Konten dari Pengguna

Ada Saatnya Berhenti Mengetuk Pintu

Ilustrasi  Generated By AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Generated By AI

Dalam politik, meminta dukungan merupakan hak seorang calon, tetapi menentukan pilihan adalah hak warga. Tidak seorang pun berhak menagih suara hanya karena pernah datang bertamu, pernah membantu, atau memiliki hubungan baik dengan seseorang. Suara bukan utang dan bukan pula janji yang harus dibayar. Di dalam demokrasi, pilihan warga memiliki ruang yang harus dihormati, termasuk ketika pilihan tersebut tidak sesuai dengan keinginan kita. Karena itu, ada saatnya seorang calon berhenti mengetuk pintu dan memberikan ruang kepada warga untuk menentukan pilihan secara bebas. Sampaikan niat dengan baik, jelaskan program dengan jujur, tunjukkan rekam jejak, kemudian biarkan masyarakat menilai. Jangan sampai ketakutan kehilangan satu suara membuat kita kehilangan ketenangan dan kewibawaan, karena semakin sering seseorang meminta kepastian belum tentu semakin besar kepercayaan yang tumbuh; bisa saja yang muncul justru rasa sungkan karena warga merasa tidak enak menolak.

Rendah hati dalam meminta dukungan adalah sikap terpuji, tetapi terlalu sering mengejar orang yang belum tentu ingin memilih kita justru dapat membuat kita merendahkan diri sendiri. Dalam kehidupan desa, perbedaan antara rendah hati dan merendahkan diri perlu dijaga dengan baik. Rendah hati berarti bersedia datang kepada masyarakat, menyapa dengan sopan, mendengarkan keluhan, mengakui kekurangan, dan meminta kepercayaan. Sebaliknya, merendahkan diri terjadi apabila seseorang terus mengejar warga yang sudah mengetahui maksud kedatangannya hanya karena takut kehilangan satu suara. Perbedaannya memang tipis, tetapi dampaknya terhadap wibawa seorang calon bisa sangat besar.

Pilkades bukan sekadar tentang siapa yang paling banyak memperoleh suara, melainkan juga tentang bagaimana seseorang membawa dirinya dalam sebuah kontestasi. Menang tentu penting, tetapi cara seseorang berjuang untuk mendapatkan kemenangan juga menjadi bagian dari penilaian masyarakat. Dalam kehidupan desa, penilaian seperti itu sering kali berjalan diam-diam. Warga melihat siapa yang selama ini hadir, siapa yang mudah ditemui ketika masyarakat membutuhkan, siapa yang mau mendengarkan persoalan, dan siapa yang menjaga hubungan baik tanpa membedakan kepentingan. Masyarakat mungkin tidak selalu mengatakannya secara terbuka, tetapi mereka memiliki ingatan sosial yang panjang. Mereka tahu siapa yang datang karena kepedulian dan siapa yang datang karena membutuhkan suara.

Pemikiran budayawan Emha Ainun Nadjib relevan untuk direnungkan dalam konteks ini. Manusia, dalam kehidupan sosial dan politik, tidak semestinya kehilangan martabat hanya karena mengejar kepentingan sesaat. Politik jangan sampai membuat manusia melihat manusia lainnya sekadar sebagai alat untuk mencapai kemenangan. Warga bukan angka dalam daftar dukungan. Mereka adalah manusia yang memiliki kehendak, pertimbangan, dan kebebasan untuk menentukan pilihan. Karena itu, meminta dukungan boleh dilakukan, tetapi memaksa keadaan agar seseorang terus memberikan kepastian justru berisiko menghilangkan penghormatan terhadap kebebasan tersebut.,

Kearifan budaya Jawa juga mengenal ungkapan, “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.” Harga diri seseorang tercermin dari tutur kata dan sikapnya. Dalam kontestasi politik, cara meminta dukungan pun menunjukkan bagaimana seseorang menghargai dirinya sendiri sekaligus menghargai orang lain. Meminta dukungan dengan sopan menunjukkan penghormatan, sedangkan terus mengejar kepastian dari orang yang belum tentu memberikan dukungan dapat membuat hubungan yang semula baik menjadi tidak nyaman. Karena itu, jangan menganggap warga harus terus diyakinkan hanya karena hari pemungutan suara semakin dekat. Sampaikan apa yang ingin diperjuangkan, jelaskan program yang akan dijalankan, tunjukkan apa yang telah dilakukan, lalu berikan kesempatan kepada masyarakat untuk menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan mereka sendiri.

Satu suara memang penting. Dalam sebuah pemilihan, satu suara bahkan dapat menjadi bagian dari penentu hasil. Namun, pentingnya sebuah suara tidak berarti harga diri harus dipertaruhkan untuk mendapatkannya. Jangan sampai karena terlalu takut kehilangan satu suara, kita justru kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: ketenangan, kewibawaan, dan penghormatan dari orang lain. Jangan menjual martabat demi suara yang belum tentu menjadi milik kita. Politik membutuhkan ikhtiar, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk berhenti. Ada pintu yang perlu diketuk, tetapi tidak semua pintu harus diketuk berkali-kali. Ada warga yang perlu ditemui, tetapi tidak semua orang harus terus-menerus dimintai kepastian. Setelah gagasan disampaikan dan dukungan diminta, ada saatnya kita mundur selangkah agar warga memiliki ruang untuk berpikir dan menentukan pilihannya sendiri.

Memberikan kebebasan kepada warga bukan berarti menyerah. Justru di situlah kedewasaan politik diuji. Seorang calon yang percaya pada gagasan dan rekam jejaknya tidak perlu memaksa semua orang untuk menyatakan dukungan. Ia cukup menyampaikan apa yang diyakininya, menunjukkan apa yang telah dikerjakannya, lalu menyerahkan keputusan kepada masyarakat. Sebab, orang yang memang ingin memilih kita tidak harus dikejar setiap saat. Kepercayaan tidak tumbuh karena seseorang berkali-kali datang meminta kepastian. Kepercayaan tumbuh dari rekam jejak, sikap, ketulusan, dan keyakinan masyarakat bahwa orang tersebut layak diberi amanah.

Pilkades akan selesai. Surat suara akan dihitung. Ada yang menang dan ada yang kalah. Setelah itu, kehidupan desa tetap berjalan. Orang-orang yang berbeda pilihan akan kembali menjadi tetangga. Mereka akan bertemu di jalan, di masjid, di pasar, dalam kegiatan sosial, dalam hajatan, dan dalam berbagai urusan kehidupan sehari-hari. Maka, jangan biarkan kontestasi yang hanya berlangsung sesaat merusak hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun. Jangan pula karena ingin mendapatkan kemenangan, seseorang kehilangan cara untuk menghormati orang lain yang memiliki pilihan berbeda.

Tak perlu mendatangi orang yang sama berkali-kali hanya karena takut suaranya berpindah. Jika seseorang memang tidak menyukai kita, terlalu sering datang hanya akan membuka ruang bagi harapan untuk dipermainkan. Lebih baik menjaga martabat daripada terus mengejar kepastian yang belum tentu pernah diberikan. Ketuklah pintu dengan sopan, sampaikan niat dengan jujur, jelaskan gagasan dengan terbuka, mintalah kepercayaan dengan rendah hati, lalu berikan warga kebebasan untuk menentukan pilihannya. Pada akhirnya, suara yang diperoleh karena kepercayaan jauh lebih bernilai daripada suara yang dikejar karena kecemasan. Politik yang bermartabat bukan tentang siapa yang paling sering mengetuk pintu, melainkan siapa yang mampu menjaga kehormatan diri sambil tetap menghormati kebebasan orang lain.

Jangan menjual harga diri demi sebuah suara. Sebab, kemenangan hanya berlangsung sesaat, tetapi martabat seseorang akan dikenang jauh lebih lama.