Konten dari Pengguna

Wahyu Pertama Turun di Gua Hira: Sejarah dan Makna Perintah Iqra

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah Gua di Arab foto by Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah Gua di Arab foto by Pexels

Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira menjadi titik awal perjalanan dakwah Islam. Gua Hira terletak di puncak Jabal Nur, sekitar tiga kilometer sebelah utara Masjidil Haram, Makkah. Gua ini memiliki ketinggian sekitar 634 meter di atas permukaan laut.

Sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW sering melakukan tahanus atau beribadah dalam kesendirian di gua tersebut. Kebiasaan tersebut menunjukkan kecenderungan beliau untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Allah. Pada malam yang penuh berkah di bulan Ramadan, peristiwa besar dalam sejarah Islam pun terjadi.

Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama di Gua Hira

Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad SAW di Gua Hira dengan membawa wahyu pertama. Saat itu, Nabi Muhammad sedang beribadah dalam kesendirian seperti biasa. Malaikat Jibril memerintahkan beliau untuk membaca, namun Rasulullah menjawab bahwa beliau tidak dapat membaca.

Perintah itu diulang sebanyak tiga kali hingga akhirnya turunlah wahyu pertama berupa Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5. Ayat tersebut berbunyi: Iqra bismi rabbikal ladzi khalaq, khalaqal insaana min alaq, iqra wa rabbukal akram, alladzi allama bil qalam, allamal insaana maa lam yalam.

Artinya: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad SAW mengalami perasaan takut dan guncangan luar biasa. Beliau segera pulang menemui istri tercinta, Khadijah, dengan tubuh gemetar. Khadijah kemudian menenangkan beliau dan membawa Rasulullah menemui Waraqah bin Naufal, sepupunya yang ahli dalam kitab-kitab terdahulu.

Waraqah bin Naufal menjelaskan bahwa apa yang dialami Nabi Muhammad SAW adalah tanda kenabian. Ia menyatakan bahwa malaikat yang datang adalah Jibril, malaikat yang sama yang pernah turun kepada Nabi Musa. Konfirmasi ini meneguhkan bahwa Muhammad SAW telah dipilih Allah sebagai rasul terakhir.

Relevansi Perintah Iqra bagi Kehidupan Modern

Kata iqra dalam bahasa Arab memiliki makna yang luas. Menurut Siti Rohmatul Ummah dalam kajiannya yang berjudul Relevansi Perintah Iqra’ pada Wahyu Pertama bagi Masyarakat Modern (Jurnal: Pancawahana: Jurnal Studi Islam Tahun: 2017), perintah ini tidak hanya berarti membaca teks semata, tetapi juga memahami, mempelajari, dan meneliti segala ciptaan Allah. Wahyu pertama ini menjadi fondasi penting bagi umat Islam untuk menghargai ilmu pengetahuan.

Menariknya, wahyu pertama yang turun bukan tentang hukum atau larangan, melainkan perintah untuk membaca. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya literasi dan pengetahuan dalam Islam. Membaca menjadi kunci utama peradaban dan kemajuan umat manusia.

Di era digital seperti sekarang, perintah iqra semakin relevan. Umat Islam tidak hanya dituntut membaca Al-Quran, tetapi juga literatur ilmiah, buku-buku pengetahuan, dan berbagai informasi yang dapat menambah wawasan. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah membedakan informasi yang benar dan hoaks.

Literasi digital menjadi kebutuhan mendesak di tengah arus informasi yang begitu cepat. Kemampuan menyaring informasi yang valid merupakan bentuk implementasi perintah iqra di zaman modern. Umat Islam perlu mengembangkan budaya baca yang kritis dan bertanggung jawab.

Sayangnya, minat baca masyarakat Indonesia termasuk rendah. Padahal, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW justru menekankan pentingnya membaca. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan dan perkembangan masyarakat Islam kontemporer.

Selain itu, perintah membaca dalam wahyu pertama juga mencakup pembacaan terhadap ayat-ayat kauniyah atau fenomena alam. Mengamati dan meneliti ciptaan Allah merupakan bagian dari perintah iqra yang sering terlupakan. Ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya berkembang pesat di kalangan umat Islam sebagai respons terhadap wahyu pertama.

Dengan mengamalkan perintah iqra secara menyeluruh, masyarakat modern dapat membangun peradaban yang maju sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai spiritual. Wahyu pertama yang turun di Gua Hira bukan hanya peristiwa bersejarah, tetapi juga panduan abadi untuk kemajuan umat manusia di segala zaman.

Revewed Doel Rohim S.Hum.