Anak Muda Tidak Takut Kompetisi, Mereka Hanya Muak pada Ordal
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak muda sebenarnya tidak takut kalah. Mereka hanya mulai lelah bertanding dalam arena yang garis start-nya terasa berbeda. Kalau kalah karena lawannya lebih pintar, lebih berpengalaman, lebih rajin, atau memang mempunyai kemampuan yang lebih baik, kekalahan masih bisa diterima. Bahkan, kekalahan semacam itu bisa menjadi bahan bakar untuk belajar dan memperbaiki diri. Yang membuat frustrasi adalah saat seseorang sudah bertahun-tahun sekolah, mengikuti pelatihan, mengumpulkan pengalaman, membangun portofolio, bekerja keras, lalu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa semua itu seolah tidak cukup karena ada orang lain yang memiliki akses lebih dekat kepada pihak yang menentukan. Pada saat itulah persoalannya berubah. Ini bukan lagi sekadar soal siapa yang mendapatkan pekerjaan, jabatan, proyek, beasiswa, atau kesempatan, melainkan tentang apakah usaha dan kemampuan masih mempunyai hubungan yang masuk akal dengan kesempatan yang diperoleh.
Fenomena “orang dalam” atau ordal sebenarnya hanyalah satu istilah untuk menggambarkan kegelisahan yang jauh lebih besar. Anak muda hidup dalam persaingan yang semakin padat. Untuk mendapatkan pekerjaan saja, seseorang bisa dituntut memiliki pendidikan, pengalaman, kemampuan digital, sertifikat, kemampuan komunikasi, bahkan pengalaman organisasi. Mereka kemudian diminta membangun jaringan karena networking dianggap penting. Tidak ada yang salah dengan itu. Hubungan sosial memang bagian dari kehidupan profesional. Masalah muncul ketika jaringan yang semestinya membuka informasi dan kesempatan berubah menjadi pintu khusus untuk melewati persyaratan yang berlaku bagi orang lain. Pada saat itu, pertanyaan anak muda bukan lagi “apa yang harus saya tingkatkan?”, tetapi mulai bergeser menjadi “siapa yang harus saya kenal?” Pergeseran pertanyaan inilah yang patut dicemaskan.
Sebab rekomendasi dan ordal bukanlah dua hal yang selalu sama. Seseorang bisa memperoleh pekerjaan karena direkomendasikan oleh mantan atasan, teman profesional, dosen, atau kolega. Itu tidak otomatis salah. Rekam jejak seseorang memang sering kali lebih mudah diketahui melalui orang yang pernah bekerja dengannya. Seorang pengusaha juga bisa mendapatkan mitra karena jaringan bisnis yang sudah dibangun bertahun-tahun. Dalam situasi seperti itu, koneksi justru menjadi bagian sehat dari kehidupan profesional. Persoalan muncul apabila hubungan pribadi digunakan untuk memberikan keistimewaan yang tidak berkaitan dengan kemampuan, mengabaikan kualifikasi, menutup kesempatan peserta lain, atau membuat proses yang seharusnya terbuka menjadi sekadar formalitas.
Anak muda tidak meminta jalan yang mudah. Mereka hanya ingin jalan yang adil.
Kalimat itu sederhana, tetapi barangkali menjadi inti dari kegelisahan yang sedang tumbuh. Anak muda tidak meminta semua orang mendapatkan pekerjaan yang sama, jabatan yang sama, penghasilan yang sama, atau penghargaan yang sama. Mereka memahami bahwa kehidupan memang kompetitif. Mereka juga tahu bahwa tidak semua usaha menghasilkan kemenangan. Kalau seseorang kalah dalam seleksi karena ada peserta lain yang lebih memenuhi kriteria, kekalahan itu masih dapat diterima. Yang sulit diterima adalah perasaan bahwa hasil sudah dipengaruhi oleh sesuatu yang berada di luar kemampuan peserta. Sebab kalau hasil pertandingan ditentukan oleh kemampuan, orang masih punya alasan untuk berlatih. Tetapi kalau hasilnya diyakini ditentukan oleh kedekatan, untuk apa seseorang terus meningkatkan kemampuan?
Michael Sandel dalam bukunya The Tyranny of Merit pernah mengajak masyarakat melihat kembali cara kita memahami keberhasilan. Menurut Sandel, keberhasilan tidak semata-mata lahir dari kerja keras dan kemampuan individu. Ada pendidikan, keluarga, lingkungan, kesempatan, serta keberuntungan yang ikut membentuk perjalanan seseorang. Pemikiran ini bukan berarti prestasi menjadi tidak penting. Justru sebaliknya, kalau masyarakat ingin menghargai prestasi, maka kesempatan untuk menunjukkan prestasi juga harus tersedia secara lebih adil. Orang boleh berbeda hasil karena kemampuan dan kerja kerasnya berbeda, tetapi masyarakat perlu memastikan bahwa pintu untuk berusaha tidak hanya terbuka bagi mereka yang sejak awal sudah mempunyai akses.
Masalah ordal menjadi lebih rumit karena praktiknya sering kali berada di wilayah abu-abu. Tidak semua orang yang memiliki hubungan dengan pejabat, pengusaha, pimpinan perusahaan, tokoh organisasi, atau orang berpengaruh pasti mendapatkan sesuatu secara tidak wajar. Sebaliknya, tidak semua keputusan yang melibatkan orang yang dikenal secara pribadi otomatis merupakan bentuk nepotisme. Karena itu, menilai sebuah proses hanya berdasarkan siapa mengenal siapa juga tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah melihat mekanismenya: apa persyaratannya, siapa yang menilai, bagaimana kriterianya diterapkan, apakah peserta memperoleh kesempatan yang sebanding, dan apakah keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam dunia kerja, misalnya, perusahaan boleh saja menggunakan rekomendasi pegawai untuk mencari calon pekerja. Namun setelah rekomendasi itu diberikan, kemampuan calon tetap perlu diuji. Begitu pula dalam organisasi atau pemerintahan. Hubungan personal tidak semestinya menggantikan prosedur dan kompetensi. Semakin besar kewenangan yang digunakan dan semakin besar kepentingan yang dipertaruhkan, semakin penting pula proses pengambilan keputusan dapat dijelaskan. Transparansi bukan sekadar mengumumkan hasil, tetapi juga memastikan bahwa orang memahami dasar dari sebuah keputusan.
Persoalan menjadi semakin sensitif karena generasi muda hidup dalam ruang informasi yang jauh lebih terbuka. Cerita tentang seseorang yang berhasil karena kemampuan dapat menjadi inspirasi. Sebaliknya, cerita tentang seseorang yang dianggap mendapatkan kesempatan karena kedekatan dapat menyebar dengan cepat dan menjadi sumber sinisme. Tentu tidak semua cerita yang beredar di media sosial benar. Persepsi juga tidak boleh menggantikan fakta. Namun persepsi publik tetap penting diperhatikan karena kepercayaan terhadap sebuah sistem tidak hanya dibentuk oleh aturan tertulis, tetapi juga oleh pengalaman yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang anak muda yang gagal dalam seleksi mungkin akan menerima keputusan jika ia tahu mengapa dirinya tidak terpilih. Ia bisa memperbaiki kemampuan, menambah pengalaman, memperluas pengetahuan, lalu mencoba lagi. Tetapi apabila ia merasa bahwa sejak awal tidak memiliki peluang karena tidak mempunyai akses tertentu, kegagalan itu menghasilkan pesan yang berbeda. Bukan “saya harus belajar lebih banyak”, melainkan “ternyata kemampuan saya tidak cukup untuk membuka pintu.” Kalau pesan seperti ini terus berulang, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada kekecewaan seorang individu. Orang bisa kehilangan kepercayaan terhadap proses, lalu memilih membangun koneksi bukan untuk memperluas kemampuan, tetapi semata-mata agar tidak kalah akses.
Di sinilah lembaga pemerintah, perusahaan, organisasi, lembaga pendidikan, maupun siapa pun yang mempunyai kewenangan memberikan kesempatan perlu menyadari bahwa setiap keputusan memiliki efek pendidikan bagi masyarakat. Kalau sebuah lembaga konsisten menggunakan kriteria yang jelas, masyarakat belajar bahwa kompetensi mempunyai arti. Kalau prosesnya transparan, masyarakat belajar bahwa aturan dapat dipercaya. Sebaliknya, kalau proses hanya terlihat rapi di atas kertas sementara keputusan sebenarnya sulit dijelaskan, masyarakat akan belajar hal yang berbeda. Mereka akan belajar bahwa kemampuan memang penting, tetapi akses mungkin lebih menentukan.
Koneksi dan kompetensi sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Seseorang boleh mempunyai jaringan luas. Bahkan jaringan merupakan modal sosial yang penting. Masalahnya adalah untuk apa jaringan tersebut digunakan. Kalau koneksi membantu seseorang mendapatkan informasi, mempertemukan dengan peluang, membuka ruang kolaborasi, atau memperkenalkan hasil kerja, itu merupakan bagian wajar dari kehidupan sosial. Tetapi kalau koneksi dipakai untuk menyingkirkan orang yang lebih memenuhi persyaratan atau melewati mekanisme yang seharusnya berlaku bagi semua peserta, persoalannya menjadi berbeda.
Meritokrasi juga tidak boleh dipersempit menjadi perlombaan siapa yang memiliki nilai paling tinggi atau sertifikat paling banyak. Kemampuan seseorang bisa terlihat dari pengalaman, kreativitas, kepemimpinan, integritas, kemampuan bekerja sama, tanggung jawab, dan hasil nyata yang pernah dikerjakan. Yang penting adalah ukuran tersebut dapat dijelaskan dan diterapkan secara wajar. Orang yang tidak terpilih mungkin tetap kecewa, tetapi setidaknya ia tahu apa yang harus diperbaiki. Dalam sebuah sistem yang sehat, kekalahan seharusnya membuat seseorang ingin menjadi lebih baik, bukan membuatnya merasa tidak perlu mencoba lagi.
Ujungnya, persoalan ordal bukan hanya persoalan anak muda dan pekerjaan. Ini menyangkut hubungan yang lebih mendasar antara usaha, kemampuan, kesempatan, dan kepercayaan. Masyarakat tidak membutuhkan sistem yang menjamin semua orang menang. Itu mustahil. Yang dibutuhkan adalah sistem yang membuat orang percaya bahwa mereka masih mempunyai alasan untuk mencoba. Kalau kalah karena kurang mampu, mereka bisa belajar. Kalau belum berhasil, mereka bisa memperbaiki diri. Kalau kesempatan belum datang, mereka bisa terus berusaha. Tetapi jangan sampai seseorang berhenti bertanding hanya karena merasa pertandingan tersebut sudah dimenangkan sebelum permainan dimulai.
Kita tidak mungkin menghapus koneksi dari kehidupan sosial. Manusia memang hidup melalui hubungan dengan manusia lain. Anak seorang tokoh tetap boleh berhasil. Anak seorang pengusaha juga boleh memperoleh posisi penting. Orang yang mempunyai jaringan luas juga berhak menggunakan jaringan tersebut secara wajar. Tidak ada yang salah dengan itu selama kemampuan dan proses tetap mendapatkan tempat. Pada saat yang sama, anak dari keluarga sederhana, orang yang tidak mempunyai kenalan pejabat, pekerja yang memulai dari bawah, atau anak muda yang hanya mengandalkan kemampuan sendiri juga harus mempunyai ruang untuk membuktikan bahwa dirinya layak.
Anak muda tidak takut kompetisi. Mereka sudah terbiasa dengan persaingan dan tahu bahwa tidak semua pertandingan berakhir dengan kemenangan. Yang mereka pertanyakan adalah apakah pertandingan itu benar-benar dimulai dari garis yang sama. Karena itu, pekerjaan rumah kita bukan menghapus koneksi, melainkan memastikan koneksi tidak menjadi tiket untuk melewati kompetensi. Sebab negara, lembaga, dan masyarakat yang sehat bukanlah mereka yang menjanjikan semua orang pasti menang, melainkan mereka yang mampu menjaga keyakinan bahwa siapa pun masih mempunyai kesempatan untuk bertanding secara layak. Dan selama keyakinan itu masih ada, kerja keras belum kehilangan maknanya.

