Musisi Tradisi Kita Itu Sakti, tapi Sayangnya Mereka Bukan Highlander

Pegiat Teknologi Pendidikan Kejuruan
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rudi Nofindra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu ketakutan yang lebih horor daripada melihat saldo ATM di akhir bulan bagi para penggiat budaya di negeri ini yaitu saat mendengar kabar seorang maestro kesenian tradisi wafat. Kenapa horor? Karena di negara kita, kalau satu maestro meninggal dan beliau belum sempat mewariskan ilmunya secara detail itu rasanya seperti satu Perpustakaan Nasional kebakaran sampai lumat jadi abu. Ilmunya hilang, bunyinya raib dan kita yang muda-muda cuma bisa bilang, “Yah, sayang banget ya, padahal beliau jago banget.”
Masalahnya, kita ini bangsa yang terlalu romantis sama yang namanya “tradisi lisan”. Konsep pewarisan dari telinga turun ke hati, lalu ke jemari, itu memang kedengarannya puitis bin estetik. Tapi mari kita jujur-jujuran, di zaman yang serba digital dan serba cepat ini, mengandalkan ingatan manusia itu risikonya gede banget, Lur. Ingatan manusia itu bisa distorsi, bisa lupa karena faktor usia, dan yang paling pasti manusia itu nggak abadi. Kita ini cuma manusia biasa, bukan Highlander yang bisa hidup selamanya buat jagain nada-nada keramat itu supaya nggak punah.
Fenomena ini adalah apa yang kami sebut sebagai Anemia Musikal. Sebuah kondisi di mana ekosistem musik kita kekurangan sel darah merah berupa data dan literasi. Kita pucat, lemas dan gampang pingsan saat berhadapan dengan gempuran industri musik global yang datanya rapi jali.
Panggung yang Megah, Kelas yang Merana
Coba sesekali kalian tengok festival musik tradisi atau acara inkubasi budaya yang sering didanai pemerintah atau lembaga. Wah, panggungnya megah luar biasa. Lighting-nya silau sampai bikin mata kedip-kedip, sistem suaranya menggelegar sampai ke ulu hati. Penonton tepuk tangan sampai tangannya merah-merah. Komposernya dipuji setinggi langit. Kelihatannya keren, kan?
Tapi mari kita lihat apa yang terjadi besok paginya. Begitu konser selesai, lampu panggung dimatikan, tenda dibongkar, dan penonton pulang ke rumah masing-masing, ya sudah. Selesai. Karya yang tadinya dianggap jenius itu menguap begitu saja bareng asap rokok di parkiran. Fana banget. Karya itu hanya hidup selama 15 menit di atas panggung, lalu terkubur dalam memori yang perlahan memudar.
Sekarang, coba tengok ke sisi lain ruang kelas di SMK Seni atau kampus musik. Di sana, para dosen dan guru sering garuk-garuk kepala yang nggak gatal. Mereka punya gairah besar buat ngajarin musik tradisi daerah yang keren itu ke mahasiswanya. Tapi masalahnya klasik bahannya nggak ada. Begitu mau ngajarin teknik petikan instrumen tertentu atau struktur ritme daerah, mereka bingung cari bukunya di mana.
Akhirnya, apa boleh buat, karena nggak ada dokumentasi tertulis yang standar, mereka balik lagi pakai buku teori musik Barat yang sudah mapan. Kita sibuk belajar major scale, minor melodic, atau harmoni ala Eropa, sementara ritme musik daerah di depan mata kita sendiri nggak ada catatannya. Kita pinter baca partitur Mozart, tapi buta huruf sama musik kakek kita sendiri. Ini kan namanya the missing link. Panggungnya lari ke utara, kurikulum sekolahnya lari ke selatan. Nggak nyambung, Bos!
Biar Musik Kita Nggak Cuma Jadi Kenangan
Makanya, saya punya sebuah pandangan yang mungkin kedengarannya nggak seksi buat orang yang cuma pengin hura-hura di konser atau cuma pengin post foto di Instagram menuliskan bunyi.
Iya, ditulis. Serius. Dijadiin partitur, dikasih anotasi, dibikin esai proses kreatifnya, lalu diterbitkan jadi buku yang punya ISBN. Tujuannya sederhana tapi fundamental biar musik tradisi kita punya tubuh yang tegak. Kalau musik cuma didengerin, dia cuma jadi memori yang rawan dimanipulasi. Tapi kalau ditulis, dia jadi literatur. Dia jadi ilmu pengetahuan. Dia jadi abadi.
Mungkin ada yang protes,Lho, musik tradisi itu kan rasa, nggak bisa ditulis pakai notasi balok, Oke, poin itu benar sebagian. Tapi kalau alasan rasa itu terus dipakai buat menolak dokumentasi, ya jangan komplain kalau nanti anak cucu kita malah belajar gamelan atau perkusi nusantara ke peneliti asing di luar negeri yang catatannya lebih lengkap daripada kita.
Kenapa gerakan literasi musik ini krusial? Ada beberapa alasan buat kalian yang mungkin masih mikir kalau nulis partitur itu kerjaan sia-sia:
Pertama, Biar nggak gampang hilang atau diklaim. Tulisan itu lebih bandel daripada memori manusia. Kalau partiturnya ada, seratus tahun lagi anak cucu kita masih bisa mainin nada yang sama tanpa perlu manggil arwah lewat jailangkung atau berdebat kusir di media sosial soal siapa yang punya nada itu duluan. Dokumentasi adalah benteng pertahanan paling masuk akal.
Kedua, Menyelamatkan Guru seni kita. Kasihan guru-guru seni kita di ruang-ruang kelas. Mereka butuh pegangan. Kalau ada buku referensi yang valid dan terstandar, mereka punya bahan ajar yang keren. Siswa SMK Seni nggak cuma bakal pinter main instrumen, tapi juga jago baca notasi musik daerahnya sendiri. Ini namanya memuliakan profesi pendidik seni.
Ketiga, Biar bisa dibaca algoritma. Hari gini, kalau data kebudayaan kita nggak rapi, jangan harap bisa eksis di percaturan dunia. Dengan metadata yang oke, musik kita bisa dibaca sama algoritma global, bahkan oleh kecerdasan buatan (AI) sekalipun. Kita perlu menyuplai data yang benar ke internet, supaya kalau ada orang di Brasil atau Jepang cari tahu soal musik kita, yang muncul bukan cuma video amatir dengan suara pecah, tapi sebuah studi musikologi yang komplit.
Keempat, Menciptakan Musisi yang Intelek. Kita nggak butuh cuma tukang main musik yang pinter mencet tombol atau metik dawai. Kita butuh komposer yang juga peneliti (composer-researcher). Orang yang tahu kenapa sebuah nada harus dimainkan seperti itu, apa filosofinya dan bagaimana cara menuliskannya supaya orang lain bisa belajar. Ini adalah soal menaikkan level martabat musisi tradisi kita.
Membangun Atlas Bunyi Nusantara
Impian besarnya adalah mewujudkan sebuah Atlas Bunyi sebuah database ensiklopedis yang mencatat karakteristik ritme, frekuensi instrumen, hingga filosofi di balik setiap nada dari berbagai penjuru negeri. Bayangkan sebuah perpustakaan di mana setiap mahasiswa musik bisa datang dan menemukan resep musik dari berbagai suku dengan akurat.
Kita harus berhenti merasa cukup hanya dengan menjadi penjaga tradisi. Penjaga itu biasanya cuma duduk di depan pintu. Kita harus jadi pengembang. Pengembangan itu mustahil terjadi tanpa dasar data yang kuat. Dokumentasi bukan berarti membekukan musik tradisi jadi barang museum yang kaku, justru dokumentasi adalah bahan bakar untuk inovasi yang lebih gila lagi di masa depan.
Sudah saatnya kita berhenti merasa keren hanya karena punya sejarah tradisi lisan yang panjang. Tradisi lisan itu kekayaan, benar, tapi tanpa dokumentasi tertulis, kita itu sebetulnya cuma lagi nunggu waktu sampai semuanya hilang perlahan-lahan. Kita seperti orang kaya yang punya banyak emas tapi nggak punya sertifikatnya sewaktu-waktu bisa hilang atau dirampas orang dan kita nggak punya bukti apa-apa.
Kalau kita pengin musik tradisi kita tetap berkumandang seribu tahun lagi, ya jangan cuma direkam pakai HP trus diposting di Story Instagram yang bakal hilang dalam 24 jam. Tulis dan bukukan Biar dia jadi sejarah yang bisa dipegang, bukan cuma sekadar katanya atau dulu pernah ada.
Sebab, di akhir hari, apa yang terucap bakal hilang dibawa angin yang lewat, tapi apa yang tertulis bakal tetap ada di rak buku, di database komputer, dan di kepala generasi mendatang. Musisi tradisi boleh saja tidak hidup abadi, tapi melalui aksara, nada-nada mereka bisa melintasi zaman tanpa harus takut terlupakan.
