Konten dari Pengguna

Siapa Ashabul Ukhdud? Kisah Penguasa Zalim dalam Surah Al-Buruj

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seseorang sedang memilih kitab foto by pexels
zoom-in-whitePerbesar
Seseorang sedang memilih kitab foto by pexels

Kisah keimanan dalam Al-Quran seringkali menyimpan pelajaran mendalam tentang keteguhan dan ujian berat yang harus dihadapi. Salah satu yang paling menyentuh adalah kisah Ashabul Ukhdud, sekelompok orang beriman yang dibakar hidup-hidup karena tidak mau meninggalkan keyakinan mereka.

Kisah ini diabadikan dalam Surah Al-Buruj sebagai pengingat bagi umat Islam tentang bagaimana iman sejati dipertahankan bahkan di tengah siksaan paling kejam. Mengenal kisah Ashabul Ukhdud dapat membuka wawasan tentang dinamika kekuasaan, iman, dan pengorbanan dalam sejarah agama.

Latar Belakang Kisah Ashabul Ukhdud dalam Surah Al-Buruj

Kisah Ashabul Ukhdud disebutkan secara eksplisit dalam Al-Quran Surah Al-Buruj ayat 4 hingga 9. Allah SWT berfirman:

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ - النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ - إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ - وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ - وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Artinya: Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yaitu api yang mempunyai kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.

Ashabul Ukhdud secara harfiah berarti para penghuni parit atau para pembuat parit. Mereka adalah kelompok penguasa zalim yang menggali parit besar berisi api untuk membakar kaum beriman. Kisah ini memiliki konteks historis yang kuat dan menjadi simbol perlawanan iman terhadap penindasan.

Menurut penelitian Muhammad Zulfikar Nur Falah dalam Kisah Ashḥāb Al-Ukhdūd dalam Al-Qur’an: Tinjauan Antropologi (Studia Quranika, Vol. 8 No. 2 (2024), peristiwa ini menggambarkan dinamika kekuasaan, agama, dan resistensi sosial pada masa tersebut. Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga refleksi mendalam tentang bagaimana iman diuji melalui kekuasaan yang absolut.

Tokoh-tokoh utama dalam kisah ini meliputi raja zalim yang memaksakan kehendak, ahli sihir tua yang menjadi penasihat raja, seorang pemuda mukmin yang teguh dalam keimanan, dan rakyat yang dipaksa memilih antara iman atau api.

Kronologi Peristiwa dan Makna Kisah Ashabul Ukhdud

Kisah dimulai ketika seorang raja memiliki ahli sihir tua yang meminta murid untuk mewariskan ilmunya. Raja mengutus seorang pemuda untuk belajar sihir dari ahli tersebut. Dalam perjalanan menuju tempat ahli sihir, pemuda ini bertemu seorang rahib yang mengajarkan tauhid dan keimanan kepada Allah.

Pemuda tersebut mulai belajar dari dua sumber berbeda: sihir dari sang ahli dan keimanan dari sang rahib. Suatu hari, sebuah peristiwa mengubah hidupnya. Seekor binatang besar menghalangi jalan dan membuat orang-orang ketakutan. Pemuda itu berdoa kepada Allah dan melempar batu kepada binatang tersebut, lalu binatang itu mati. Ia pun yakin bahwa Allah lebih besar daripada sihir.

Setelah itu, pemuda ini dikenal memiliki kemampuan menyembuhkan orang sakit dengan izin Allah. Bahkan, ia berhasil menyembuhkan seorang orang buta dan orang yang sakit parah. Ketenarannya sampai ke telinga raja yang kemudian menangkap dan menyiksanya agar kembali menyembah raja.

Namun, pemuda itu tidak gentar. Ia justru mengatakan kepada raja bahwa hanya Allah yang bisa menghidupkan dan mematikan. Raja marah dan mencoba membunuhnya dengan berbagai cara, namun gagal. Akhirnya, pemuda itu mengajarkan cara membunuh dirinya sendiri dengan syarat raja menyebut nama Allah.

Ketika raja melakukannya, pemuda itu meninggal dan rakyat yang menyaksikan justru beriman kepada Allah. Raja yang murka kemudian menggali parit besar berisi api dan membakar semua orang yang tidak mau kembali kepada keyakinan lama. Ribuan orang beriman mati dalam kobaran api, tetapi mereka memilih iman daripada hidup dalam kemunafikan.

Kisah ini memberikan pelajaran penting tentang keteguhan iman. Ayat-ayat dalam Surah Al-Buruj mengajarkan bahwa keimanan sejati tidak bisa ditaklukkan oleh kekuasaan, ancaman, atau bahkan kematian. Orang-orang beriman yang dibakar itu dipandang mulia di sisi Allah meskipun mereka tersiksa secara fisik.

Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa kezaliman tidak akan bertahan selamanya. Allah menyebut para penguasa zalim itu dengan kutukan di awal ayat sebagai tanda bahwa mereka binasa secara spiritual meskipun sempat berkuasa secara duniawi.

Revewed by Doel Rohim S.Hum.