Wahyu Terakhir Al-Qur’an: Penjelasan Ayat dan Waktu Turunnya
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Al-Qur’an dikenal sebagai kitab suci terakhir yang diimani umat Islam di seluruh dunia. Statusnya sebagai wahyu terakhir Allah dan waktu turunnya ayat terakhir Al-Qur’an menjadi salah satu hal penting dalam sejarah Islam. Artikel ini akan membahas secara ringkas apa yang dimaksud wahyu terakhir Al-Qur’an, kapan diturunkan, serta maknanya bagi umat Muslim.
Al-Qur’an sebagai Wahyu Terakhir dari Allah
Al-Qur’an memiliki posisi unik dalam ajaran Islam sebagai wahyu terakhir yang diturunkan Allah. Menurut jurnal Ayat-Ayat Al-Qur’an yang Pertama Serta yang Terakhir Kali Diturunkan kepada Nabi Muhammad karya Putri Junita dan Anisa Maulidya, Al-Qur’an diyakini sebagai penutup seluruh rangkaian wahyu ilahi.
Pengertian Wahyu dalam Islam
Dalam Islam, wahyu adalah petunjuk atau firman Allah yang disampaikan langsung kepada para nabi melalui malaikat. Wahyu membawa ajaran dan hukum yang menjadi pedoman hidup manusia. Al-Qur’an merupakan penutup wahyu karena tidak ada lagi kitab suci atau ajaran langsung dari Allah setelahnya. Semua pedoman hidup umat Islam bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Kapan Wahyu Terakhir Al-Qur’an Diturunkan?
Penentuan waktu turunnya wahyu terakhir menjadi perhatian utama dalam sejarah Islam. Hal ini berkaitan erat dengan peristiwa penting di masa akhir kenabian Muhammad SAW.
Kronologi Turunnya Wahyu Terakhir
Ayat terakhir Al-Qur’an diyakini turun menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi setelah beliau menunaikan Haji Wada’, yaitu haji perpisahan di tahun terakhir hidup beliau.
Ayat dan Surat Terakhir yang Diturunkan
Para ulama memiliki beberapa pendapat mengenai ayat dan surat terakhir yang diturunkan. Salah satu pendapat yang kuat menyebutkan bahwa ayat terakhir adalah Surah Al-Baqarah ayat 281 yang berisi peringatan tentang hari kembalinya manusia kepada Allah dan pertanggungjawaban atas seluruh amal perbuatan.
Sementara itu, terdapat pula pendapat yang menyatakan bahwa ayat terakhir berkaitan dengan penyempurnaan agama, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Mā’idah ayat 3. Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa kajian tentang ayat dan surat terakhir yang diturunkan merupakan bagian dari diskursus keilmuan dalam ulumul Qur’an, yang tetap berpijak pada dalil dan riwayat yang sahih.
Surah Al-Maidah ayat 3 sebagai wahyu terakhir:
ḫurrimat ‘alaikumul-maitatu wad-damu wa laḫmul-khinzîri wa mâ uhilla lighairillâhi bihî wal-munkhaniqatu wal-mauqûdzatu wal-mutaraddiyatu wan-nathîḫatu wa mâ akalas-sabu‘u illâ mâ dzakkaitum, wa mâ dzubiḫa ‘alan-nushubi wa an tastaqsimû bil-azlâm, dzâlikum fisq, al-yauma ya'isalladzîna kafarû min dînikum fa lâ takhsyauhum wakhsyaûn, al-yauma akmaltu lakum dînakum wa atmamtu ‘alaikum ni‘matî wa radlîtu lakumul-islâma dînâ, fa manidlthurra fî makhmashatin ghaira mutajânifil li'itsmin fa innallâha ghafûrur raḫîm
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu sembelih. (Diharamkan pula) apa yang disembelih untuk berhala. (Demikian pula) mengundi nasib dengan azlām (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah: 3)
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Wahyu Terakhir
Selain Al-Maidah ayat 3, ada juga pendapat yang menyebutkan Al-Baqarah ayat 281 dan At-Taubah ayat 128-129 sebagai ayat terakhir. Perbedaan ini muncul karena perbedaan riwayat tentang kronologi penurunan ayat.
Makna dan Implikasi Wahyu Terakhir bagi Umat Islam
Wahyu terakhir Al-Qur’an membawa dampak besar terhadap pemahaman ajaran Islam. Umat Muslim perlu memahami konsekuensi dari tidak adanya wahyu baru setelah Al-Qur’an.
Konsekuensi Tidak Ada Wahyu Baru Setelah Al-Qur’an
Konsekuensi dari berakhirnya wahyu adalah kewajiban umat Islam untuk menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan utama dalam seluruh aspek kehidupan. Setiap persoalan baru yang muncul harus dikaji dengan merujuk pada prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam keduanya melalui proses ijtihad yang bertanggung jawab.
Selain itu, tidak adanya wahyu baru menegaskan kesempurnaan ajaran Islam sebagai pedoman hidup yang universal dan sepanjang zaman. Umat Islam dituntut untuk terus menggali, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an secara kontekstual tanpa mengubah substansi ajaran yang telah ditetapkan.
Pentingnya Memahami Wahyu Terakhir bagi Muslim
Mengetahui wahyu terakhir membantu umat Islam memahami bahwa ajaran Islam telah sempurna. Dengan begitu, setiap Muslim diharapkan berpegang teguh dan mempelajari isi Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Wahyu terakhir Al-Qur’an menandai berakhirnya rangkaian wahyu Allah kepada manusia. Kebanyakan ulama sepakat, Al-Qur’an menjadi pedoman abadi tanpa wahyu baru sesudahnya. Dengan memahami sejarah dan makna wahyu terakhir, umat Islam dapat memperkuat keyakinan dan memperdalam pemahaman terhadap ajaran agama yang telah disempurnakan.
Reviewed by Ajid Fuad Muzaki S.Th.I