban bersama dalam menjaga keamanan kota.
Program Mu'akhat atau persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar diterapkan untuk memperkuat solidaritas umat. Kaum Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah dengan sukarela membagi harta dan tempat tinggal mereka kepada kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah.
Perjuangan Mempertahankan dan Menyebarkan Islam
Perang Badar terjadi pada tahun 624 Masehi antara pasukan Muslim yang berjumlah sekitar 313 orang melawan pasukan Quraisy sebanyak lebih dari 1.000 orang. Meskipun kalah jumlah, kaum muslimin meraih kemenangan yang dipandang sebagai pertolongan Allah SWT.
Perang Uhud pada 625 Masehi menjadi ujian besar bagi umat Islam. Kemenangan awal berubah menjadi kekalahan karena sebagian pasukan Muslim meninggalkan posisi yang diperintahkan Rasulullah. Perang ini mengajarkan pentingnya ketaatan dan disiplin dalam menghadapi musuh.
Pada Perang Khandaq tahun 627 Masehi, kaum muslimin menggunakan strategi pertahanan dengan menggali parit mengelilingi kota Madinah. Strategi inovatif ini berhasil menggagalkan serangan koalisi musuh yang jauh lebih besar. Perjanjian Hudaibiyah pada 628.
Revewed: Doel Rohim, S.Hum.